Jepang 2017: Inari – Arashiyama – Higashiyama – Gion (Kyoto, Day 8)

Siapa yang tidak kenal dengan kota Kyoto? Kota yang pernah menjadi ibukota Jepang selama kurang lebih 1000 tahun ini merupakan sebuah kota kecil yang terkenal sebagai kota tradisional dan sangat menjaga nilai-nilai kebudayaannya. Tidak seperti kota Tokyo atau Osaka, kota ini tergolong lebih sepi dan tidak sehiruk pikuk mereka. Meski sama-sama memiliki kereta MRT, tapi kota ini lebih mengandalkan bis sebagai moda transportasi utama penduduknya. Kota ini termasuk kota favorit bagi para turis asing karena sisi tradisionalnya yang sangat khas, khususnya mengenai keindahan alam, suasana lingkungan dan bangunan khas Jepang yang masih banyak dipertahankan. Konon katanya siapapun yang datang ke Kyoto pasti akan jatuh hati. Karenanya kota ini menjadi salah satu destinasi wajib dari perjalanan kami kali ini.

Agar bisa maksimal berkeliling kota Kyoto dalam sehari, kami sengaja berangkat sepagi mungkin. Enaknya apartemen kami di Osaka terletak persis didepan stasiun Shin-Osaka, jadi gak jauh berjalan kakinya. Memang sempat galau sewaktu hunting apartemen di Osaka saat menyusun itinerary karena saking banyaknya tempat wisata di Kyoto & Osaka yang ingin dikunjungi, tapi mengingat liburan kami ini mengajak anak-anak, tentu akan repot jika terlalu banyak berpindah lokasi penginapan. Karenanya dengan pertimbangan jarak Kyoto dari Osaka bisa ditempuh hanya dalam waktu +/- 15menit dengan kereta shinkanzen, maka kami memutuskan untuk mencari apartemen sedekat mungkin dengan stasiun kereta Shin-Osaka. Sekedar informasi, stasiun Shin-Osaka ini merupakan stasiun khusus untuk melayani kereta Shinkanzen, sehingga jika hendak traveling ke Osaka memang harus naik kereta lokal lagi.

Sehabis sarapan, kami langsung berangkat ke Kyoto dengan Shinkanzen Tokaido Hikari dan tiba di stasiun Kyoto sekitar jam 8 pagi. Terlepas dari image Kyoto sebagai kota tradisional Jepang, stasiunnya justru bernuansa sangat modern dengan desain futuristik dan warna metal dimana-mana. Stasiun ini merupakan stasiun integrasi antara mall iSetan, stasiun kereta JR Railways, Kintetsu Line dan Subway, serta terminal Kyoto City Bus dan bis-bis jarak jauh (long distance dan overnight bus). Meski tidak seluas stasiun Shinjuku, tapi lumayan bingung juga saat mencari peron JR Nara line yang akan mengantar kami dari stasiun Kyoto ke stasiun Inari. Maklum, belum terbiasa dengan stasiun ini……

Fushimi Inari

Sekitar jam 1/2 9an kereta kami tiba di stasiun Inari. Stasiunnya sangat kecil, hanya terdapat sebuah pintu masuk dan sebuah pintu keluar, jadi tentu saja tidak pakai puyeng menuju ke Fushimi Inari. Karena merupakan objek wisata favorit, stasiun ini isinya mayoritas turis asing semua, sehingga kita tinggal berjalan kaki mengikuti arus saja setelah keluar stasiun sampai tiba di gerbang fushimi inari.

Fushimi inari merupakan salah satu kuil Shinto terpenting di selatan Kyoto. Kuil ini di dedikasikan untuk Inari yaitu dewa padi. Dikuil ini akan banyak sekali ditemui patung rubah karena rubah dianggap sebagai utusan Inari. Yang menarik dari kuil ini adalah jejeran Senbon Torii (1000 gerbang torii) berwarna oranye menuju Gunung Inari. Torii ini merupakan sumbangan para donatur individu dan perusahaan dimana nama donaturnya dan tanggal sumbangan terukir di belakang Torii. Konon semakin besar donasinya maka ukuran semakin gerbangnya akan semakin besar, meski buat saya rasanya terlihat sama saja ukurannya…..

Jejeran Torii berwarna orange yang berdempetan ini tentu sangat menarik perhatian para turis, sehingga setiap orang pasti selalu berusaha untuk berfoto di dalamnya. Jadi sungguh sulit rasanya mencari spot kosong untuk berfoto. Mendapatkan momen yang kosong untuk bisa mendapatkan foto keluarga merupakan kesempatan yang langka. Apalagi pagi itu memang kuil Fushimi Inari tampak sangat padat oleh pengunjung turis dan peziarah.

Dengan semangat 45, udara pagi yang segar dan langit yang cerah, kami mulai menaiki satu per satu anak tangga yang makin lama semakin tingg. Dan benar saja….. 30 menit kemudian nafas kita mulai ngos-ngosan dan kaki pada gempor semua. Ketauan banget jarang olah raga di rumah…… rasanya seperti mendaki jalan yang tak berujung. Padahal kita baru sampai ke kuil kedua lho…. lihat peta sih kayaknya masih 2/3 perjalanan lagi keatas. Akhirnya terpaksalah mengibarkan bendera putih. Cukuplah sampai melihat-lihat area pemakaman, lalu kembali ke kuil kedua dan menjelajahi area sekitar saja.

Selain pendopo yang menjadi tempat ibadahnya umat Shinto, saya kembali tertarik melihat rak-rak kayu tempat untuk menggantungkan papan kayu (Ema) yang berisi doa / harapan para pengunjung. Setiap kuil biasanya memiliki rak-rak kayu seperti ini, namun yang membedakan adalah bentuk papan kayunya yang berbeda-beda di tiap kuil. Jika di kuil Meiji, papannya berbentuk kotak biasa, disini papannya berbentuk segi lima diamond yang lucu dan bebas dihias / digambar apa saja. Alisya pun tentu saja minta sebuah papan untuk dilukis menjadi seekor rubah.

Saat kembali ke kuil pertama, giliran bunda yang menepi di tiap toko souvenir di sekitar kuil, sembari saya mengistirahatkan kaki. Dan sebelum kita masuk ke stasiun, terlihat stand aneka jajanan khas Jepang di sepanjang jalan inari. Penasaran, kami pun mulai menyusuri area gang ini dan akhirnya tergoda juga untuk membeli seporsi Okonomiyaki. Makanan ini merupakan tumisan kol dan wortel dengan saos teriyaki, lalu ditabur abon cumi diatasnya. Soal rasa gak usah dibandingkan dengan yang di jakarta lah ya….. Jelas jauh lebih enakkkk di negeri aslinya!!!

Arashiyama

Terpesona oleh koleksi foto teman saya yang baru pulang dari Jepang, dia menunjukkan foto kecantikan jejeran pohon bambu hijau di musim semi yang sangat eye catching dan sukses meyakinkan saya untuk memasukkan tempat ini ke dalam itinerary saya. Area Arashiyama ini sendiri memiliki banyak tempat wisata yang menarik, yakni Togetsukyo bridge, Tenryu-Ji Zen temple, Bamboo Forest, Ohkouchi Sansou Garden  dan Sagano Scenic Railway. Kesemuanya ini bisa dinikmati dalam sekali jalan, namun mengingat waktu yang terbatas dan faktor kelelahan anak-anak, kami hanya bisa menjelajahi 3 tempat saja:  Togetsukyo bridge –> Bamboo forest –> Sagano Scenic Railway.

Dari stasiun Inari, kami kembali naik kereta JR Nara line ke stasiun Kyoto, lalu ganti kereta JR San-In Line ke stasiun Saga-Arashiyama.

Saat keluar stasiun, kami langsung melipir ke loket penjualan tiket di stasiun Saga-Torokko, yang berlokasi persis disebelah pintu keluar stasiun Saga-Arashiyama, untuk membeli tiket Sagano Scenic Railway, yaitu jalur kereta wisata yang membentang di sepanjang sungai Hozugawa antara Arashiyama dan Kameoka. Kereta wisata ini sangat populer dan selalu ramai pengunjung, apalagi saat peak season di musim semi seperti sekarang. Penumpang kereta sebetulnya bisa naik dari stasiun Saga-Torokko ini, tapi berhubung kami hendak menjelajahi bamboo forest dulu sehingga rencananya kita akan naik dari stasiun Torokko-Arashiyama yang berlokasi 1 stasiun setelah stasiun Saga-Torokko. Namun agar tidak beresiko kehabisan tiket di stasiun Torokko-Arashiyama, maka sengaja kami harus membeli tiketnya dari sini. Dan benar saja, antriannya sangat panjang. Meski memang berhasil mendapatkan 4 tiket sih (2 dewasa & 2 anak) untuk jam 13.04, tapi sayangnya hanya 2 penumpang saja yang mendapatkan kursi reserved, sementara sisanya terpaksa berdiri.

A. Togesukyo bridge

Setelah urusan tiket beres, kami mulai keluar stasiun dan mulai kebingungan karena tidak ada papan petunjuk apapun. Kebetulan saat itu ada sekelompok anak muda yang belok kanan ke arah gang kecil, tanpa buang waktu kami pun mengikutinya. Sepintas memang agak ragu apakah jalan ini benar atau tidak, soalnya kita serasa memasuki areal komplek perumahan yang tergolong sepi dari keramaian. Tapi dengan modal nekat, kami tetap yakin dengan mereka yang berpenampilan ala turis karena tentengan tas kameranya. Sepanjang perjalanan dilalui lewat gang kecil dengan suasana lingkungan perumahan khas jepang yang sangat bersih dan nyaman. Tampak rumah-rumah berdekorasi minimalis ala Jepang dan bertingkat berdiri diatas lahan yang kecil, dengan mayoritas memiliki ornamen kayu coklat pada desain eksteriornya dan beberapa batang pohon berukuran sedang yang daunnya tidak begitu lebat. Pokoke serasa berada di lingkungan perumahan Nobita (tokoh utama di komik Doraemon) deh….  Benar kata orang yang menyebutkan Kyoto itu kota romantis, saya yang baru sebentar menjelajahinya saja sudah mulai menyukainya.

Setelah kurang lebih 15 menitan berjalan kaki santai di udara sejuk nan kaya oksigen ini mulai tampak jalanan yang agak besar dengan beberapa toko di sekitarnya. Kami tiba di persimpangan jalan yang jika ke kiri itu ke arah Togesukyo bridge dan ke kanan ke arah Bamboo groves. Berhubung anak-anak sudah kelelahan, mereka memilih untuk istirahat di salah satu trotoar, sementara saya yang ogah rugi waktu memilih untuk mengunjungi ke Togesukyo bridge sebentar.

Togetsukyo Bridge boleh dibilang merupakan landmark daerah Arashiyama. Jembatan kayu yang berusia lebih dari 400 tahun ini membentang sepanjang 155 meter diatas Katsura River dengan latar belakang pegunungan Arashiyama yang menawarkan pemandangan yang indah, terutama saat musim gugur dan musim sakura. Konon jembatan ini dibangun dibangun untuk kunjungan Kaisar Saga menuju Horinji Temple di periode Heian (794-1185) dan kemudian jembatan ini direkonstruksi ulang pada tahun 1930-an. Saya tidak terlalu lama mengeksplore jembatan ini karena meninggalkan keluarga di area pertokoan Arashiyama. Sepintas memang terlihat seperti jembatan biasa, tapi yang membuatnya istimewa memang pemandangan alam sekitarnya yang sangat keren. Tampak pepohonan sakura warna pink di area perbukitan seberang jembatan bermekaran dengan indahnya di sekitar sungai Katsura yang memiliki aliran sangat tenang. Disisi jembatan terdapat banyak penarik ricksaw yang siap menyediakan jasanya untuk berkeliling Arashiyama dengan harga yang tidak ramah dompet….

B. Bamboo Groves

Setelah quick sightseeing Togetsukyo bridge, saya kembali ke tempat anak-anak beristirahat dan kita mulai lagi berjalan kaki sekitar 500 meter ke arah bamboo groves. Sebelum persimpangan gang menuju bamboo groves terlihat Tenryu-Ji Zen Temple di sebelah kiri jalan. Sempat tertarik juga sih untuk masuk ke dalamnya, namun terpaksa skip karena mengingat waktu yang sudah mendekati jam 12 siang, takutnya gak keburu untuk mengejar kereta Sagano.

Bamboo Groves ini sebenarnya hanyalah jalan sejauh kurang lebih 500 meter yang kanan kirinya dipenuhi hutan bambu dimulai dari area sekitar Nonomiya Shrine sampai taman Okochi-Sanso. Sebenarnya bambu di Indonesia sih berlimpah, tapi sayangnya belum ada yang terpikir untuk membuat jalan wisata seperti ini. Sama seperti fushimi inari, didalamnya seperti cendol karena gang yang kecil namun berjubel dipenuhi oleh turis mancanegara. First impression melihat kebun bambu ini memang keren dan sangat instagramable, tapi sayangnya tidak akan pernah bisa mendapatkan foto yang bagus dengan background yang sepi pengunjung saat high season begini. Tapi terlepas dari hiruk pikuk turis, suasana kebunnya tetap bisa menyenangkan dan menenangkan hati bagi siapapun yang melewatinya. Pepohonan bambu yang rindang dan teduh, serta hembusan angin sejuk membuat jejeran bambu ini meliuk-liuk menari mengikuti arah pergerakan angin dan membuat gemerisik dedaunannya, sungguh membuat hati terasa ringan.

Diujung jalan terdapat pertigaan, dimana arah kiri untuk ke jalan ke togetsukyo bridge dan arah kanan untuk jalan ke stasiun Torokko-Arashiyama. Tentu saja kami mengarah ke kanan hingga kemudian bertemu persimpangan lagi, dimana jika ambil arah kiri atas akan mengarah  ke Ohouchi Sansou Garden, sementara jika ambil jalan lurus yang sebelah kanan akan terus mengarah ke stasiun. Kembali hati menjadi galau karena keinginan untuk mengunjungi taman ini. Okochi Sanso Garden ini dulunya adalah rumah Denjiro Okochi, salah satu aktor film Jidaigeki di Jepang. Jidaigeki adalah salah satu genre film atau theatre yang biasanya mengambil setting keadaan Jepang jaman dahulu kala (kebanyakan pada masa Edo). Salah satu Jidaigeki yang paling terkenal adalah Last Samurai yang dibintangi oleh Tom Cruise. Konon katanya selama 30 tahun Denjiro membangun taman seluas 20.000 meter persegi ini dan menanaminya dengan berbagai tumbuhan yang bisa dinikmati di tiap musim seperti Sakura, Azalea, pohon pinus dan Japanese Maple Tree. Tapi kembali hasrat tersebut harus di skip karena tanpa terasa waktu sudah mendekati pukul 13.00. Karenanya kami harus bergegas ke stasiun Torokko Arashiyama.

C. Sagano Romantic Train

Menutup kunjungan kami di Arashiyama, kami akhirnya berhasil tiba di stasiun Torokko-Arashiyama tepat waktu. Stasiun kecil ini nyempil di tengah-tengah hutan bambu. Kami melihat tiket untuk kereta wisata ini sudah ludes sampai jam 3 sore, jadi alhamdulillah tadi sempat beli tiket dulu di stasiun Saga-Arashiyama. Karena kalau tidak kebagian tiket, kami jadi terpaksa berjalan kaki sejauh itu lagi untuk balik ke stasiun.

Sesuai tiket, kami menunggu di tempat peron yang telah ditentukan dan tidak lama kemudian keretanya datang. Kereta Sagano ini merupakan kereta kuno yang memiliki sebuah lokomotif dan 5 buah gerbong saja (4 gerbong tertutup dan 1 gerbong terbuka). Kebetulan 2 tiket yang mendapatkan kursi kami berada di gerbong terbuka, jadi enak dapat pemandangan yang luas. Jika pada lazimnya rangkaian gerbong kereta itu ditarik oleh lokomotif, tidak demikian dengan kereta ini. Karena kereta Sagano ini pada dasarnya bergerak searah saja dan tidak pindah-pindah lokomotifnya. Posisi lokomotif akan berada di depan dan bergerak maju jika perjalanan kereta dari Kameoka ke Saga. Sementara karena kami menaiki kereta dari Saga ke arah Kameoka, maka gerbong keretanya bergerak mundur dengan didorong oleh lokomotif di paling belakang rangkaian. Info lebih lengkap mengenai Sagano Romantic Train ini bisa dilihat disini.

Perjalanan kereta ke stasiun Kameoka memakan waktu kurang lebih 20 menit. Sepanjang perjalanan para penumpangnya disuguhi keindahan pemandangan warna warni pepohonan yang rindang menghiasi bukit Arashiyama dipadu dengan kejernihan sungai Hozugawa. Apalagi bulan mei merupakan puncaknya cherry blossom dimana pohon sakura bermekaran dimana-mana, jadi perjalanan 20 menit sungguh terasa cepat. Ada yang bilang saat musim gugur bisa lebih indah lagi pemandangannya karena bukit di seberang sungai akan dihiasi dengan warna merah, oranye dan coklat. Andai bisa duduk berdua aja sama istri, pasti tambahasyik nuansa romantisnya nih…..   Soalnya selama perjalanan kan udaranya dingin, jadi bawaannya pengen mendekat pasangan terus biar hangat *Tssahhhhhh…..*  Sayangnya yang kebagian duduk hanya istri dan anak, sementara saya terpaksa bergelantungan…..

Sesampainya di stasiun Torokko Kameoka ada tiga pilihan yang bisa diambil:

  1. Naik Sagano Scenic Railway kembali ke stasiun Arashiyama.
  2. Jalan kaki ke stasiun Umahori dan naik kereta JR San-In line kembali ke Arashiyama atau Kyoto.
  3. Kembali ke Arashiyama dengan mengikuti Hozugawa River Cruise, naik perahu tradisional menyusuri sungai Hozugawa. Info lebih lengkap bisa klik disini

Pilihan paling menarik tentu saja memilih Hozugawa River Cruise dengan perahu long boatnya, tapi mengingat harga tiketnya 4100 yen membuat saya berpikir ulang kalau bawa 5 orang….  Akhirnya kita pilih yang ekonomis aja, jalan kaki 10 menit ke stasiun Umahori dan naik kereta JR San-In line ke stasiun Kyoto yang termasuk coveran JR Pass. Perjalanannya kurang lebih 1/2 jam, jadi lumayan bisa bobo2 cantik dulu…..

Kiyomizudera

Kuil ini merupakan salah satu kuil terbesar dan tertua di Kyoto. Bangunannya yang terbuat dari kayu nan megah ini terletak diatas bukit, dikelilingi oleh taman yang indah dan termasuk salah satu warisan budaya dunia UNESCO sejak tahun 1995. Konon bangunannya dibuat tidak menggunakan paku sama sekali. Sehingga tidak heran tempat ini menjadi salah satu destinasi favorit bagi para wisatawan yang liburan ke Kyoto.

Untuk menuju lokasi ini, kami naik bis no 206 dari stasiun Kyoto dan turun di halte Kiyomizumichi, lalu dilanjutkan dengan jalan kaki mendaki sekitar 1 km. Hari ini memang benar-benar perjalanan paling melelahkan, dari pagi hingga sore hari full berjalan kaki yang jaraknya tidak ada yang pendek dan lebih banyak menanjak, sehingga menuju ke kuil kiyomizudera ini terasa menantang. Untung aja di kanan kirinya sepanjang jalan area Higashiyama ada banyak toko, jadi jalan kaki menanjak sembari cuci mata dan mampir2 toko sana  sini membuat kelelahan menjadi sedikit teralihkan dan tiba-tiba sudah sampai diatas aja. Sampai di gerbang masuk kuilnya, kita sempat istirahat dulu 1/2 jam sambil mijitin kaki. Gempor juga euy……!!

Umumnya setiap kuil Budha memiliki pintu gerbang yang dinamakan Niomon Gate karena dijaga oleh dua prajurit kayu yang dinamakan Nio (dua raja). Yang mulutnya selalu terbuka bernama Naraen Kongō dan yang tertutup bernama Misshaku Kongō, bila digabung keduanya menyimbolkan kelahiran dan kematian. Di Kiyomizudera ini Niomon Gatenya dinamakan Deva Gate. Gerbang ini berukuran besar dan menjulang diatas bukit dengan warna merah yang mencolok. Tempat ini merupakan salah satu best spot untuk berfoto, sehingga sulit sekali bisa berfoto sendirian tanpa gangguan turis lainnya.

Saat kami kesana, kuilnya sedang dalam renovasi. Para wisatawan tetap diperbolehkan masuk sih, tapi sayangnya kebanyakan barang-barang koleksi didalamnya sudah dikumpulkan di area penyimpanan yang tidak boleh dimasuki. Selain itu kita jadi tidak bisa melihat exterior bangunan kuil secara utuh. Sedih juga, soalnya sudah dibela2in datang sore hari demi melihat keindahan kuil diatas bukit ini seperti foto dibawah ini.

Harapan pemandangan Kiyomizudera

Kecewa karena tidak banyak area main hall yang bisa dilihat, kami berjalan lurus ke arah Koyasu pagoda untuk melihat panorama kuil yang sedang direnovasi ini dari kejauhan.

Kenyataan

Kembali pasrah setelah melihat kenyataan panorama kuil yang tidak sesuai harapan, kami lanjut turun ke Otawa waterfall yang terletak di dasar main hall. Nama Kiyomizudera sebenarnya diambil dari sumber air ini karena Kiyomizu sendiri berarti air yang murni. Air Otowa disalurkan melalui 3 pancuran yang masing-masing dipercaya dapat memberikan kesehatan, umur panjang dan sukses di sekolah/pekerjaan. Pengunjung diperbolehkan minum air ini dari salah satu pancurannya dengan cangkir metal yang telah disediakan, tapi melihat panjangnya antusiasme pengunjung yang antri membuat saya malas mencobanya.

Gak terasa hari sudah semakin gelap, tapi sebelum keluar dari area kuil Kiyomizudera disempatkan berfoto keluarga dulu di area kolam dibawah main hall.

Saat kembali ke area pertokoan sepanjang jalan Higashimaya district, mayoritas toko sudah tutup, padahal waktu masih menunjukkan pukul 6 sore. Tadinya niat mau jajan cemilan sembari turun ke halte bis, tapi berhubung sudah banyak tutup ya terpaksa ditahan deh perut yang mulai keroncongan.

Gion

Dari halte Kiyomizumichi, kami naik bis 206 lagi ke halte Gion. Rencana awal sih mau jalan-jalan sekitar Gion, tapi berhubung perut sudah kelaparan dan kaki sudah susah diajak kompromi lagi, kami pilih langsung berjalan menuju restoran Naritaya. Berbekal google map, kita diarahkan masuk area gang sempit disekitar pertokoan Gion. Sempat ragu juga sih benar atau tidak ini jalannya. Tapi setelah kurang lebih 7 menitan, kita tiba juga di restoran. Naritaya merupakan salah satu restoran ramen halal di Kyoto.

Selain ramen, ada juga Naritaya Yakiniku yang berjarak 2 toko disebelahnya, tapi melihat daftar harga makanannya lebih baik saya mundur teratur deh…..  Sama dengan semua restoran ramen halal di Tokyo, disini pun restonya berukuran kecil dan sempit, tapi kalau soal rasa juara deh……  Gak heran antriannya cukup panjang di malam hari. Butuh waktu hampir sejam lamanya mengantri demi merasakan ramen kaldu ayam yang sangat populer di kalangan umat muslim yang datang ke Kyoto.

Setelah perut kenyang, melihat jam sudah menunjukkan pukul 1/2 9 malam. Agak kaget juga buat sekedar makan malam saja sudah menghabiskan waktu hampir 2 jam sendiri…..  Padahal sempat niat untuk berjalan santai ke gion corner sambil berharap melihat Geisha. Namun berhubung anak-anak sudah kelelahan, akhirnya kami memilih kembali ke apartemen saja.  Dalam perjalanan menyusuri jalan kecil ke halte Gion, kami sempat melihat sebuah taksi yang sedang mengantar 2 geisha disebuah restoran / klub / apalah itu (gak ngerti bahasa jepang). Yayyyyy, alhamdulillah!!!!! Tapi sayannya lupa diambil fotonya, jadi gak ada kenangan deh…..

Saat tiba di halte Gion, kami menunggu setengah jam lebih kok tidak ada satupun bis yang lewat menuju ke stasiun Kyoto. Berhubung udara sudah semakin dingin dan mata makin ngantuk, terpaksalah kami kembali berjalan kaki menyusuri shopping arcade sekitar Nishiki market hingga ke stasiun kereta terdekat, yakni stasiun Karasuma dan naik kereta karasuma line ke stasiun Kyoto, kemudian dilanjutkan dengan shinkanzen Tokaido Hikari ke stasiun Shin-Osaka. Jam 10 malam tepat kami tiba di apartemen dan semuanya langsung pada terkapar di kasur tanpa sempat ganti baju lagi….  Meski hanya perjalanan singkat menjelajahi Kyoto, kami sangat jatuh cinta dengan suasana kota tua dan tradisional Jepang. Next time jika punya rezeki lagi, rasanya bolehlah menginap disini 2 atau 3 hari agar bisa meng-eksplore lebih lanjut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *