Korea Selatan 2017, Day 1: Jakarta – Incheon

Jika mendengar kata Korea Selatan, apa yang terpikirkan di benak anda? Bagi para ABG cewe maupun ibu-ibu pasti langsung menyambutnya dengan surganya para oppa ganteng dan drama korea yang romantis. Bagi para pesolek yang senang dengan perawatan tubuh pasti langsung bilang Korsel itu pusatnya kosmetik dan para ahli bedah plastik tubuh. Bagi para pencinta olahraga  pasti langsung bilang Korsel termasuk salah satu negara sepakbola dan bulu tangkis terkuat di Asia. Bagi yang senang dengan berita politik pasti langsung berkata Korsel saat ini sedang dalam status perang dingin dengan tetangganya, Korea Utara yang berpotensi pecah kapan saja. Namun bagi para scientist, Korsel terkenal dengan kecanggihan teknologi yang tidak kalah dengan negara Jepang dan jerman. Dan bagi pasangan yang sedang kasmaran pasti akan setuju bahwa negara Korsel merupakan negara yang romantis.

Perjalanan ke Korea Selatan kali ini sebetulnya berbau kebetulan dan tidak terlalu direncanakan secara matang seperti negara lain yang kami kunjungi. Semuanya berawal dari tiket promo 3,7 juta dari Garuda Travel fair yang sukses menggoda kami untuk mengunjungi negeri gingseng tersebut. Meski demikian, tidak ada sedikitpun penyesalan karena ada begitu banyak hal baru yang kami dapatkan selama berlibur ke Korea Selatan. Tentu menyenangkan bisa mendapatkan pengalaman liburan di musim gugur, apalagi semua orang bilang bahwa saat yang terbaik untuk mengunjungi Korea Selatan adalah musim gugur di bulan September – November. Seandainya ada yang bertanya apakah tidak cemas mengingat status Korea Selatan yang sedang perang dingin dengan Korea Utara?? jawabannya sebenarnya adalah “Iya”, tapi alhamdulillah selama perjalanan kami semuanya lancar dan tidak ada satupun kejadian yang mengkhawatirkan.

Persiapan sebelum keberangkatan:
1.  Jaket musim dingin

Mungkin terdengar aneh mengapa kami menyiapkan pakaian musim dingin untuk menikmati musim gugur. Jawabannya sebenarnya berawal dari weather forecast di accuweather.com. Korea Selatan merupakan negara 4 musim yang suhu rata-ratanya agak sedikit dibawah Jepang, sehingga temperatur udara bulan Oktober saat kami kesana berkisar antara 8 – 18 derajat celcius. Dengan rentang temperatur yang sangat lebar ini memang membuat dilema saat packing, karena saat siang hari cuacanya cukup sejuk, sehingga sebetulnya lebih nyaman jika menggunakan sweather / jaket biasa. Namun saat malam hari suhunya bisa turun hingga 8 derajat celcius dan sangat berangin, apalagi saat turun hujan. Karenanya agar praktis, akhirnya kami memutuskan untuk membawa jaket winter sajalah agar kopernya bisa lebih ringkas.

2.  Visa Korea Selatan

Tidak seperti Jepang yang memberikan Visa Waiver untuk para turis Indonesia, Korea Selatan tidak memberikan fasilitas Visa jenis ini. Sehingga tidak ada cara lain selain apply Visa wisata single entry dengan mendatangi kedutaan besar Korea Selatan di jalan Jend Gatot Subroto Kav 57, Setiabudi, Kuningan.

Sebelum datang kesana sebaiknya mengisi formulir yang bisa di download disini dan membawa sejumlah persyaratan yang dibutuhkan, seperti:

  • Pas foto 4×6 dengan background warna putih
  • pasport asli & foto kopi
  • Surat keterangan kerja & Slip gaji terakhir
  • Foto kopi kartu keluarga (bagi yang membawa keluarga)
  • Rekening koran 3 bulan terakhir
  • Surat sponsor (jika ada)
  • Fotokopi tiket pesawat & akomodasi penginapan
  • fotokopi PBB / SPPT tahun terakhir (penting)
  • Biaya pembuatan Visa turis single entry sebesar Rp. 544.000 / orang (tahun 2017)

Jam kerja dari kedubes Korea adalah hari senin – jumat, pukul 09.00 – 12.00 untuk pengajuan Visa dan 13.00 – 16.00 untuk pengambilan Visa telah selesai. Proses pembuatan Visa-nya sendiri memakan waktu 5 hari kerja dan berlaku selama 3 bulan dengan masa kunjungan maksimum 30 hari.

3.  Sewa apartemen via airbnb

Setelah merasakan kenyamanan menginap di apartemen dan berbagai penghematan yang didapatkan, untuk trip kali ini pun kami memilih menginap di apartemen yang terletak di Hongdae. Belajar dari pengalaman liburan di Jepang yang masih harus berjalan kaki 10 menitan dari stasiun ke apartemen setelah seharian wira wiri, kali ini saya mencari apartemen yang lokasinya sedekat mungkin dengan stasiun subway agar bisa menghemat energi. Untunglah kami mendapatkan apartemen yang lokasinya persis diatas exit 3 stasiun Hongik University dan sangat strategis kemana-mana karena stasiun ini merupakan integrated station dimana kereta bandara (Arex), jalur MRT line 2 & Gyeongui-Jungang line serta bis berada disini. Jadi dari bandara cukup sekali naik kereta Arex all stop train.

Hostnya sangat ramah, responsive dan sangat helpful membantu setiap pertanyaan kami selama disana. Fasilitas apartemennya juga sangat komplit untuk para traveler:  kompor, microwave, 2 double bed + sofa bed, water heater & air conditioning, mesin cuci & dryer, setrika, dan wifi portable yang bisa dipinjam. Kamarnya bersih dan harganya cukup murah, 800 ribu / malam. Selain itu kelebihan apartemen ini adalah dibawahnya terdapat travel depot, dimana saya membeli sim card HP dengan paket data selama 8 hari seharga 25.000 won. Detail apartemen yang kami sewa bisa klik disini.

4.  Mempelajari sistem transportasi

Tidak seperti Jepang yang jaringan keretanya sangat rumit dan dimiliki oleh beberapa perusahaan swasta, jalur kereta Korea Selatan sangat simple dan hanya dimiliki oleh pemerintah. Semuanya serba mudah dan tidak ribet. Paling yang membingungkan adalah saat pergantian kereta reguler ke ITX saja, karena keduanya berada di jalur yang sama. Secara umum transportasi kereta di Korea Selatan terbagi menjadi 4 jenis:

  • Reguler / Subway:  Jalur transportasi kereta dalam tanah maupun di permukaan yang menghubungkan antar wilayah di dalam kota. Info lebih lanjut silakan klik disini

  • AREX (Airport Express):  Jalur kereta yang menghubungkan bandara Incheon & Gimpo ke pusat kota. Arex ini terbagi menjadi 2, yakni AREX all stop train yang berhenti di tiap 12 stasiun dari bandara Incheon hingga stasiun Seoul, dan AREX Express yang lebih cepat karena hanya berhenti di stasiun bandara Incheon dan stasiun Seoul. Info lebih lanjut silakan klik disini.

  • ITX (Intercity Train Express):  Kereta express yang menghubungkan antar kota dalam 1 provinsi. Jalurnya sendiri tumpang tindih dengan jalur kereta reguler. Yang membedakan adalah kereta ini hanya berhenti di stasiun tertentu, tidak seperti kereta reguler yang berhenti di tiap stasiun. Seperti contohnya jika hendak ke Nami island bisa menggunakan ITX rute Chuncheon yang lebih cepat dibandingkan dengan kereta biasa. Info lebih lanjut silakan klik disini.

  • KTX (Korea Train Express):  Kereta peluru yang sejenis dengan Shinkanzen-nya Jepang, yang menghubungkan antar provinsi. Seperti contohnya Seoul – Busan atau Pyeongchang. Info lebih lanjut silakan klik disini.

Selain kereta, moda transportasi di Korea Selatan adalah taksi dan bis. Kalau taksi hampir semua sopirnya jujur dan memakai argo, tapi terkadang mereka suka menolak penumpang jika rutenya pendek. Sementara naik bis merupakan tantangan tersendiri, karena tidak ada tulisan papan digital yang memberitahukan terminal yang dituju dan mayoritas sopirnya tidak bisa berbahasa inggris. Tapi kalau takut naik bis, maka kita terpaksa harus merelakan destinasi menarik yang memang hanya terjangkau oleh bis / taksi, seperti Gwangmyeong cave, Gyeonggi english village, heyri art, provence village, dan lain sebagainya. Karenanya untuk mempermudah, kita harus menghafalkan nomer bis, lokasi haltenya, nama halte yang dituju dan menunjukkan lokasi tujuan ke sopirnya dalam bahasa hanggeul.

Sedikit tips dari saya, bukalah google map selama perjalanan naik bis. Disana terlihat rute perjalanan dan titik biru yang menunjukkan lokasi kita akan bergerak dari titik keberangkatan hingga mendekati tempat tujuan. Jika sudah dekat, maka kita bisa bersiap-siap turun dari bis.

5.   Mempelajari metode transaksi finansial

  • Jika Hongkong punya Octopus card, Singapore punya EZ-link card, Jepang punya SUICA / PASMO card, maka Korea Selatan punya T-Money. Dengan menggunakan kartu ini akan mempermudah semua transaksi pembayaran apapun, mulai dari naik kereta / bis / taksi, belanja di mini market / restoran, hingga membeli tiket wisata. Kartu ini bisa dibeli di seluruh mini market dan dapat di top up di vending machine seluruh stasiun. Bagi para turis, disarankan membeli Seoul cityplus travel card ketimbang T-Money biasa, karena akan mendapatkan diskon 100 won di semua moda transportasi. Info lebih lanjut silakan klik disini.

  • Sedia kartu ATM CIMB Niaga dengan saldo minimum 10 juta. Karena saya ogah membawa banyak uang rupiah / dolar dari Indonesia yang beresiko hilang selama perjalanan, saya memilih membawa kartu ATM favorit & andalan saya, CIMB Niaga. Karena sejauh ini hanya Bank CIMB Niaga yang membebaskan biaya transaksi penarikan uang di  seluruh atm luar negeri yang berada didalam jaringan Cirrus / Mastercard. Selain itu kurs Won jika dibeli di money changer Indonesia mahal banget, yakni 1 Won = 12.8 rupiah (Okt 2017), sementara jika tarik langsung di atm korea memiliki kurs yang lebih bagus, yakni 1 Won = 12.05 rupiah.

Special Thanks kepada bank CIMB Niaga yang sangat mempermudah liburan saya keluar negeri.  Info lebih lanjut silakan klik disini.

6.   Mengunjungi kantor KTO (Korea Tourism Organization)

Kebetulan 2 minggu sebelum keberangkatan ke Korea, saya membaca postingan salah satu member backpackers asal Indonesia yang menyarankan untuk mendatangi kantor KTO setelah mendapatkan Visa Korea Selatan. Karenanya kamipun mengunjungi kantor KTO di gedung GKBI di Sudirman dengan membawa data passport, fotokopi tiket pesawat, fotokopi bukti reservasi penginapan dan Visa Korea Selatan.

Disana kami diberikan aneka informasi seputar festival yang sedang berlangsung di Korea, rekomendasi destinasi wisata berikut dengan transportasinya, peta Korea Selatan, dan yang terpenting adalah mendapatkan buku voucher diskon tempat-tempat wisata yang menarik. Jadi sangat worthed banget mengunjungi KTO ini…..

7. Install aplikasi Subway Korea di HP

Last but not least, wajib install aplikasi Subway Korea di HP Android. Karena aplikasi ini sangat berguna untuk mencari informasi jalur kereta lengkap dengan time table-nya yang akan menjadi panduan kita dalam menentukan rute perjalanan dan perkiraan waktu kedatangan – tiba dari kereta yang hendak dinaiki.

Hari keberangkatan

Terbiasa dengan maskapai merah yang biasanya flightnya ambil yang siang, untuk flight maskapai biru kali ini jadwal penerbangannya adalah jam 23.30 tengah malam dan berangkat dari terminal 3 ultimate. Kami tiba pukul 20.00, sehingga masih punya waktu untuk sedikit menjelajahi terminal baru milik bandara Soekarno Hatta ini.

Dari segi ukuran, bandara ini memang luas dan panjang sekali. Meski sedikit terlambat, akhirnya boleh dibilang Indonesia memiliki bandara modern yang sekelas bandara International negara lain. Selain kafe, restoran dan toko-toko, disini ada begitu banyak fasilitas untuk para pengunjung.

 

Seperti waiting room, charging station, mini dry park, toilet berkelas bintang 4 yang super bersih, air minum refill, dan lain sebagainya.

Selain itu di dalam waiting area boarding, terdapat mini kids playground & 8″ tablet samsung yang akan memanjakan anak-anak agar tidak kebosanan menunggu naik pesawat.

Namun dari semua kelebihan tersebut, masih terdapat beberapa kekurangan seperti:

  1. Fasilitas free wifi yang tidak bisa diakses sama sekali. Memang dari dulu Indonesia terkenal sebagai negara pelit urusan public internet sih….
  2. Mesin imigrasi otomatis bagi para pemegang e-Passport memang tersedia dalam jumlah banyak, tapi sayangnya hanya untuk dewasa saja. Selain itu alat scanningnya tidak pernah berhasil membaca data e-Passport saya dan beberapa penumpang lain di depan saya, sehingga ujung-ujungnya kita balik ke jalur antrian imigrasi reguler juga.
  3. Tidak ada tempat untuk ber-leyeh2 di area boarding seperti bandara Changi & KLIA. Padahal asyik juga jika seandainya ada semacam movie room atau video games room disana sebagai sarana killing time menunggu pesawat.

Pukul 23.10, kami mulai boarding naik pesawat. Enaknya naik pesawat Garuda, disediakan fasilitas in-flight entertainment dan free wifi 15 menit selama penerbangan. Jadi anak-anak tidak kebosanan karena bisa bermain video games dan nonton film kartun. Meski waktu sudah semakin malam dan lampu penerangan sudah diredupkan, mereka tetap saja bermain dengan asyiknya. Penerbangan dari Jakarta menuju Seoul memakan waktu hampir 7 jam lamanya. Kalau saya dan istri sih memilih untuk tidur sajalah agar besok pagi bisa langsung cussss keliling Seoul. Can’t wait to see tomorrow….

 

 

2 Comments Add yours

  1. Azis says:

    Mas bisa minta info penginapannya yg di hongdae univ, karena setelah saya klik tidak ada

    Terima kasih sebelumnya

    1. Akthuro says:

      Mas Azis,
      Kalau saya test link-nya baik2 aja kok.
      tapi kalau memang tidak bisa, silakan buka link ini
      atau boleh dibaca artikel saya tentang sewa apartemen disini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *