Jepang 2017: Shinjuku, Tsukiji, Okachimachi, Ueno, Kappabashi, Asakusa, Shibuya (Day 2)

Jika di malam hari suasana bandara cukup sepi, maka sekitar jam 5 pagi barulah aktivitas bandara mulai hidup kembali. Kamipun terbangun oleh suara hiruk pikuk para penumpang yang baru tiba di bandara Haneda dan hendak melakukan penerbangan domestik. Ada bagusnya juga sih memilih jajaran bangku dekat departure hall penerbangan domestik, jadi keramaiannya di pagi hari bisa menjadi alarm otomatis yang lebih efektif daripada alarm hp.

Tokyo Haneda International Airport

Sebetulnya ingin mencoba shalat subuh di mushola bandara, tapi sayangnya bangun kesiangan dan suasana bandara sudah mulai ramai, jadi agak malas mencari-cari lokasi mushola lagi, mengingat kami berencana berangkat pagi ke Shinjuku. Sembari mengumpulkan nyawa, kami berjalan ke toilet terdekat untuk cuci muka, sikat gigi dan berwudhu. Sebetulnya sih ingin mandi, tapi melihat shower room disini harus bayar 1000 yen untuk penggunaan kamar mandi selama 30 menit dan extra 500 yen per 15 menit jika melebihi waktu yang ditentukan, rasanya sayang sekali membuang-buang uang 120 ribu per orang hanya untuk mandi. Jadi ya sudahlah, hasrat untuk mandi terpaksa diredam dan memilih untuk mandi bebek saja di washtafel…. untungnya udara di tokyo cukup dingin, jadi gak terlalu berkeringat. Untuk urusan shalat, kebetulan disebelah toilet terdapat nursery room yang ruangannya cukup lega dan sepi, sehingga bisa dimanfaatkan untuk shalat subuh.

Shower room & toilet jepang yang canggih

Setelah sarapan roti breadtalk yang dibawa dari Jakarta, kamipun mulai bergegas ke stasiun keikyu line. Oh ya, sebelum berangkat ke stasiun, saya sempat mencoba toilet unik nan canggih disini. Jepang adalah satu-satunya negara pemilik toilet yang unik. Jika kloset duduk di Indonesia hanya memiliki 1 buah tombol flush, maka disini terdapat banyak tombol dengan beraneka macam fungsi, sepeti flush, semprotan kencang, semprotan ringan, pemanas, pengering pantat, pewangi, dan musik bernada suara alam. Mungkin orang jepang senang berkhayal BAB di alam terbuka…..haha2  Di Sega Akihabara, bahkan didalam toiletnya ada semacam LCD touchsreen, jadi bisa customernya bisa “bongkar muatan” sembari main game…..

2 kereta bandara: Tokyo monorail & Keikyu line

Ada 2 alternatif kereta dari bandara Haneda ke tengah kota, yakni  dengan tokyo metro line ke stasiun hamamatsucho dan keikyu line ke stasiun Sengakuji. Tadinya seandainya semalam saya berhasil membeli tokyo 1 day pass yang bisa menaiki berbagai jenis kereta JR & non-JR, maka dari bandara ke stasiun Shinjuku hanya perlu 1 kali transit, yakni naik tokyo monorail dari bandara ke stasiun hamamatsucho, lalu ganti kereta lokal yamanote line ke stasiun Shinjuku. Namun berhubung kantor JR baru buka hari ini agak siang, maka dengan kartu tokyo subway 1 day tiket yang kami miliki membuat kami jadi harus 2x transit, yakni naik keikyu line dari bandara ke stasiun Sengakuji, lalu ganti subway ke stasiun Daimon, dan berganti lagi dengan subway Oedo line ke stasiun Shinjuku. Dengan kartu pass ini membuat saya tidak bisa memanfaatkan kereta JR dalam perjalanan hari ini, sehingga seharian ya terpaksa hanya menggunakan tokyo metro & subway toei line. Lebih detailnya bisa dilihat perbedaan rute kereta JR & non-JR dibawah ini.

Tokyo Metro & Toei Subway line
JR East map

Gimana? Pusing kan membaca peta kereta diatas?  Sama….. saya juga begitu pada awalnya. Tapi setelah hampir seminggu berada di Tokyo juga lama-lama terbiasa. Naik turun kereta subway lebih mudah daripada kereta JR, karena jalurnya lebih jelas dengan simbol-simbolnya. Sementara JR lebih mengandalkan papan petunjuk tujuan dan warna kereta. Stasiun kereta subway juga lebih kecil dan mudah karena hanya ada 2 lane di tiap jalurnya, jadi mudah mencarinya. Sementara stasiun JR rata-rata berukuran besar, dan tiap tujuan punya lane masing-masing. Selain perbedaan diatas, yang perlu pengamatan extra adalah membedakan jenis kereta lokal, rapid, limited express dan express. Rute akhir tujuan keretanya pada tiap jenis kereta ini adalah biasanya sama, namun yang membedakan adalah stasiun keberhentiannya. Kereta lokal pasti berhenti di tiap stasiun, sementara kereta selain lokal punya titik keberhentian masing-masing. Jadi rajin-rajinlah lihat papan petunjuk di peron dan bertanya kepada orang sekitar agar tidak nyasar.

Rute perjalanan kereta dari bandara ke shinjuku

Untuk menaiki keikyu express bandara, saya harus membeli tiket terpisah di mesinnya seharga 410 yen untuk dewasa & 205 yen untuk anak2 karena tidak di cover oleh tokyo subway 1 day pass kami. Selama di Jepang, hampir semua pemesanan tiket dilakukan dengan mesin ticketing, bahkan termasuk memesan makanan, minuman, payung, dan locker. Kita gak perlu khawatir memasukkan uang dengan nominal besar karena semua pasti ada kembaliannya. Tinggal pilih menu bahasa inggris, pilih stasiun yang dituju, lalu pilih jumlah penumpang dewasa & anaknya, lalu masukkan uang dan beres semuanya.

Japan Train Ride Experience

Kesan pertama naik kereta subway di Jepang, serasa naik KRL commuter line Jakarta….. Hanya saja kecepatannya lebih kencang.  Secara fisik sih hampir sama, bedanya hanya di atas pintu terdapat LCD yang menunjukkan jenis kereta dan rute tujuannya. Selain itu jika di KRL commuter line rata-rata penumpangnya berisik karena pada ngobrol, maka kereta Jepang suasananya sangat sunyi. Semua pada sibuk dengan hp masing-masing, dan jikalau ada yang sedang ngobrol, mereka berbicara dengan nada yang rendah.

Aneka ukuran & tarif loker Jepang

Setelah 2x transit gonta ganti kereta sembari geret-geret koper besar yang berat, akhirnya tiba juga di stasiun besar Shinjuku. Setelah keluar dari stasiun oedo line, saya langsung mencari loker besar untuk menaruh koper kami. Cara menggunakan lokernya sangat mudah, yakni masukkan barang ke loker, memasukkan koin sebanyak tarifnya, lalu putar dan tarik keluar kuncinya. Tarif loker besar di stasiun ini adalah 600 yen, cukup mahal memang. Sengaja menitip koper di stasiun ini karena apartemen yang saya booking via airbnb berada di area Shinjuku, namun belum bisa cek in karena memang rata-rata hotel / apartemen di jepang itu jam cek in adalah jam 3 sore dan cek out jam 10 siang. Rencana hari ini adalah city tour keliling tokyo dengan menggunakan tokyo subway 1 day pass yang sama miliki. Di Jepang sendiri tersedia loker ukuran kecil, sedang dan besar dimana-mana, dan bahkan ada pajaknya. Mungkin karena kebiasaan orang jepang yang terbiasa menaruh barang bawaannya sementara saat berpergian untuk sekedar makan siang atau lainnya.

Setelah koper sudah aman di loker, saya pun bergegas ke JR East travel service di stasiun ini untuk menukarkan exchange order JR Pass yang telah saya beli sebelumnya di Jakarta, sementara istri dan anak-anak mencari seven eleven terdekat untuk sarapan onigiri. Lokasi penukaran JR Pass ini berada diseberang stasiun Shinjuku, atau 1 area gedung dengan terminal bis Shinjuku. Sembari berlari, saya berharap dapat antrian pertama karena waktu masih sangat pagi. Namun lagi-lagi kecele karena antrian sudah cukup panjang padahal jam masih menunjukkan jam 1/2 8 pagi. Begitu masuk kantor langsung disambut petugas perempuan yang ramah menyambut semua tamu yang datang dengan bahasa inggris yang cukup fasih. Setelah menjelaskan tujuan saya menukar JR Pass, langsung dipersilakan mengisi formulir dan masuk antrian. 30 menit kemudian, giliran sayapun tiba. Saya memberikan exchange order JR Pass dari Jakarta dan passport, selain itu juga membeli kartu SUICA disini untuk 2 dewasa & 2 anak. Meski sudah punya JR Pass, namun kartu SUICA tetap diperlukan untuk melengkapi perjalanan, karena tidak semua perjalanan menggunakan kereta. Kartu SUICA adalah kartu e-money terbitan JR East yang bisa digunakan untuk berbagai macam kebutuhan selama di Jepang, semisal untuk bayar naik bis / kereta JR atau non-JR, beli minuman di vending machine, sewa locker, belanja di seven eleven, dan lain sebagainya. Sehingga sangat praktis dan tidak perlu repot membawa-bawa koin kemana-mana. Sebagaimana diketahui, rata-rata transaksi di  jepang rata-rata menggunakan koin. Bagi orang Indonesia tentu tidak terbiasa membawa koin receh dalam jumlah besar kemana-mana karena berat dan terasa tidak praktis. Karenanya kehadiran kartu suica yang hanya bisa dibeli di kantor JR ini sangatlah membantu. Selain Suica, ada juga kartu pasmo yang bisa dibeli diseluruh subway di Tokyo. Kalau di Osaka, tersedia kartu ICOCA terbitan JR West. Detail informasi mengenai kartu SUICA bisa dilihat disini, kartu PASMO disini dan kartu ICOCA disini. Seluruh jenis kartu ini bisa direfund deposit 500 yen-nya, tapi kalau SUICA & PASMO hanya bisa ditukar di Tokyo, sementara kalau kartu ICOCA hanya bisa ditukar di OSAKA.

Setelah urusan koper, JR Pass & kartu SUICA dan perut sudah beres, kami mulai city tour hari dengan menyesuaikan tokyo metro & subway 1 day pass yang kami miliki.

Shinjuku -> Tsukiji market -> Okachimachi -> Ueno Park -> Kappabashi -> Asakusa -> Shibuya -> Shinjuku

1. Tsukiji market, 09.00 AM

st. Tsukiji-sisho -> Inner market -> Pasar sayur, buah & restoran -> outer market -> st. Tsukiji

City tour hari ini dimulai dari Tsukiji market yang disarankan datang di pagi hari karena masih banyak ikan yang bisa dilihat. Tsukiji market sebenarnya merupakan pasar ikan, buah dan sayuran terbesar di tokyo. Namun karena setiap harinya menampung lebih dari 2000 Ton ikan, maka pasar ini menjadi terkenal sebagai pasar ikan terbesar di dunia. Selain itu juga pasar ini katanya terkenal sebagai pasar ikan yang bersih. Untuk menuju ke tempat ini, kami naik subway oedo line dari stasiun Shinjuku ke stasiun Tsukijisho. Keluar stasiun tinggal berjalan kaki 5 menit ke arah kiri stasiun. Tsukiji market terbagi menjadi 2 area, yakni inner market & outer market.

Inner market, area penjualan dan pelelangan ikan

Saya menjelahi mulai dari inner market, dimana merupakan area penjualan dan pelelangan aneka macam jenis hewan laut segar. Ada begitu banyak jenis ikan dan hewan laut lainnya yang belum pernah saya lihat sebelumnya dari ukuran kecil hingga ukuran jumbo, seperti contohnya ikan tuna yang segede manusia. Disini anak-anak sampai kagum melihat gurita berukuran jumbo dan king crab. Meski bersih, tapi bau amisnya tetap terasa….. Ya namanya juga pasar ikan sih….. 

Pasar buah dan sayur Tsukiji

Selanjutnya kami menuju ke pasar sayur dan buah yang berada diseberang area penjualan dan pelelangan ikan. Selain sayur mayur dan buah, disini juga dijual aneka bumbu dan perlengkapan masak. Namun sejauh mata memandang, kayanya lebih banyak turis yang cuci mata disini deh daripada warga Jepang yang berbelanja…..

Aneka Seafood Restaurant

Area ini digabung dengan restoran seafood dan sushi segar yang disediakan untuk para pemburu kuliner sushi dan sashimi. Rata-rata restorannya berukuran kecil, jadi bersiaplah untuk antri jika hendak makan disana. Sempat sih berniat untuk nyicip sushi disini, tapi melihat harganya yang mahal sukses membuat saya mundur teratur…..

Outer market

Puas melihat-lihat ikan segar, kami menyusuri jalan di sebelah tsukiji shrine menuju ke Outer market. Area ini merupakan shopping street dimana terdapat beberapa blok toko-toko grosir dan eceran yang menjual alat-alat dapur Jepang, perlengkapan restoran, bahan makanan, dan makanan seafood. Suasana juga lebih santai, meski tetap padat. Selain pernak pernik dapur, ada juga aneka macam jajanan olahan seafood. Saya lebih memilih jajan disini daripada di restoran inner market yang harganya gak ramah dikantong…..  Sebelum berkunjung sebaiknya cek kalender operasional Tsukiji di website ini.

2. ISHOMA (Istirahat, Shalat dan Makan) di Okachimachi, 11.15 AM

Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul 11 siang, kaki sudah cukup pegal dan perut sudah mulai meraung-raung karena kalori yang telah banyak terbakar.Kamipun berencana makan ramen berkuah kaldu ayam di restoran Ayam-Ya sekaligus shalat zuhur. Restoran Ayam-Ya merupakan restoran ramen halal yang populer di Kyoto. Kebetulan saat saya mereview perjalanan saya kemarin di bandara menemukan bahwa restoran ini buka cabang di daerah Okachimachi dan berdekatan dengan mesjid As-Salam. Tanpa banyak berpikir langsung deh dimasukkan ke dalam itinerary wajib hari ini.

Kuliner Ramen halal di restoran Ayam-Ya

Untuk menuju ke lokasi ini, kami naik Tokyo Metro Hibiya line dari st. Tsukiji ke st. Naka-Okachimachi. Keluar stasiun tinggal berjalan kaki 5 menit ke restorannya. Begitu masuk, lansung disambut pegawai restoran berhijab asal Malaysia yang ramah. Beliau mempersilakan memesan menu makanan melalui vending machine didepan pintu. Harga makanan disini rata-rata 700 – 1000 yen / porsi. Karena kami berlima, saya pun memesan 4 porsi ramen…. Ternyata seporsi ramen ukuran sedang saja itu besar sekali isinya. haha2….   Alisya, Raffa & Aira hanya menghabiskan 1 mangkok, sehingga sisa makanan terpaksalah masuk ke perut ayah bundanya yang sampai membulat. Meski sudah sering mencoba ramen di Indonesia, ternyata ramen di negeri aslinya itu lebih enak lho…..  Untuk minuman air putih disediakan gratis, langsung deh kita refil botol minuman.

taman okachimachi

Alhamdulillah perut kenyang, sekarang saatnya menunaikan ibadah shalat zuhur. Kebetulan didekat sini ada mesjid Assalaam yang hanya berjarak 50 meter saja. Kamipun melangkahkan kaki kesana.Tapi sebelumnya mampir dulu di taman Okachimachi gara-gara melihat pohon sakura bermekaran….. wajib dong hukumnya ber seflie ria disini…..

Mesjid Assalaam

Seperti di Cina, mesjid di Jepang rata-rata berbentuk seperti ruko. Mesjidnya sangat bersih, toiletnya juga canggih dan disediakan sabun di area wudhu-nya. Sabun ini merupakan hal sederhana tapi sangat kami butuhkan….maklum 2 hari belum mandi membuat kaki menjadi bau bantar gerbang….. hehe2…..  Setelah selesai berwudhu dan menunaikan “kewajiban” yang lain, kami segera shalat di lantai 2 yang untuk jamaah wanita dan lantai 3 untuk jamaah pria. Saya benar-benar mengagumi mesjid ini, selain kebersihan yang patut diancungi jempol, fasilitasnya juga membuat jamaah menjadi nyaman.

3. Ueno Park, 13.00 AM

Selepas shalat, kamipun melanjutkan perjalanan ke Ueno park. Sebetulnya dekat sih dari sini, jalan kaki juga bisa…. tapi biar tidak capek, kami memilih naik kereta Tokyo metro hibiya line dari stasiun Naka-Okachimachi ke stasiun Ueno. Untuk menuju taman tinggal menyebrang stasiun dan langsung naik ke pintu masuk Ueno Park. Disisi atas tangga, mata kami langsung terkesima melihat keindahan pohon sakura yang sedang bermekaran diseluruh penjuru taman. Tadinya sempat khawatir apakah sempat melihat sakura mengingat di Jepang sedang terjadi perubahan musim dimana desember sudah mulai turun salju di Tokyo. Tapi Alhamdulillah diberikan rezeki oleh Allah SWT bisa melihat sakura secara langsung di bulan April.

Sakura Lovers

Tanpa buang-buang waktu, segera ambil kamera dan mulai berfoto ria disini. Mayoritas pohon sakura yang bermekaran disini berwarna putih ketimbang yang berwarna pink.

Hanami Sakura Festival

Di sepanjang jalan, warga Jepang asyik berpiknik bersama keluarga dan teman-temannya. Memang salah satu tradisi orang Jepang di musim semi adalah hanami festival. Setiap awal musim semi, warga Jepang diberi hari libur untuk menyambut musim semi dan menikmati sakura. Saya sangat iri melihatnya, setelah menikmati main salju sepanjang musim dingin kemarin, warga Jepang dimanjakan oleh keindahan musim semi dimana bunga sakura dan tulip dalam masa puncak2nya bermekaran. Udara yang begitu sejuk, taman yang begitu bersih dan pohon yang sangat rindang sungguh membuat hanyut saat menikmati taman ini. Apalagi jika bisa ikutan piknik bersama seluruh keluarga tercinta seperti mereka….. Sehingga tanpa terasa 2jam berlalu begitu cepat di taman ini. Sebetulnya selain taman, disini juga ada Ueno zoo, Nature & Science museum dan Tokyo National Museum. Tapi mengingat waktu yang terbatas, mungkin bisa dikunjungi jika ada rezeki ke Jepang berikutnya…..

4. Kappabashi Dori, 03.30PM

Setelah puas berleha-leha di Ueno park, kamipun kembali ke stasiun Ueno dan naik kereta tokyo metro Ginza line dari stasiun Ueno ke stasiun Tawaramachi. Tujuan kesini adalah melihat kappabashi dori yang terkenal dengan toko-toko grosir yang menjual perlengkapan serta pernak pernik makanan, dapur, restoran, replika makanan sampai seragam para chef di restoran di sepanjang jalan kurang lebih 1 kilometer.

Denkama Pottery Shop

Konon katanya hampir sebagian besar restoran di Jepang memesan perlengkapannya disini, sehingga area ini disebut juga “The World Largest Cookware Market”. Dari stasiun Tawaramachi tinggal berjalan lurus saja hingga tiba di persimpangan Kappabashi Dori yang ditandai oleh patung kepala chef berukuran raksasa yang terpasang di atap toko Denkama Pottery Shop, lalu belok kanan, toko2nya akan berada di sepanjang jalan ini. Di Jepang sendiri, seni miniatur makanan berbentuk 3 dimensi berkembang pesat, sehingga banyak restoran yang menampilkan replika makanan yang disajikan di depan tokonya untuk mempermudah customernya. Dan memang sih setiap kali melewati restoran dan melihat aneka macam bentuk replika makanan yang lucu dan unik sungguh menggugah selera makan dan membuat kami menjadi penasaran untuk mencicipi makanan di restoran tersebut.

5. Kuil Asakusa dan sungai Sumida, 04.30 PM

Melihat waktu yang sudah semakin sore, kamipun kembali ke stasiun tawaramachi dan melanjutkan perjalanan kereta tokyo Ginza line ke stasiun Asakusa untuk melihat kuil Asakusa yang selalu menjadi itinerary wajib bagi travelers ke Tokyo. Sebagai kuil tertua di Tokyo membuat kuil ini begitu tenar dan paling sering dikunjungi. Dan benar saja, begitu melangkahkan kaki keluar stasiun sudah langsung disambut dengan kerumunan wisatawan manca negara. Selain kuil, ditempat ini banyak terdapat hostel dan tempat makan, sehingga tidak heran area ini begitu crowded.

Heritage tour di Asakusa

Gerbang kuil ini ada dua, Kaminarimon Gate (Thunder Gate) yang berada di area terluar dan Hozomon Gate (Treasure House Gate). Kedua gerbang ini ditandai dengan lentera kertas berukuran raksasa yang dicat warna merah dan hitam melambangkan petir dan awan. Gerbang pertama yang dilewati dari stasiun adalah Kaminarimon gate, dimana para pecinta belanja akan dimanjakan dengan deretan kios sepanjang kurang lebih 200 meter di jalan Nakamise Street yang banyak berjualan souvenir, seperti Yukata, Kimono dan aneka kue tradisional Jepang. Di ujung jalan akan ditemui Hozomon Gate, dimana kita akan mulai memasuki area kuil Sensoji.

Asakusa, Nakamise Shopping street & Sensoji Temple

Selain kuil utama, di area komplek yang cukup luas ini terdapat taman-taman, perpustakaan dan Hall (rumah-rumah kecil) yang sebetulnya enak jika dinikmati pelan-pelan. Tapi melihat padatnya kerumunan turis dan juga mengingat hari yang sudah semakin senja membuat kami mengurungkan niat tersebut.

Menikmati Sakura di sepanjang Sumida disore hari

Puas menjelajahi area ini, kamipun melangkahkan kaki ke arah timur untuk melihat keindahan sungai Sumida. Setibanya disini langsung disuguhi pemandangan taman dengan pohon sakura bermekaran disepanjang sungai sumida…. Sungguh sangat indah…!!

Tokyo Sky Tree, Sumida River & Azumabashi Bridge

Dari sini kita bisa melihat jembatan Azumabashi yang sangat eye catching dengan warna merahnya menyebrangi sungai, dan juga Tokyo Sky tree yang merupakan gedung tertinggi di Tokyo. Bagi yang ingin menyusuri sungai sumida dengan kapal, bisa mencoba naik Tokyo cruise yang terdapat dibawah dermaga. Kapal ini menghubungkan Asakusa dengan Odaiba, jadi buat travelers yang memiliki itinerary Asakusa dan Odaiba dalam satu hari bisa mencoba Tokyo Cruise ini.

6. Hatchiko dan Shibuya Crossing, 06.30 PM

Menikmati keindahan sakura sungguh menghipnotis kami dan membuat lupa waktu, sehingga tanpa terasa matahari sudah mulai menghilang. Melihat jam sudah menunjukkan melewati jam 6 sore merupakan waktu yang tepat untuk melihat shibuya crossing. Tak mau membuang waktu, kamipun langsung balik ke stasiun asakusa dan naik kereta tokyo metro Ginza line ke stasiun Shibuya. Dan pilihan waktu kami sangat tepat, jam  1/2 7 merupakan waktu yang tepat melihat kerumunan warga jepang yang baru pulang kerja beserta para turis yang hendak menyebrang jalan. Shibuya crossing yang terletak persis didepan stasiun Shibuya ini merupakan jalanan simpang 5 yang besar dan populer dimana ratusan orang menyebrang disaat yang bersamaan. Terinspirasi oleh film “Fast & Furious edisi Tokyo drift” membuat saya penasaran melihatnya secara langsung.

Penasaran, kamipun ikutan berdiri bersama kerumunan warga yang menunggu lampu merah, kemudian ikutan menyebrang jalan secara cepat bersama ratusan orang saat lampu menyebrang jalan menjadi hijau. Bahkan sampai 3 kali bolak balik tanpa tujuan yang jelas, hanya sekedar merasakan sensansinya……Haha2…. Bagi yang ingin melihat best view shibuya crossing dari atas sembari minum kopi enak bisa mencoba starbucks. Tapi siap-siap saja mengantri yah…..

Puas bolak balik shibuya crossing, kami mampir ke patung hatchiko sebelum kembali ke stasiun Shibuya. Patung ini dibuat untuk menghormati anjing Hatchiko yang sangat setia menunggu majikannya pulang kerja setiap harinya di depan stasiun. Bahkan sampai majikannya meninggal pun anjing ini tetap setia menunggu. Untuk sekedar berfoto saja kita harus antri 5 menit menggu giliran karena saking banyaknya turis yang ingin berfoto bersama patung Hatchiko ini.

7. Shinjuku, 07.30 PM

Berhubung perut sudah mulai keroncongan, kami kembali ke Shibuya dan naik kereta JR Yamanote line ke stasiun Shinjuku. Jika ingin memaksimalkan kartu tokyo subway 1 day pass, sebetulnya dari stasiun Shibuya bisa naik kereta tokyo metro Fukutoshin line ke stasiun Shinjuku-Sachome. Namun lokasi stasiun subway Shinjuku-Sachome agak jauh dari stasiun Shinjuku, seinggu butuh extra jalan kaki. Mengingat kaki sudah gempor dan perut sudah gak bisa diajak kompromi, kami memilih naik kereta JR dengan memanfaatkan kartu SUICA.

Setibanya di stasiun, kami tidak langsung ambil koper, melainkan kulineran ramen di Menya Kaiji. Jika ramen di restoran Ayam-Ya menggunakan kaldu ayam, maka restoran Kaijin ini menggunakan kaldu ikan sebagai bahan dasarnya. Dari sisi ukuran udonnya, Kaijin lebih kecil daripada Ayam-Ya. Keduanya memiliki karakter unik dan berbeda, sehingga sangat direkomendasikan untuk dicoba keduanya. Harga seporsi ramen berkisar antara 800 – 1000 yen. Meskipun restoran ini tidak memiliki sertifikat halal, tapi mereka memiliki menu muslim friendly, yakni ramen seafood. Dari beberapa ramen yang saya coba selama di Jepang, menurut saya ramen ikan ini adalah yang terenak…..

Ramen Seafood enak di restoran Menya Kaijin

Untuk menuju ke restoran ini cukup gampang, tinggal jalan keluar menuju pintu “south east exit”. Setelah menyebrang, anda akan melihat papan simbol ikan di gedung saat turun tangga. Restoran ini berada dilantai 2. Karena ukuran restorannya yang kecil, jadi bersiaplah mengantri untuk makan.

Jalan menuju apartemen di malam hari

Setelah puas kulineran hari ini, kami mengambil koper dan mulai menyusuri jalan di area Shinjuku sesuai dengan petujuk menuju apartemen yang kami terima. Meski sudah larut malam, tapi Jepang memang terbukti negara yang sangat aman, jadi tidak khawatir berjalan di malam hari. Kami sudah membuktikannya karena setiap hari kami pulang selalu rata-rata jam 9 malam. Karena sebelum berangkat ke Jepang sudah melakukan site survey via google street view membuat saya lebih mudah menemukan apartemen yang telah saya booking sebelumnya via airbnb.

Locker apartemen

Yang menjadi deg-degan adalah saat membuka brankasnya…. Maklum belum pernah memakai brankas model kunci putar sebelumnya. Setelah putar sana puter sini, akhirnya berhasil membuka locker dan mengambil kuncinya. Kamar kami berada di lantai 3…. Untunglah ada lift yang membantu kami membawa koper keatas.

Kamar apartemennya berukuran kecil, tapi sangat bersih, nyaman, modern, dan banyak peralatan canggih didalamnya. Kami sangat suka tinggal disini, sungguh nyaman. Berhubung badan sudah capek banget, eksplorasi apartemennya besok aja deh…. yang penting air conditioner, water heater dan mesin cuci menyala. Akhirnya bisa mandi juga…..  Abis pada mandi langsung deh bobo pulas dengan nyaman…… Saya sendiri membuka itinerary dan mempelajari rute untuk esok hari….. enaknya kemana yah?? 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *