Korea Selatan 2017, Day 2: Hongik & Ehwa Univ – Trick eye Museum – Nanta Show

Setelah melalui long flight hampir 7 jam lamanya, akhirnya pesawat Garuda kami tiba di Incheon International Airport jam 08.30. Setelah keluar pesawat, seluruh penumpang berjalan kaki ke arah gerbang imigrasi dan diminta untuk menulis data pendatang berikut barang-barang yang harus di declare. Untunglah formulir tersebut sudah diberikan oleh pramugari saat penerbangan, jadi kita bisa isi dokumen saat di pesawat dan gak perlu lagi buang-buang waktu di imigrasi. Namun ada satu hal yang menarik perhatian saya, yakni tersedianya kacamata baca di meja dokumen pengisian data pendatang. Suatu hal yang unik karena seumur-umur baru sekali ini saya lihat fasilitas ini di semua bandara internasional yang pernah saya datangi…. 

Setelah mendapatkan cap kedatangan di passport dan ambil koper bagasi, jantung mulai berdebar-debar karena kami membawa banyak makanan kering di dalam koper. Sempat baca salah satu posting rekan backpackers kalau Korea Selatan termasuk negara yang ketat sekali urusan beginian, sehingga katanya pernah ada yang bawa rendang / bakso / lumpia kena razia oleh petugas imigrasi. Tapi mungkin karena kepagian atau entah kenapa, saat itu petugas customs-nya hanya ada 2 orang saja yang berjaga dan tidak ada satupun anjing pelacak sebagaimana cerita orang-orang. Alhasil tentu saja tidak ada satupun koper penumpang yang diperiksa….. YAYYYYY!!! 

Annyeonghaseyoooooo….. !!!

Dengan rasa gembira, akhirnya kami secara sah menginjakkan kaki di Korea Selatan. Setibanya di arrival hall bandara, saya mampir dulu ke mini market C.U yang terletak disebelah pintu kedatangan untuk membeli T-Money seharga 3000 won dan langsung di top up masing-masing kartu 50.000 won untuk dewasa & 25.000 won untuk anak-anak.

Setelah kartu T-Money sudah ditangan, kami langsung geret koper menuju stasiun untuk naik kereta Arex all stop train. Sebetulnya ada pilihan Arex Express atau Arex all stop train, namun berhubung apartemen yang kami sewa berada di stasiun Hongik University, tentu tiada pilihan lain selain naik Arex all stop train. Dalam perjalanan kesana, kami melewati bioskop CGV yang menurut saya cukup unik mengingat bioskop ini lokasinya berada di dalam bandara. Saya perhatikan sih bioskopnya sepi pengunjung, tapi mungkin karena hari masih kepagian sehingga belum terlalu banyak orang. Kalau lihat filmnya semuanya film korea, gak ada film barat. Seru juga yah…, kita baru aja menyentuh Korea Selatan sudah menemukan 2 keunikan.

Untuk naik kereta Arex gak perlu beli tiket lagi, tapi cukup tap kartu T-Money di gate masuknya dan langsung masuk menuju peronnya.

Kereta Arex all stop train ini merupakan kereta commuter, sehingga kursinya berada disamping kanan kiri dan tidak ada tempat khusus untuk menaruh koper. Berbeda dengan jika naik kereta Arex Express yang kursinya nyaman dan menghadap ke depan semua, selain itu disediakan kompartemen khusus untuk menaruh koper. Namun sayangnya kereta ini hanya direct dari bandara ke stasiun Seoul. Perjalanan dari bandara ke stasiun Hongik University memakan waktu kurang lebih sejam lamanya.

Pukul 11.00 kami tiba di Hongdae dan langsung keluar exit 3 stasiun Hongik untuk menuju ke apartemen. Sebetulnya waktu check in di Korea itu jam 14.00, namun karena hostnya baik, kita diperbolehkan early check in…..  Lumayanlah kita bisa taruh koper, cuci muka, sikat gigi, bersih-bersih dan makan siang di apartemen dulu sebelum memulai half day city tour.

Ehwa University

Tempat pertama yang kami datangi adalah Ehwa University. Tempat ini sebenarnya adalah kampus khusus wanita, namun yang membuatnya menarik adalah bangunannya yang berada dibawah permukaan tanah. Selain itu arsitekturnya yang bergaya eropa klasik benar-benar terlihat sangat menawan. Seakan lupa kenyataan bahwa kita sebenarnya berada di Korea. Karenanya tidak heran kampus ini menjadi salah satu must visit sightseeing place in Seoul.

Untuk menuju lokasi, kita naik subway line 2 ke st. Ehwa University dari st. Hongik university dan keluar di pintu exit 2 atau 3. Sepanjang jalan dari subway ke universitasnya penuh dengan banyak toko, mulai dari butik, kedai kopi, cafe, hingga aneka toko kosmetik bermerk yang semuanya bertuliskan “SALE”. Tentu saja istri dan the girlies langsung melipir sana sini untuk belanja. Saya sendiri sih tidak paham harga kosmetik, tapi kata istri harganya bener-bener murah sehingga pada kalap deh…..  Mungkin karena lokasinya yang sebetulnya untuk segmen kantong mahasiswa, sehingga harga barang-barang disini memang lebih terjangkau daripada di Hongdae atau Myeongdong. Alhasil kita menghabiskan waktu hampir 2 jam lamanya hanya di sepanjang jalan Ewhayeodae-gil dan belum nyentuh kampusnya. haha2…. 

Sekilas melihat kampus Ehwa ini memang terlihat kece dan membuat saya jatuh hati. Sedari dulu memang cita-cita saya adalah bisa jalan-jalan ke eropa, namun hingga sekarang belum kesampaian. Rasanya jika kuliah disini tidak akan membosankan. Dan istri pun langsung nyeletuk ke Alisya, “Kak, nanti kamu kuliah disini aja kalau sudah besar…..”  Baru melihat bangunan depannya saja sudah membuat penasaran untuk mengelilingi kampusnya, namun niat tersebut terpaksa urung dilakukan mengingat hari sudah semakin sore. Dari sedemikian banyaknya pengunjung, saya rasa yang benar-benar mahasiswanya hanya 10% kali, sisanya turis.

Sebelum balik ke stasiun, kami sempat mampir dulu di Line store yang berada disebelah pintu masuk Ehwa. Si kakak langsung deh meluk boneka beruang super besar yang menjadi icon Line.

Hongik University

Dari Ehwa, kita kembali ke Hongdae naik subway line 2 dari st. Ehwa Univ ke st. Hongik Univ dan keluar di exit 7. Sengaja memilih keluar dari sini agar bisa menyusuri sisi jalan Hongdae yang ramai. Sama seperti Ehwa, daerah Hongik University ini sebenarnya merupakan area sekitar kampus, sehingga tidak heran banyak sekali anak muda yang nongkrong disini. Selain itu lokasinya yang strategis karena berada dalam 1 jalur kereta bandara sukses menambah jumlah wisatawan mancanegara datang kesini. Boleh dibilang, sepanjang jalan Hongdae ini tidak pernah sepi dari pagi hingga malam hari. Selain banyaknya toko, butik, cafe, restoran, dan tempat wisata lainnya, disini benar-benar tempat kawula muda ngumpul dan saling menunjukkan bakatnya. Demi mengembangkan kreatifitas warganya, terlihat pemerintah daerahnya membuat taman yang diberikan beberapa slot berbentuk lingkaran menyerupai mini stage, sehingga siapapun bisa bebas memakainya untuk berkreasi dengan street performance-nya. Sebagai contohnya di slot pertama terlihat anak muda yang bernyanyi dengan gitarnya, slot kedua terlihat seseorang menunjukan keterampilan bermain bola tangan dan slot ketiga terlihat seorang pesulap yang asyik menghibur penontonnya. Semakin malam, tempat ini akan semakin ramai dan dijamin tidak akan membosankan melihatnya.

Untuk urusan toko dan butik pakaian terus terang saya tidak terlalu mengesplorasinya, karena tujuan utama ke Korea adalah bukan untuk belanja pakaian. Tapi sepintas sih terlihat model pakaiannya sangat update dan fashionable. Gak heran karena anak-anak muda Korea ini sangat mengutamakan penampilan dan hampir semuanya sangat modis dalam berpakaian. Soal ditanya apakah barang-barangnya murah atau tidak, menurut saya sih kurang lebih sama dengan di Jakarta. Tapi dengan harga yang sama, bahan pakaiannya lebih bagus dan tebal sih menurut saya.

Sebelum lanjut menuju ke Trick eye museum, kami melipir sebentar di salah satu warung tenda di pinggir jalan untuk mencoba street culinary di Korsel. Karena sering terlihat adegan jajanan di korea dari film drakor, kami jadi penasaran untuk mencicipi tteobokki, odeng (fish cake), kimbab dan aneka gorengan. Semua jajanannya berbasis beras, jadi rasanya bisa diterima di lidah orang Indonesia. Namun yang unik adalah saat mencoba tteobokki yang ternyata saus gochujang-nya luar biasa pedasnya….  Kalau soal harga, semuanya murmer lho…… seperti fish cake yang harganya cuman 1000 won.

Trick Eye & Ice museum

Di tengah pusat keramaian Hongdae, terdapat Trick Eye Museum & Love museum. Lokasinya agak nyempil di hook dan papan petunjuknya gak begitu keliatan. Melihat bentuk bangunannya, sepintas saya ragu memasukinya, tapi rupanya kedua museum ini berada dibawah tanah. Karena membawa anak kecil, tentu saja love museum terpaksa di skip…. padahal penasaran juga sih melihat isinya….. 

Setelah menuruni tangga hingga level B2, akhirnya tiba juga di museum ini. Didalamnya terdapat 3 atraksi, yakni trick eye museum, ice museum & VR simulator. Saya membeli tiket trick eye & ice museum saja seharga 12.000 won setelah diskon 30% dari harga normal 15.000 won. Trick eye museum ini masih 1 afiliasi dengan Trick eye museum di Hongkong, Bangkok & singapore, sehingga ada kemiripan lukisan jika pernah mengunjungi salah satu museumnya. Namun di Seoul ini ada keunikan tersendiri, yakni kita diminta install aplikasi “trick eye museum” di HP android. Dengan aplikasi ini kita bisa melihat special effect dari lukisan-lukisan yang ada di museum di layar kamera HP. Tentu saja menambah keseruan saat bernarsis ria didalamnya. Sebagai contoh misalkan lukisan bertema ikan hiu, dengan aplikasi ini di HP jadi terlihat seolah-olah ada hiu hidup yang berkeliaran disekitar objek foto.  Tanpa basa basi, langsung dong kita tunjukin keahlian kita sebagai keluarga narsis dari Indonesia….. haha2…. 

Dari Trick eye museum, kita bergeser ke ruangan sebelahnya, yakni ice museum. Area ini merupakan ruangan freezer dimana didalamnya terdapat pahatan es balok berbentuk macam-macam, seperti kastil, sepatu, rumah, perosotan, patung, dan lain sebagainya. Sebelum memasukinya, kita diminta memakai semacam kain tebal penutup badan untuk menahan hawa dingin saat di dalam ruangan. Dengan semangat 45, kami masuk ruangan dan mulai berfoto ria. Namun belum juga sampai 2 menit, badan mulai menggigil dan tangan serasa beku. Edun dinginnya….!! padahal sudah memakai jaket winter + kain super tebal, tapi tetap saja hawa dinginnya terasa menusuk sampai ke tulang…..  Dan daya ketahanan kita di suhu dibawah nol derajat hanya sanggup bertahan selama 5 menit saja…..  Jadi boro2 mau explore dari ujung ke ujung, yang ada hanya sekedar quick shot sana sini dan buru2 check out…..  Emang susah jadi manusia tropis, baru masuk ruangan ini aja dah sanggup berlama2, gimana nanti mau coba winter vacation?? 

Nanta Show

Tidak jauh dari trick eye museum, di area Hongdae ini terdapat theater Nanta Show. Kita cukup berjalan kaki 5 menit menuju lokasi dan theaternya sendiri berada di bawah permukaan tanah. Di Korea ini memang ada begitu banyak bangunan yang dibangun dibawah permukaan tanah, populasinya lebih banyak daripada Jepang. Mungkin karena keterbatasan lahan atau harga tanah yang mahal, sehingga pembangunannya banyak yang model demikian. Untuk mencapai theaternya, kita harusmenuruni anak tangga agak jauh hingga ke lantai B3 untuk membeli tiket dan B4 untuk tempat pertunjukannya. Untuk urusan tiketnya, saya memesan lewat website KLOOK yang lebih murah harganya daripada membeli tiketnya secara langsung. Selain itu sengaja memesan jauh hari karena takut kehabisan tiket pertunjukannya jika memesannya baru pada hari H. Dengan KLOOK, kita bisa tinggal memilih tanggal kedatangan, sehingga voucher bisa langsung ditukar disana. Info lebih lanjut mengenai KLOOK ini bisa klik disini.

Pertunjukannya sendiri berlangsung kurang lebih 1.5 jam. Show dimulai dengan adegan serius dimana terdapat 4 orang bertudung yang duduk sembari memainkan alat musik tradisional korea, lalu baru deh mulai kisah lucu dan seru mengenai 4 orang koki sebuah restoran bersama bosnya yang galak. Mereka menunjukan keterampilan memasaknya sembari memanfaatkan alat masaknya menjadi sebuah kesenian musik yang unik dan menghibur. Meski pertunjukannya tidak menggunakan bahasa verbal, namun mereka bercerita dengan bahasa tubuhnya, sehingga mudah dimengerti alur ceritanya. Dan serunya lagi, nyaris tidak ada satupun adegan yang tidak memancing gelak tawa…..  So far inilah pertunjukan terbaik di Korea Selatan yang pernah kami tonton….. two thumbs up!! 

Yoogane

Sebelum pulang ke apartemen, kami mampir dulu di restoran Yoogane yang berlokasi di tengah2 Hongdae (tempat mini stage street performance). Restoran franchise ini sangat populer di Korea Selatan dan bahkan sudah buka cabang di Jakarta. Namun demikian kami tetap penasaran untuk merasakan menu masakannya langsung di negara asalnya. Meski belum memiliki label halal, namun restoran ini sudah berlabel “No pork, no lard” alias tidak ada menu babi. Sekedar informasi, demi menggenjot pariwisata muslim di Korea dan menjamin keamanan makanannya, KTO (Korea Tourism Organization) telah membuat klasifikasi restoran yang ramah muslim menjadi 4 tipe, yakni:

  • Halal Certified:  Restoran yang mendapatkan akreditasi halal dari Korea Muslim Federation (KMF)
  • Seld certified:  Restoran yang dinyatakan halal sendiri oleh pemilik restoran yang beragama muslim
  • Muslim friendly:  Restoran yang menyajikan menu makanan halal, namun beberapa masih menyediakan minuman beralkohol
  • Pork free:  Restoran yang tidak menyajikan menu halal, namun tidak menggunakan bahan dasar babi.

Di Korea Selatan, rata-rata model restorannya menyediakan sebuah kompor besar di setiap meja makannya. Mereka senang dengan makanan berbahan dasar beras & daging yang dimasak langsung hangat-hangat, termasuk juga dengan street food-nya. Untuk minuman, rasanya juga hampir semua restoran menyediakan minuman soju / alkohol. Jadi tidak heran jika selama liburan di sini melihat begitu banyak orang mabuk di malam hari. Menurut pengamatan saya, jumlah orang mabuknya di negara Korsel ini lebih banyak daripada penduduk jepang.

Balik lagi soal restoran Yoogane, kami memesan marinated chicken dak galbi untuk 3 porsi. Menu ini merupakan nasi goreng ala korea yang dicampur dengan tteoboki, sayuran kubis dan ayam. Seteleah memesan, seorang waiter kemudian menaruh bahan baku masakan di meja kami dan langsung ditinggal. Sempat kebingungan apakah maksudnya kita disuruh masak sendiri atau bagaimana, soalnya kok agak lama tidak ada satupun yang melanjutkan proses memasaknya. Karena bingung, akhirnya istri mulai sedikit oseng2 sendiri deh….  Dan tidak lama kemudian datanglah waiter kedua yang mengambil alih dan mencampur semua bahan baku masakan ke dalamnya. Setelah itu langsung ditinggal lagi deh…… Beberapa menit kemudian, datanglah waiter ketiga untuk mulai memasak makanan tersebut. Setelah matang, barulah kita dipersilakan untuk makan langsung dari wajan panggangannya. Dan rasanya sangat cocok di lidah, memang agak pedas, tapi enak lho…… 

Setelah perut kenyang, kamipun kembali ke apartemen untuk beristirahat. Hari ini merupakan hari pertama yang menyenangkan dan ada begitu banyak hal menarik yang sudah kami lihat disini. Rasanya sudah tidak sabar menanti untuk petualangan esok hari.