Jepang 2017: Jakarta – Kuala Lumpur – Tokyo (Day 1)

on

Dream comes true….!! Mungkin itulah moto yang tepat buat saya yang seorang gamers dan pencinta anime sejak kecil. Hampir semua game playstation buatan Jepang seperti final fantasy, Tekken, front mission, winning eleven, dan lain-lain adalah termasuk sarana hiburan utama selepas pulang sekolah. Dan aneka macam komik seperti detektif conan, naruto dan doraemon adalah buku pengantar tidur saya…..  Belum lagi kalau ditambah film anime macam pokemon, doraemon, gundam, saint seiya dan lain-lain yang menjadi tontonan wajib saya. Karenanya tidak heran sejak kecil selalu berharap suatu saat bisa melihat negeri Jepang ini.

Dan seiring berjalanannya waktu, seorang anak kecil yang memiliki mimpi pergi ke Jepang ini tumbuh menjadi dewasa dan bisa memiliki penghasilan sendiri….. hingga akhirnya alhamdulillah bisa menabung dan mengajak keluarga saya liburan ke Jepang di pertengahan bulan April 2017, tepat saat musim sakura. Tidak mudah untuk mempersiapkan perjalanan ke Jepang kali ini mengingat biaya yang extra luar biasa mahalnya…. butuh berbagai trik agar bisa meraihnya….. detailnya baca blog saya sebelumnya disini yah…..

Air Asia lovers

Sebagai pemburu kursi gratisan Air Asia, tentu saja perjalanan ke Jepang harus transit dulu di Kuala Lumpur, Malaysia. Berhubung sulitnya mecari 5 kursi promo, maka terpaksa trip kali ini terpisah untuk perjalanan dari Jakarta ke Kuala Lumpurnya, tapi nanti dari Kuala Lumpur menuju ke Jepangnya akan berangkat bareng. Saya dan si sulung Alisya berangkat duluan untuk penerbangan ke KL pagi jam 06.25, lalu rombongan berikutnya istri, Raffa dan Aira berangkat jam 08.20

me & my traveling mate

Pagi-pagi buta jam 1/2 4, saya dan Alisya pun bangun….. meski diluar masih sangat gelap, udara dingin, mata masih 5 watt dan perut lapar, tapi dengan kebulatan tekad liburan kali ini menjadi penyemangat kami. Sehabis mandi pagi dan shalat subuh, taksi online uber kami datang tepat jam 1/2 5. Sempet deg2an juga memesan taksi uber di pagi buta hari minggu, tapi ternyata di uber ada fitur schedule order, sehingga bisa pesan sesuai permintaan. Thanks to Uber…..

Fitur scheduled order Uber

Enaknya berangkat subuh, jalanan super lenggang…. sehingga perjalanan ke bandara tidak lebih dari 30 menit. Jika dulu Air Asia berada di terminal 3, sekarang sudah pindah ke terminal 2F. Alhasil jika dulu proses imigrasi di terminal 3 sangat cepat, maka sekarang di terminal 2F menjadi panjang karena berbarengan dengan maskapai lain. Seperti perjalanan semi backpackers yang sudah-sudah, saya membawa 1 buah koper big size + 2 bag pack + 1 back pack kosong yang dimasukkan ke dalam koper untuk persiapan membawa oleh-oleh dari Jepang…. Semua demi menyiasati kapasitas bagasi 30 kg (berangkat) & 25 kg (pulang) yang kami pesan. Sengaja untuk berangkat kami pesan extra 5 kg bagasi karena membawa bahan baku makanan + mini travel rice cooker dari Indonesia. Karena sebagaimana diketahui, living cost di Jepang sangat tinggi dan juga makanan halalnya juga tergolong jarang. Karenanya demi makanan halal & penghematan budget makan, kami membawa beras 2 kg, makanan instant (kari ayam, opor ayam, semur daging, dll) dari indofood, abon, rendang & krim sup. Selain itu juga sengaja kami memesan apartemen selama liburan via airbnb agar bisa mendapatkan mesin cuci & kitchen set. Baca blog saya yah tentang airbnb disini…..

touchdown in KLIA-2

Alhamdulillah perjalanan dari jakarta menuju Kuala Lumpur lancar. Setibanya di KLIA 2, saya dan Alisya menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan sekitar bandara saja sembari menunggu istri tiba jam 11.30. KLIA-2 merupakan bandara hub exclusive yang khusus untuk melayani semua penerbangan Air Asia, sementara KLIA-1 disediakan untuk maskapai selain Air Asia. Bandara KLIA-2 ini jauh lebih nyaman dibandingkan bandara KLLCT dulu yang lebih mirip gudang daripada bandara. Ada banyak fasilitas yang disediakan disini, mulai dari shopping arcade, musholla, food court, hotel transit sama-sama express, movie lounge, sport lounge, kids mini playground, toilet & shower room.

Lobby lounge hotel sama-sama express

Sedari awal saya dan istri sudah menetapkan meeting point di KLIA-2 adalah depan lobby hotel sama-sama express agar lebih mudah pencariannya. Hotel ini merupakan satu-satunya hotel transit yang berada didalam bandara, tanpa harus keluar imigrasi. Lokasinya sendiri berada di area pertukaran antara bangsa lantai 2 dekat food court, sehingga sangat mudah menemukannya. Saya sangat merekomendasikan meeting point ini jika teman-teman ada yang berpergian secara terpisah ke KLIA-2.

Sport lounge

Saat berjalan-jalan, saya penasaran dengan papan petunjuk sport lounge di bandara ini…. Tapi setibanya disana, ternyata lounge ini tidak lebih dari movie lounge dengan wallpaper sport di dindingnya… haha2….  Tapi enaknya disini suasananya sepi, sehingga cocok buat tidur selonjoran di karpetnya.

shopping arcade KLIA-2

Candy store di KLIA-2

Kalau shopping arcade-nya sih banyak diisi oleh toko permen dan cokelat. Tidak heran karena Malaysia termasuk negara penghasil cokelat.

Toilet + shower room + mushola di sisi kanan kiri area pertukaran antar bangsa lantai 1

Musholla tersedia hampir di setiap lantai. Dan shower room gratis tersedia di toilet utama sekitar area screening pelepasan antara bangsa lantai 1.

Area central pertukaran antar bangsa lantai 1, KLIA-2

Saat jam sudah menunjukkan pukul 12 siang, kok istri belum juga menampakkan batang hidungnya….. hati mulai cemas dan jantung mulai deg-degan. Tanya bagian informasi, katanya pesawat sedikit mengalami keterlambatan dan baru saja mendarat jam 11.50, sehingga butuh waktu kurang lebih 30 menitan untuk tiba di tengah balai pertukaran antara bangsa. Dengan hati sedikit tenang, kamipun mulai duduk manis lagi di jejeran bangku depan hotel sama-sama express. Tapi menunggu hampir sejam kok masih belum nongol juga. Telpon jelas tidak aktif karena tidak punya sim card malaysia dan roaming international tidak diaktifkan. Mau kirim whats ap, kelihatannya hp istri belum mengaktifkan fasilitas free wifi bandara. Sayapun kembali mulai cemas dan bolak balik naik turun ke area screening pelepasan antar bangsa lantai 1 karena jam 1/2 3 sore nanti sudah harus boarding ke penerbangan ke Tokyo.

Setelah penantian panjang, akhirnya Alhamdulillah 15 menit kemudian barulah istri mulai nongol. Ternyata doi tiba di area ketibaan zona L di lantai 2. Sementara saya tiba di zona M dilantai 1. Selain itu juga dia sempat nyasar, maklum pertama kali jalan sendirian di KLIA-2, biasanya memang selalu bersama saya. Setelah reunian, kamipun bergegas ke musholla untuk shalat zuhur & jamak ashar, lalu lanjut ke area boarding zona M.

Family reunion di KLIA-2

Pesawat dari KL ke Tokyo menggunakan pesawat Airbus yang lebih besar yang dikelola oleh Air Asia X. Kursinya sih kurang lebih sama saja, tapi sedikit lebih lega. Namun sayangnya tidak ada entertainment sedikitpun. Sehingga penerbangan selama 7 jam lebih terasa membosankan bagi anak-anak. Seandainya tersedia fasilitas rokki wifi on flight tentu akan lebih menyenangkan. Untungnya kami memesan makan malam di pesawat, jadi lumayanlah menjadi sedikit hiburan buat killing time….. 

Dinner in the sky

Jam 1/2 11 malam, pesawat kami akhirnya mendarat di Haneda Tokyo International Airport…. Yayyyyyy!!!!  Turun dari pesawat sudah mulai terlihat semua papan petunjuk berbahasa kanji jepang. Langit diluar cerah dan udara dingiiiinnnn euyy…… cek accuweather, suhu di tokyo saat itu menunjukkan 10 derajat celcius. Untunglah heater di bandara berfungsi dengan baik, jadi badan masih terasa hangat. Saat berjalan menuju area imigrasi, kami sih berjalan sangat santai, tapi rata-rata penumpang lain pada berjalan sangat cepat. Mungkin mereka terburu-buru karena mengejar kereta bandara yang terakhir beroperasi jam 12 malam.

Finally arrived in Tokyo

Setibanya di area imigrasi, ternyata antriannya sudah mengular naga panjangnya……. Butuh waktu sejam lamanya untuk menembus area imigrasi ini. Meski dokumen lengkap, entah kenapa hati selalu deg2an jika berhadapan dengan petugas imigrasi. Selain itu juga cemas karena menggunakan airbnb sebagai alamat tinggal sementara di formulir arrival card-nya. Tapi untunglah dapat petugas imigrasi perempuan yang ramah, tanpa banyak tanya langsung memberikan stempel di passport dan berkata “welcome to Japan”…… Yayyyyyyy…..!!!  Saya pun langsung semangat dengan membalas “Arigato Gosaimatsu….” 

Setelah melewati imigrasi dengan sukses, kecemasan berlanjut karena kami tidak menemukan koper kami di conveyor belt-nya. Mungkin karena terlalu lama saat proses imigrasinya sehingga kopernya sudah bolak balik disana tanpa ada yang mengambil. Dari ujung ke ujung conveyor belt-nya, tidak ada satupun koper kami…. Sayapun menanyakan kepada petugas bandara, ternyata kopernya sudah disimpan di area pojok. Fiuuuhhhh…..

Kecemasan berikutnya adalah saat mengisi dokumen custom clearance. Kami kembali deg2an karena membawa bahan baku makanan dari Indonesia. Sempat baca di group backpackers international di facebook, ada penumpang yang dicegat petugas custom bandara karena membawa bahan baku makanan di korea selatan. Tapi setelah melewati proses screening, alhamdulillah koper kami bisa lewat. Ternyata Jepang tidak begitu strict dalam urusan ini. Mereka mempersilakan turis muslim yang datang ke negaranya membawa makanan sendiri.

And finally, we were officially touchdown in Japan….!!!!  Dan tahap berikutnya adalah berburu jejeran bangku bandara yang nyaman!! 

Jejeran bangku panjang di arrival hall airport Haneda

Sedari awal memang sudah diniatin sih mau tidur di bandara mengingat kereta dari bandara ke tengah kota sudah tidak ada yang beroperasi lagi selepas jam 12 tengah malam. Selewat itu ada taksi dan Airport Bus yang harga tiketnya hampir dua kali lipat dari harga siang hari karena ada extra night surcharge. Jadi menginap di airport memang satu-satunya cara ekonomis untuk melewatkan malam. Sebenarnya ada sih hotel transit di bandara ini, seperti Haneda Excel Hotel Tokyu (Domestic Terminal 2, regular hotel) atau First Cabin Tokyo Haneda (Domestic Terminal 1, capsule hotel). Namun melihat harga numpang tidur semalamnya yang mahal membuat saya mundur teratur….

Dan bangku yang beruntung terpilih oleh kami adalah yang berada di depan area departure hall domestik, yang berdekatan dengan toilet, charging station dan mini market. Tadinya sempat khawatir anak-anak akan sulit tidur, tapi ternyata bobonya pada pulas semua….. haha2…..  Buat yang mau meninggalkan hp di charging station, jangan khawatir, negara Jepang sangatlah aman. Disini tidak akan ada yang menyentuh barang-barang selain miliknya. Security juga wira wiri menjaga orang-orang yang pada tertidur dengan barang bawaan masing-masing tanpa usil membangunkan. Cuman satu yang mengganggu tidur kami, yakni eskalator yang terus ngoceh tanpa henti memberikan peringatan bagi orang yang hendak naik.

Our first hotel in Tokyo

Setelah menemukan bangku untuk tidur keluarga dan menaruh barang-barang bawaan, saya bergegas ke tourist information center untuk membeli tokyo 1 day pass seharga 1590 yen untuk dewasa & 800 yen untuk anak. Dengan pass ini kita bebas menaiki kereta lokal JR, tokyo metro dan toei subway line dalam 1 hari….. Pertimbangan membeli pass ini adalah agar bisa menaiki kereta tokyo loop line yang dioperasikan oleh JR, sehingga dari bandara hanya butuh 1 kali transit. Namun sayangnya ternyata kantor JR East sudah tutup dan baru buka esoknya jam 8 pagi. Karena rencana hendak pergi besok pagi dengan kereta pertama dari bandara ke shinjuku, maka terpaksa bongkar rencana dengan membeli tokyo subway 24 hrs ticket seharga 800 yen untuk dewasa & 400 yen untuk anak, yang mencakup pemakaian bebas tokyo metro dan subway selama 1 hari, kecuali kereta lokal JR. Gak terlalu berpengaruh sih ke itinerary besok, tapi hanya menjadi sedikit repot membawa koper karena harus 2x transit dari bandara ke stasiun Shinjuku. Detail mengenai tokyo 1 day pass bisa dilihat di website resminya disini. Sedangkan informasi detail mengenai tokyo metro & subway pass bisa dilihat di website resminya disini.

tokyo subway tiket

Setelah semua tiket sudah ditangan, sayapun bergegas kembali ke hotel transit kami dan istirahat untuk mencharge energi agar kuat menjelajahi kota tokyo keesokan harinya.

The city tour will start tomorrow, stay tuned yah….

6 Comments Add yours

  1. Neni Suhartini says:

    Saya mau tanya waktu bikin visa apakah wajib melampirkan bookingan hotel? Kalo yg di lampirkan berbeda dgn kenyataan kita nginap (rencana sy mau pakai airbnb jg) apakah akan bermasalah tidak? Saya pengen ke jepang tapi blm familiar dgn pengurusan visa. Terima kasih banyak info nya

    1. Akthuro says:

      Sebaiknya sih dilampirkan mbak, lengkap dengan ittenerary selama perjalanan disana. Sekarang ini Airbnb sudah dinyatakan legal kok sebagai alternatif penginapan di Jepang, jadi tidak ada masalah.
      Yang penting nanti saat komunikasi dengan host-nya, minta data nama, alamat & nomer telpon yang bisa dihubungi jikalau ada pemeriksaan imigrasi.
      Pengurusan Visa Jepang sih tidak serumit ke Eropa / Amerika, karena pada dasarnya Jepang dan Indonesia sudah saling kerjasama dalam hal pariwisata.
      Jika mbak sudah punya e-Passport lebih enak, tinggal urus sticker visa waiver secara gratis di kedutaan Jepang.
      Semoga membantu mbak… ^_^

  2. Rayung Wulan says:

    Hai mas… salam kenal.. sy skeluarga rencana jg mw ke jepang InsyaAllah awal april ini, smoga diberikan kemudahan dan kelancaran jg ya mas… dan kebetulan naek pesawat yg sama AA transit di KL, nah pas transit di KLIA2 nanti ga perlu urusan imigrasi kan ya? atau perlu imigrasi dan bla bla bla dulu? mohon petunjuknya… hehehee… trimakasih sebelumnya.

    1. Akthuro says:

      Halo mbak, salam kenal. Selama tidak keluar dari bandara sih tidak akan berususan dengan imigrasi. Jika beli tiket yang termasuk transit (JKT-KL-HND/NRT), maka nanti saat tiba di KLIA akan diarahkan ke change flight counter, bagasi juga sudah diurus air asia. Namun jika beli tiket terpisah (JKT-KL & KL-HND/NRT), maka kita terpaksa harus ambil bagasi dan keluar imigrasi dulu, lalu proses check in ulang di bandara KLIA untuk penerbangan berikutnya.

  3. Rayung Wulan says:

    terimakasih informasi sebelumnya mas… ada lagi yang ingin saya tanyakan masalah keluar imigrasi pas di Haneda lama ga mas urusannya? pesawat AA Haneda kan sampe jam 22.30, kira2 ngejar ga ya mas kalo mau naik kreta Keiku Kyuko Line yang terakhir?

    1. Akthuro says:

      Lumayan lama mbak, karena semua bandara Jepang termasuk yang tersibuk di Asia. Pengalaman saya kemarin baru selesai urusan imigrasi dan bagasi sekitar jam 12an malam. Semua kereta Jepang rata-rata sudah berhenti sekitar jam 1/2 12 malam, jadi kelihatannya cukup berat peluang mengejar kereta terakhir.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *