Jepang 2017: Himeji – Osaka (Day 9)

Pagi ini dibuka dengan acara bermalas-malasan setelah kemarin seharian menjelajahi kyoto. Anak-anak memang baru pada bangun agak siang karena masih pada kelelahan. Tidak bisa dipungkiri, perjalanan kemarin merupakan liburan yang terlelah selama kami di Jepang karena mayoritas dilakukan dengan berjalan kaki dan mendaki sepanjang hari. Secara rancangan itinerary, sebetulnya rencana hari ini adalah jalan-jalan seharian ke Nara atau ke pegunungan Rokko di daerah Kobe. Tapi rasanya terlalu memaksakan jika kesana dalam kondisi capek mengingat ini adalah family trip, jadi khawatir nanti malah pada sakit karena tambah kelelahan. Karenanya saya sengaja memutuskan sedikit bersantai hari ini tanpa itinerary. Sekali-sekali melewatkan hari tanpa rencana itu enak juga lho….. going where the wind blow dan melihat kejutan apa yang mungkin terjadi hari ini.

Himeji castle

Setelah cukup beristirahat, kami semua akhirnya baru terbangun pukul 10 siang. Sembari menunggu istri menyiapkan sarapan dan bekal makan siang, saya mencoba melihat rute perjalanan yang enteng dan tidak terlalu melelahkan untuk hari ini. Sejauh ini kami telah mengunjungi aneka kuil, theme park, tempat belanja, main salju, museum dan wisata pemandangan alam yang favorit. Karenanya dari semua tempat wisata yang telah kami jelajahi, rasanya ada 1 tempat yang belum disentuh sama sekali, yakni kastil Jepang. Negara Jepang merupakan negara kerajaan yang tentu saja memiliki kastil-kastil bersejarah yang tersebar di seluruh kota besar, sehingga wajib rasanya mengunjungi salah satu dari kastil bersejarah tersebut. Berhubung kami masih punya JR Pass sisa 3 hari, tentu ogah rugi jika hanya menaiki kereta biasa. Setelah browsing sana sini, akhirnya kami memilih mengunjungi kastil Himeji yang bisa dicapai dengan shinkanzen Sanyo line dan lokasinya dekat dengan stasiun kereta.

JR Himeji station

Setelah semuanya siap, kami berangkat meninggalkan apartemen pukul 11 dan langsung menyebrang ke stasiun Shin-Osaka, lalu naik shinkanzen Sanyo line ke stasiun JR Himeji yang kurang lebih memakan waktu 1/2 jam perjalanan. Setibanya di stasiun JR Himeji, kami langsung mampir ke tourist information center untuk menanyakan transportasi menuju ke kastil. Dengan ramah petugasnya menjelaskan cara kesana bisa berjalan kaki selama kurang lebih 15 menitan atau menggunakan himeji loop bus berwarna cokelat. Berhubung kaki masih terasa pegal ya tentu saja kami memilih naik bis aja, toh harganya murah kok. Lokasi haltenya berada di terminal bis, platform 6.

Himeji loop bus
Tarif bis himeji

Himeji castle merupakan kastil terkokoh di Jepang yang masih mempertahankan bentuk aslinya, dan ditetapkan sebagai salah satu warisan dunia oleh UNESCO. Setelah mengalami renovasi besar-besaran selama 5 tahun, akhirnya kastil ini kembali dibuka tahun 2015. Sesuai namanya, Kastil Himeji terletak di Kota Himeji, Prefektur Hyogo. Kastil ini berada di wilayah Kansai bersama dengan Kyoto dan Osaka, serta satu prefektur dengan Kobe. Sepintas saat melihat kastil ini dari stasiun kereta terlihat kecil, tapi setelah tiba disana baru terlihat besar dan megah.

@gerbang depan kastil Himeji
@taman sannomaru himeji

Begitu memasuki gerbang Otemon berwarna putih, kita langsung disambut oleh ratusan pohon sakura yang mengelilingi kebun istana sannomaru. Taman ini berbentuk seperti alun-alun besar dimana semua orang boleh bebas memasukinya. Terlihat ada banyak keluarga Jepang yang menggelar karpet dan asyik ber-hanami ria di area ini. Setelah puas berkeliling area taman ini secara gratis, kami pun mulai berjalan menuju pintu gerbang Hinshi yang berada di ujung taman dan membayar tiket 1000 yen untuk dewasa dan 300 yen untuk anak-anak agar bisa memasuki area kastil.

Sakura tree are everywhere

Untuk menuju kastilnya, kita akan melewati beberapa lapis gerbang penjaga yang struktur bangunannya masih dipertahankan. Sebagaimana lazimnya sebuah kastil memang pasti terkenal akan sistem pertahanannya terhadap serangan musuh, sehingga bisa dibayangkan setiap lapisan gerbang dijaga oleh pasukan  darat dan pemanah yang siap menjatuhkan musuhnya demi mencegahnya memasuki kastil. Dibalik pintu gerbang terdapat beberapa ruangan tersembunyi dimana didalamnya biasanya ada ninja yang ngumpet disini dan siap keluar kapanpun musuh datang dari belakang. Belum lagi ditambah dengan lokasi kastil yang berada di atas bukit, sehingga semua orang terpaksa berjalan mendaki ke atas bukit. Bangunan kastilnya sendiri terdiri dari 6 lantai yang mayoritas terbuat dari kayu dan tangga yang curam, dan didalamnya ada begitu banyak ruangan rahasia tempat para ninja bersembunyi. Di sekitar area jendela kastil terdapat tempat para pemanah yang memiliki pandangan sangat jelas ke arah bawah. Seandainya sang raja ngumpet diujung atas kastil, para musuhnya dijamin dah gempor duluan deh karena kelelahan bertarung dan mendaki terus hingga ke puncak kastil. Semua bangunannya sangat orisinil dan terawat rapih, salut kepada pemerintah Jepang yang menaruh keseriusan dalam menjaga warisan budayanya. Info lebih lanjut mengeni kastil Himeji bisa klik disini.

inside of himeji castle

Setelah keluar kastil, sebetulnya kami ingin mengunjungi taman nishinomaru, yang mana merupakan private garden dengan ratusan pohon sakura dan aneka koleksi tanaman, namun sayangnya siang itu tiba-tiba turun hujan lebat, berangin dan dingin luar biasa. Apesnya lagi kami tidak membawa satupun payung, sehingga harus berteduh dulu di dalam kastil. Namun entah kebetulan atau tidak, tapi para pengunjung tidak diperbolehkan berteduh lama-lama di area kastil oleh petugasnya, sehingga dengan terpaksa ya kami berlari-lari kehujanan turun dari kastil dengan jarak yang lumayan jauh ke toko souvenir di area taman sannomaru untuk beli payung. Meski sudah beli payung, tapi para pembeli di toko juga sama diusir-usir oleh pedagangnya karena menghalangi pembeli yang hendak memasuki toko. Dengan kecewa, kamipun kembali berjalan menuju halte bis. Terlepas dari kemegahan kastilnya, tapi rasanya tidak ada area berteduh yang enak didalam area kastil karena kebanyakan model atap plafonnya yang kurang menjorok keluar, sehingga setiap orang yang berteduh jadi gampang kebasahan. Kondisi yang sama di halte bis, dimana atapnya berbentuk minimalis, jadi kita tetap harus membuka payung selama menunggu bis. Seandainya saja saya mengecek kondisi cuaca sebelum berangkat tentu kita bisa sedia payung sebelum hujan. Karena baju basah, kami terpaksa kembali ke stasiun Shin-Osaka dengan shinkanzen Sanyo line dan balik ke apartemen untuk mengeringkan pakaian dulu dan beristirahat sejenak.

hujan di siang bolong

Meski hujan tak kunjung berhenti hingga sore hari, rugi rasanya jika terus-terusan di dalam apartemen, sehingga kami memutuskan untuk mencari makan malam saja. Wilayah Osaka terkenal akan masakan Takoyaki-nya, namun sungguh sulit mencari yang halal. Untunglah kami menemukan referensi restoran halal Takoyaki yang bernama Matsuri yang lokasinya tidak jauh dengan stasiun Osaka. Karenanya pukul 5 sore kami beranjak keluar ke stasiun shin-Osaka dan naik kereta JR Osaka loop line ke stasiun Osaka. Namun sebelum lanjut lagi naik kereta ke restoran, saya ingin mencoba shalat maghrib di mushola stasiun Osaka. Lokasi musholla ini agak tersembunyi di dekat pintu keluar, karenanya butuh bantuan petunjuk jalan dari bagian information center, sekalian juga minta tolong dibuka akses pintu musholla. Tanpa membuang waktu, kami langsung mencari lokasi musholla dan beribadah shalat maghrib disana sebentar.

Musholla @stasiun Osaka

Selepas shalat, kami melanjutkan perjalanan dengan kereta Hanshin line ke stasiun Nodahanshin. Turun dari stasiun tinggal berjalan kaki sedikit menuju restoran Matsuri. Seperti rata-rata restoran muslim lainnya di Jepang, restoran ini berukuran kecil dimana terbagi menjadi 2 ruangan makan, yakni ruangan depan dan belakang. Kalau di jakarta biasanya pedagang kios Takoyaki yang masak, maka tidak demikian dengan di restoran ini. Disini rasanya seperti takoyaki cooking class, dimana mbak pramusajinya menyediakan nampan alat masak takoyaki, 1 pitcher ukuran kecil berisi adonan takoyaki dan aneka taburan isiannya. Jadi kita bisa bebas berkreasi membuat Takoyaki sesuai selera. Tentu saja anak-anak sangat bersemangat bisa belajar memasak Takoyaki. Berhubung yang masak anak-anak, ya soal rasa harap dimaklumi aja….. ada yang lembek karena kurang matang dan ada yang setengah gosong…. haha2….  Meski harganya cukup mahal untuk seporsi Takoyaki berisi 10 buah, tapi pengalaman memasak Takoyaki sendiri menjadi suatu kenangan yang tidak terlupakan bagi keluarga lho hingga saat ini…..  Berhubung perut masih belum kenyang, jadi kita pesan mie ramen lagi deh…..

Takoyaki cooking class in Matsuri restaurant

Sebelum pulang, kami didatangi oleh owner restoran dan beliau meminta foto keluarga kami. Katanya sih buat portfolio restorannya yang telah dikunjungi oleh turis muslim dari mancanegara….. mudah2an tambah sukses ya usahanya…..  Setelah berfoto, kamipun berpamitan dan kembali ke apartemen dengan rute kereta yang sama ditengah derasnya hujan yang awet banget dari siang. Meski jadwal hari ini tidak banyak tempat wisata yang dikunjungi, tapi so far terasa berkesan karena benar2 terasa kejutannya. Bagusnya adalah kita jadi bisa istirahat lebih cepat malam ini agar besok bisa maksimal menjelajahi Osaka. See you tomorrow…..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *