Jepang 2017: Meiji Shrine – Harajuku St.- Takeshita St.- Odaiba – Miraikan Museum – Osaka (Day 7)

Start the fresh morning day with Tulip flowers

Jika membicarakan keindahan negara Jepang seakan tidak ada habisnya, karena hampir tiap kota punya daya tarik tersendiri. Dengan berat hati, hari ini keluarga kami berencana meninggalkan Tokyo dan berangkat menuju Osaka, meskipun sebetulnya hati ini belum puas rasanya menjelajahi kota Tokyo. Tapi ya begitulah selalu dilemanya seorang turis, “it will always never been enough”.

Kereta Shinkanzen kami dari Tokyo menuju Osaka berangkat jam 5 sore, sehingga kami masih punya waktu setengah hari untuk menikmati hari terakhir di kota yang indah ini. Karena shinkanzen kami nanti akan berangkat dari stasiun Tokyo dan waktu yang tersedia sangat singkat, maka kami sengaja memilih jalan-jalan di Odaiba saja yang tidak membutuhkan banyak mobilitas. Di pulau buatan ini ada begitu banyak aktivitas menarik yang bisa dilakukan dalam jarak yang berdekatan.

Tokyo Station

Melihat kepadatan stasiun setiap pagi hari, rasanya agak-agak mission impossible jika saya dan istri berangkat menuju stasiun Tokyo dengan menenteng koper besar sembari menjaga 3 anak kami ditengah himpitan penumpang kereta yang penuh sesak. Jangankan ngurusin koper, bisa nafas aja susah jika penumpangnya sepadat itu. Karenanya saya memutuskan berangkat sendirian jam ½ 6 pagi ke stasiun Tokyo untuk menitipkan koper di loker stasiun, sehingga kami bisa agak leluasa berjalan-jalan tanpa kerepotan dengan urusan koper. Lokasi loker roomnya berada depan gerbang masuk shinkanzen, lalu turun 1 lantai dengan eskalator. Disana terdapat aneka macam loker dengan berbagai ukuran. Saya langsung mencari loker dengan ukuran besar sesuai dengan ukuran koper kami. Setelah urusan penitipan koper beres, saya pun segera kembali ke apartemen untuk menjemput istri dan anak-anak.

walking tour: Meiji shrine –> Harajuku street –> Takeshita street

Meiji Shrine

Melihat waktu yang masih dibawah jam 8 pagi, rasanya bisa nih menambah extra 1 tempat wisata lagi sebelum menuju Odaiba. Karenanya sehabis sarapan pagi, kami langsung cek out dari apartemen dan jalan kaki menuju st. Shinjuku untuk menuju ke st. Harajuku yang hanya berjarak 1 stasiun dengan st. Shinjuku. Prosedur cek out dari apartemennya sama mudahnya seperti standard airbnb saat cek in, semuanya dilakukan sendiri….. Kita tinggal memasukkan kunci kamar apartemen ke dalam locker, lalu putar kunci sesukanya dan locker akan otomatis mengunci sendiri, setelah itu langsung deh tinggal pergi.

Jalan-jalan di pagi hari yang segar ke kuil Meiji

Setibanya di stasiun Harajuku, kami langsung menyebrang jalan menuju kuil terbesar di Tokyo, Meiji shrine. Pintu gerbangnya mudah dikenali karena dua kayu besar (Torii Gate). Suasana saat memasuki gerbang Meiji seperti memasuki kebun raya bogor…. Ribuan pohon yang tinggi, sungai, jembatan dan udara yang sueegerrr…..  Kuilnya sendiri tersembunyi di balik pepohonan sekitar 15 menitan berjalan kaki santai dari gerbang depan. Meski jalan kaki ke dalam cukup jauh, tapi dijamin tidak terasa lelah karena sejuknya udara di pagi hari yang mengandung banyak oksigen dari pepohonan yang rindang di area kuil ini. 

Tumpukan barrel anggur sumbangan dari Perancis
Tumpukan barrel sake yang keren

Saat berjalan kaki ke dalam, terlihat tumpukan barel-barel sake yang tersusun rapi dan sangat fotogenik. Tepat diseberangnya dihiasi barrel anggur sumbangan dari pemerintah Perancis. Lokasi ini merupakan salah satu salah satu best spot wajib bagi turis yang datang kesini. Tumpukan barel-barel sake raksasa ini adalah koleksi Meiji Jingu yang konon kabarnya merupakan donasi dari para pembuat sake. Kuil Shinto memang memerlukan Sake dalam berbagai ritual dan festival keagamaannya.

Tempat ritual cuci tangan sebelum memasuki kuil

Meiji Shrine merupakan kuil Shinto yang didedikasikan untuk Emperor Meiji dan istrinya Empress Shoken. Emperor Meiji sendiri berjasa besar dalam melahirkan Meiji Restoration yang dipercaya menjadi pemicu modernisasi di Jepang. Bangunan aslinya sudah runtuh saat terjadi serangan udara, yang ada disini merupakan bangunan baru yang dibangun kembali tahun 1958. Terdapat beberapa aturan (e-tiket) yang sebaiknya dipatuhi bila masuk kedalam lingkungan kuil diantaranya: di gerbangnya (torii) membungkuk satu kali saat masuk dan keluar, membersihkan tangan dan mulut di pancuran (Temizuya), tidak boleh menggunakan tripod, dan lain sebagainya.

Dan seperti layaknya disemua kuil Shinto di Jepang, disana terdapat rak-rak kayu sebagai tempat untuk menggantungkan Ema (papan kayu) berisi berbagai harapan para pengunjung. Karena rata-rata yang datang kesini adalah turis, maka tidak heran kebanyakan tulisannya dalam bahasa inggris.

Saat kami kesana kebetulan sedang ada upacara pernikahan, jadi beruntung bisa melihat prosesi keluar masuk para pemimpin kuil, calon pengantin beserta keluarganya.

Lebih detail tentang Meiji Shrine bisa klik disini.

Harajuku street

Meet the sweet lolita

Puas mellihat kuil Meiji, kami kembali ke torii gate dan menyebrang jalan ke arah harajuku street. Saya penasaran karena jalanan ini tempat nongkrongnya anak muda berpakaian aneh-aneh. Setibanya disana rupanya jalan Harajuku yang kesohor itu hanya berupa gang kecil yang kira-kira hanya bisa dilewati mobil ukuran kecil, yang kanan kirinya dipenuhi toko.

Harajuku street

Konon katanya anak-anak muda pada seringnya nongkrong disini hari minggu, tapi alhamdulillah pagi itu kami beruntung berhasil menemukan sekumpulan ABG perempuan yang berdandan imut ala boneka dan berpakaian ala sweet lolita. Saya perhatikan memang kelihatannya mereka niat banget ya dandannya, semuanya melekat sempurna dari ujung rambut hingga ke ujung kaki.

Takeshita street

Dari Harajuku, walking tour kami berlanjut ke Takeshita street (dori) dimana disini merupakan tempat belanjanya kawula muda. Di sepanjang jalan dipenuhi oleh aneka trendy shops, fashion boutique, pedagang baju bekas dan stand makanan anak gaul yang katanya murah versi mereka (tapi tetap aja terasa mahal versi orang indonesia).

Di beberapa toko terlihat SPG yang berdandan ala lolita sibuk mempromosikan dagangannya.

Makanan yang populer disini kelihatannya adalah crepes dan es krim, karena dari jumlah pedagangnya tergolong banyak dari ujung ke ujung takeshita street. Salah satu crepes paling ramai adalah Marion crepes yang antirannya terlihat panjang. Pilihan variasi crepesnya sangat buanyak sekali dibandingkan dengan stand crepes di Indonesia, dengan variasi harga antara 400 – 800 yen. Kalau di Indonesia dah bisa dapat 4-5 crepes tuh…..  Tapi meski demikian ukurannya lebih besar 50% dibandingkan di Indosia. Walaupun sudah merasakan marion crepes ini saat bermain salju di Gala Yuzawa kemarin, si Raffa tetap aja minta crepes lagi karena ketagihan enaknya…..

We love Marion Crepes!

Saat asyik berjalan, terlihat sebuah toko yang secara fisik lumayan besar dan ramainya luar biasa. Ternyata kita ketemu lagi toko Daiso, toko dimana segala barang yang didalamnya hanya seharga 100 yen.

Tokoserba 100 yen Daiso

Selama kami di Jepang pasti selalu mampir di tiap toko Daiso yang ditemui, karena dengan harganya yang super murah, kita bisa mendapatkan barang-barang yang unik-unik dan keren. Istri dan anak-anak pasti kalap tiap kemari…..  Toko ini sendiri terdiri dari 3 lantai, tapi menurut kami sih masih lebih besar dan lengkap toko daiso yang di Yama center.

Odaiba Seaside Park

Half day tour in Odaiba

Puas window shopping di Takeshita dori, kami kembali ke stasiun Harajuku dan naik kereta JR Yamanote line ke stasiun Osaki, lalu transit ganti kereta Rinkai line ke ke stasiun Tokyo Teleport center. Banyak yang bilang jika pemilik JR Pass bisa naik Rinkai line ini gratis, tapi faktanya kami disuruh bayar 330 yen karena kata petugasnya jalur ini termasuk swasta. Sebenarnya sih ada 2 cara menuju ke Odaiba island, yang mana kedua cara tersebut merupakan private line, sehingga tidak di cover oleh JR Pass atau tokyo metro – subway pass. Cara pertama adalah naik kereta rinkai line yang menghubungkan stasiun JR Oimachi dengan stasiun JR Shin-kiba.

Rinkai Line

Dan cara kedua adalah naik kereta yurikamome line yang menghubungkan stasiun subway Shimbashi dengan stasiun subway Toyosu, serta melewati semua tempat atraksi di Odaiba.

Yurikamome Line

Sesuai rencana, we spend the rest of afternoon in Odaiba island. Untuk rute perjalanan kami bisa dilihat di google map dibawah ini.

Walking tour: Odaiba seaside park –> Liberty statue –> Miraikan Museum

Setelah tiba di stasiun Tokyo teleport, tempat yang kami kunjungi pertama adalah Odaiba Seaside Park. Area ini merupakan tempat bersantai ria di pinggir pantai, dimana banyak penduduk Jepang yang asyik menghabiskan waktu berjalan santai bersama keluarga dan anjing peliharaannya disini. Selain main pasir atau berpiknik di pinggir pantai, ada juga yang asyik bermain selancar.

Asyiknya berpiknik di Odaiba seaside park

Tidak mau ketinggalan, kamipun mencari tempat piknik yang asyik di pinggir pantai ini sembari mengeluarkan bekal makan siang. Memang sungguh iri rasanya melihat Jepang memiliki begitu banyak tempat piknik gratisan, mulai dari taman hingga pinggiran pantai begini…..  Anak-anak pun begitu senangnya bermain di pasir yang sangat bersih dan terawat ini.

Rainbow bridge (siang vs malam hari)

Dari tempat kami berleyeh-leyeh terlihat jembatan bertingkat dua yang lebih dikenal dengan nama rainbow bridge, dimana Jembatan ini menghubungkan pulau Odaiba dengan Tokyo, serta merupakan simbol Odaiba island. Mungkin malam hari adalah saat yang tepat untuk melihat keindahan jembatan ini, karena saat itulah lampu-lampu yang ditempatkan di sepanjang kawat penunjangnya menyala dengan tiga warna yang berbeda: merah, putih dan hijau hasil dari energi matahari yang diserap sepanjang hari. Seandainya naik kereta Yurikamome line saat kesini, konon penumpangnya akan disuguhi pemandangan yang indah saat melewati jembatan ini, sepanjang pelabuhan hingga waterfront.

Do you know that this is one of the 4 real liberty statue in the world?

Setelah bekal makan siang habis, kami mulai berjalan kaki menyusuri pantai, melewati mall Decks dan Aqua city, hingga tiba di area observasi patung liberty, yang mana juga merupakan salah satu icon pulau ini. Patung ini ditempatkan pertama kali di Odaiba pada tahun 1998 sebagai peringatan “The French year in Japan”. Konon patung liberty hanya ada 4 di dunia, yakni Perancis, Louxemburg, Amerika dan Jepang. Selain patung liberty, di tempat ini juga terdapat taman dengan pemandangan terbuka ke arah rainbow bridge dan tokyo bay.

Fuji TV Tower

Puas berfoto ria bersama patung liberty, kami melanjutkan jalan kaki menuju mall DiverCity Tokyo Plaza. Sayangnya saat kesini sudah tidak ada patung Gundam setinggi 18 meter lagi, karena sejak bulan Maret 2017 telah dibongkar dan konon akan dibuat patung robot pengganti di tahun 2018. Bagi pecinta robot raksasa ini, satu atraksi wajib kunjung di DiverCity adalah Gundam Front Tokyo dengan tiket masuk sebesar 1000 yen untuk dewasa. Selain Gundam front, sebetulnya ada tempat menarik lainnya yang asyik dikunjungi, yakni Fuji TV building yang mudah dikenali dari bola raksasanya diantara bangunan. Jika masuk kedalamnya, kita bisa melihat studio TV fuji sekaligus belajar proses siaran dan diatasnya terdapat observation area untuk melihat keindahan Odaiba secara keseluruhan. Selain itu masih ada MegaWeb Toyota, tempat museum display mobil-mobil Toyota. Namun sayangnya berhubung waktu yang terbatas, kami tidak bisa mengeksplorasi lebih jauh di dalam area ini.

Miraikan Emerging & Science Museum

Miraikan Museum

Melewati jalanan yang rindang di tengah gedung-gedung yang tinggi, disertai pemandangan pinggir pantai yang menawan membuat perjalanan kaki kami menuju Miraikan Museum menjadi terasa menyenangkan. Memang rencana utama kami disini adalah mengunjungi museum yang konon katanya tercanggih di Jepang. Tentu slogan “The future is here” tidak main-main, karena didalamnya terdapat alat peraga interaktif yang canggih-canggih yang bisa membuat anak belajar dan memberi gambaran tentang masa depan.

Future mobility access – Uni Cub

Setelah antri panjang untuk membeli tiket sebesar 620 yen untuk dewasa dan gratis untuk anak-anak (khusus hari sabtu – minggu), kita langsung melihat orang-orang yang sedang belajar mengendarai Uni-Cub. Alat ini merupakan kendaraan personal berukuran kecil yang diduduki, memiliki sebuah roda besar dan sepasang roda kecil yang dikendalikan berdasarkan pergerakan tubuh manusia. Rasanya alat ini kalau sudah diproduksi massal seperti 2 wheel hoverboard yang sekarang ada di pasaran bisa makin membuat orang malas berjalan kaki deh….

Belajar science itu menyenangkan!

Memasuki lantai 3, raffa langsung terpana oleh replika mesin propeler jet pesawat dan rolling ball board yang super besar nan canggih. Ada juga replika dalam ruangan pesawat antariksa, pengujung yang masuk sedikit banyak bisa merasakan suasana didalam kabin pesawat antariksa, berikut dengan belajar pengetahuan tentang apa yang mereka kerjakan dan cara bertahan hidup selama di luar angkasa. Buat para anak-anak TK juga terdapat aneka macam alat interaksi yang memberikan pengetahuan dasar tentang science, seperti fungsi melihat, mendengar, dan lain sebagainya, dan semuanya tentu saja dikemas dalam alat peraga yang super canggih. Terus ada juga area tentang pengembangan teknologi riset masa depan mengenai Stem Cells yang dipercaya suatu saat akan berguna untuk mengobati segala macam penyakit kritis tanpa efek samping. Di dekat situ juga ada sebuah miniatur perkembangan sel janin dari fase telur hingga dibuahi. Selama ini cuman liat buku atau USG doang, sekarang jadi bisa tau ukuran dan bentuk yang sebenarnya….

Earth is so beautiful…!

Area lain yang membuat kami terkesima adalah sebuah globe map berukuran raksasa di area Geo-Cosmos. Penampakan giant globe-like display ini akan berubah-ubah. Bentuknya yang bulat seperti aslinya itu seakan mematahkan teori bumi itu datar…. Tentu saja anak-anak bisa melihat bagaimana rotasi pergerakan bumi sehingga bisa timbul periode siang dan malam. Kalian bisa cek time schedule-nya disini.

Future robot technology developed by Miraikan

Kalau soal teknologi robot gak usah ditanya lagi, disini kita bisa melihat robot hewan peliharaan bernama Aro yang bisa diajak main, robot manusia berbentuk perempuan yang bisa diajak ngobrol dan robot humanoid bernama Asimo yang bisa bergerak layaknya manusia beneran. Robot Asimo ini sendiri tiap hari ada pertunjukannya 4 kali dalam sehari, yaitu pukul 11.00, 13.00, 14.00 dan 16.00. Pertunjukan selama 10 menit tersebut akan diisi dengan pertunjukan Asimo berlari, menari dan bermain bola.

 Nonton pertunjukan show yang terakhir ini menjadi cerita penutup kunjungan kami di Miraikan Museum ini. Pokoke benar-benar recommend place deh kalau liburan ke Jepang bersama keluarga. Info lengkap tentang Miraikan museum bisa klik disini.

Tokyo to Osaka

Tokaido Shinkanzen

Dari Miraikan Museum, kami langsung bergegas kembali ke stasiun Tokyo teleport dan naik kereta Rinkai line ke stasiun Oimachi, lalu transit ganti kereta JR keihintohoku line ke stasiun Tokyo. Begitu tiba disana langsung ambil koper dan masuk ke peron Shinkanzen Tokaido Hikari. Dan lagi-lagi kami ketinggalan kereta lagi….. hiksss….  kereta yang sudah kami reserved sebelumnya berangkat jam 17.03, tapi kami terlambat 5 menit. Untunglah ada JR Pass, jadi kita bisa naik kereta Shinkanzen berikutnya yang datang jam 17.30. Meskipun keretanya belum ada, orang-orang Jepang tampak sudah berdiri rapih di antrian kereta non reserved. Seakan terhipnotis, kamipun jadi ikut-ikutan antri, padahal biasanya kalo di Indonesia lebih memilih leyeh2 dulu di kursi kalau belum ada keretanya.

The speed of Shinkanzen Tokaido Hikari, 273 km/h and still increasing!!

Begitu kereta tiba, kita diberikan waktu kurang lebih 5 menit untuk mencari kursi dan alhamdulillah masih kebagian kursi ditengah padatnya penumpang non reserved, jadi enak sepanjang 3 jam perjalanan bisa duduk dan tidur nyaman. Saya iseng cek GPS, speed shinkanzen Tokaido mencapai 300 km/jam!!  Shinkanzen kami tiba di stasiun Shin-Osaka sekitar jam 1/2 9 malam. Dari stasiun ini kami berjalan kaki 5 menit menuju ke apartemen yang telah kami booking sebelum via airbnb, yang lokasinya sangat dekat dengan stasiun. Apartemennya sih tergolong tua, tapi tetap nyaman kok dan lokasinya sangat enak banget karena persis diseberang stasiun Shin-Osaka. Tanpa basa-basi dan membuka koper, kamipun langsung mencari kasur masing-masing dan tertidur pulas…..  Padahal baru tadi siang dari Tokyo, tapi entah kenapa kami sudah mulai kangen…….  Miss you a lot Tokyo, mudah2an kami diberikan rezeki lagi untuk liburan kesana suatu saat nanti.

2 Comments Add yours

  1. stefanie says:

    ditunggu review nya mengenai apartemen nya yang ditokyo dan Osaka, tq

    1. Akthuro says:

      halo mbak,
      review mengenai apartemen airbnb yang kami tinggali bisa dilihat di postingan saya yang ini:
      http://www.kingjourneys.com/2017/04/24/asyiknya-memesan-apartemen-via-airbnb/
      mudah-mudahan bisa membantu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *