Korea Selatan 2017, Day 3: Namsangol Hanok Village – Itaewon – Dongdaemun – Namsan Tower

Acara pagi ini seharusnya dimulai dari mengunjungi K-Star road Gangnam untuk melihat boneka patung dengan nama-nama pemusik terkenal di Korea. Jejeran patung idol-idol Korea ini berbentuk beruang berwarna-warni yang membentang disepanjang jalan Gangnam dari Taman Dosan sampai Garosugil. Selain itu disekitar area ini juga terdapat bermacam perusahaan label artis Korea, seperti JYP, Rain company, FNC & SM Entertainment. Jika beruntung, terkadang bisa melihat salah satu artis yang sedang berkeliaran disana. Namun sayangnya niat kesana di pagi hari terpaksa di-skip karena kami semua bangun kesiangan…..

Namsangol Hanok Village

Karena kesiangan, akhirnya kami memutuskan untuk jalan-jalan ke Namsangol Hanol Village. Dari Hongdae, kita naik subway line 2 dari st. Hongik University ke st. Eujiro ga-3 dan ganti subway line 3 ke st. Chungmuro, lalu keluar melalui exit #3. Begitu keluar tinggal langsung ikutin papan petunjuk menuju lokasi dengan berjalan kaki sekitar 5 menitan. Namsan Hanok Village ini merupakan salah satu tempat kebudayaan Korea Selatan dimana terdapat bangunan dan rumah tradisional. Untuk memasukinya tidak dipungut biaya sedikitpun, alias gratis, karena tempat ini merupakan sarana yang diberikan pemerintah bagi siapapun yang ingin mempelajari dan merasakan suasana masa lalu Korea Selatan dan lokasinya sangat mudah dijangkau karena terletak di tengah Seoul. Bagi yang ingin berfoto ria memakai hanbook, didepan gerbang masuk terdapat tempat penyewaan hanbook.

Namsangol Hanok Village adalah sebuah desa tradisional mini yang terdiri dari 5 rumah bergaya tradisional Korea. Di tempat ini kita bisa melihat taman dan rumah tradisional, termasuk rumah milik Ratu Yoon, Permaisuri dari Sungjeonghyo. Disini, setiap minggunya dihelat sedikitnya tiga upacara pernikahan tradisional. Namsangol Hanok Village menampilkan berbagai barang rumah tangga dan barang-barang lainnya yang diatur sama seperti pada masa periode Dinasti Joseon berlangsung. Taman tradisional di desa ini dihiasi dengan pohon-pohon asli yang tumbuh di Namsan, lembah yang dimana airnya mengalir secara alami, sebuah paviliun dan kolam. Hampir di tiap sudut tempat ini sangat indah dan bagus untuk difoto, apalagi jika kesana saat musim gugur seperti kami, karena pohon-pohon semuanya bermekaran berwarna-warni merah, kuning dan hijau.

Namsangol Hanok Village buka pukul 09.00-18.00 pada bulan November sampai Maret. Sedangkan pada Juni hingga Agustus buka dari jam 09.00 hingga 20.00. Untuk bulan April hingga Mei dan September sampai Oktober, buka dari pukul 09.00-19.00 waktu setempat. Khusus pada hari Selasa tempat ini tutup. info lebih lanjut mengenai tempat ini bisa klik disini.

Itaewon

  • Seoul Central Mosque

Lelah berkeliling, perut pun minta jatah untuk diisi. Kami melanjutkan perjalanan ke Itaewon dengan naik subway line 3 dari st. Chungmuro ke st. Yaksu, lalu ganti subway line 6 ke st. Itaewon dan keluar melalui exit #3. Selain bermaksud untuk mencari makanan yang halal, Saya bermaksud sekalian menunaikan shalat Jum’at di Seoul Central Mosque. Daerah ini merupakan daerah multi etnis dan bangsa, sehingga hampir semua toko dan restorannya ditulis dalam bahasa inggris. Lokasinya sendiri berada di tengah-tengah Yongsan-gu, yang berbatasan dengan bagian utara Sungai Hangang, juga dekat dengan Stasiun Seoul, Myeong-dong, dan Gunung Namsan.

Karena mayoritas komunitas muslim di Seoul bertempat tinggal disini, tentu ada begitu banyak restoran dan toko halal disekitar itaewon. Kita sempat berkeliling beberapa blok dan mampir di Foreign Food Mart yang berisi aneka produk internasional yang mendapat sertifikat halal. Sembari menunggu saya dan Raffa shalat Jum’at, para ladies jalan-jalan di sekitar Itaewon dan kemudian kembali berkumpul di restoran Muree dengan laporan “Capek banget keliling area sini, soalnya semua jalannya menanjak”.

  • Murree Halal restaurant

Di sekitar area mesjid terdapat banyak restoran halal, mulai dari masakan asia hingga eropa. Namun dari sekian banyak restoran, kami memilih restoran Muree karena mendapatkan kupon potongan diskon 3.000 won & 10,000 won dari KTO. Kebetulan memang saat kami kesana sedang ada muslim tourist campaign dari tanggal 1 sept hingga 31 oktober 2017, sehingga kami diberikan buku kupon diskon Halal restaurant week Korea saat mengunjungi kantor KTO di Sudirman.

Restoran Murree ini menyajikan aneka masakan tradisional khas Korea, seperti bulgogi, samgyetang, dakdoritang, galbitang, dsb yang semuanya halal. Kamipun memesan seporsi sup ayam Samgyetang seharga 16.000 won dan seporsi beef bulgogi seharga 15.000. Soal rasa tentu tidak usah ditanya, masakan yang versi orisinil dari negara aslinya pasti lebih enak daripada versi yang beredar di Indonesia.

Samgyetang merupakan kuliner sup khas korea selatan yang berisi satu ekor ayam kampung utuh yang didalamnya diisi dengan ketan beras dan untuk kaldunya terbuat dari daging ayam dan gingseng. Seporsi Samgyetang buat orang Korea biasanya dinikmati oleh 1 orang saja, namun buat ukuran orang Indonesia bisa dimakan 2 hingga 4 orang. Kalau Bulgogi lebih populer karena sudah mendunia, merupakan kuliner masakan daging sapi manis. Dibandingkan dengan Jepang, harga makanan di Korea Selatan lebih murah dan rata-rata hampir semua restorannya menyediakan fasilitas mesin gesek kartu kredit/debit. Selain itu sesuai dengan tradisi orang Korea, semua masakan restoran pasti didampingi oleh 1 set kimchi (ikan teri goreng, telur goreng, asinan kimchi & rumput laut) serta air putih gratis.

Dongdaemun

Destinasi berikutnya adalah mengunjungi fashion market terbesar dan terkenal di Korea Selatan, yakni Dongdaemun market. Area perbelanjaan ini tidak hanya menjadi incaran warga lokal, melainkan juga para wisatawan asing. Dongdaemun Market memiliki lebih dari 20 pusat perbelanjaan dan lebih dari 50.000 penjual yang menjual berbagai macam produk. Mulai dari make up, busana, tekstil, sepatu, perlengkapan olahraga, mainan anak-anak, peralatan rumah tangga, hingga stationary. Area perbelanjaan yang dibuka sejak tahun 1905 ini menawarkan penjualan eceran dan grosiran.

Destinasi belanja ini merupakan perpaduan antara tempat belanja tradisional dan modern, sebab masih ada beberapa toko yang menjual makanan dan busana yang tetap mempertahankan bangunan lamanya.

Dongdaemun mampu menarik perhatian anak muda Korea melalui pertunjukkan musik di sepanjang jalan. Tak hanya itu saja, di sini juga rutin diadakan fashion show dan perayaan lainnya sepanjang tahun.

  • Dongdaemun Design Plaza (DDP)

Dari Itaewon, kami melanjutkan perjalanan ke Dongdaemun dengan naik subway line 6 dari st Itaewon ke st. Sindang, lalu ganti subway line 2 ke st. Dongdaemun history & culture park, exit 1. Pintu keluar langsung di Dongdaemun Design Plaza (DDP). Dengan berbentuk yang sangat menarik dan sangat futuristik, tempat ini berfungsi sebagai exhibition hall-nya Seoul, sehingga tidak heran tempat ini jarang banget sepi. Saat kami tiba disana juga kebetulan sedang ada acara fashion week, dimana para fashionista dari seluruh dunia ramai berkumpul disini. Tidak hanya para ABG, ada banyak juga anak-anak kecil berumur belasan tahun berpakaian serba modis disini. Keliatan banget orang tuanya sedang berusaha mengorbitkan anak-anaknya…… 

Selain acara fashion, terlihat juga stand pencari bakat dan antrian pendaftarnya sangat panjang. Sayang istri sudah punya buntut….. Kalo enggak kan bisa ikutan casting tuh….. Siapa tau bisa jadi artis beken dadakan….. Toh doi juga gak kalah cakep kok dari Song Hye Kyo atau Kim Tae Hee……

Sebagai pengunjung acara ini, kami menikmati beberapa pertunjukan street performance dari girl band & boy band gratisan…..  Entah sekedar latihan atau tidak, tapi menurut saya sih pertunjukannya cukup niat banget sih persiapannya. Mungkin berharap salah satu dari pencari bakat ada yang melirik mereka…..  Kelihatannya memang obsesi / cita-cita utama mayoritas anak-anak muda Korea adalah menjadi artis, mengingat bisnis industri entertainment-nya Korea Selatan termasuk salah satu yang paling maju setelah Hollywood.

Saking padatnya pengunjung acara ini, sangat sulit untuk bisa mendapatkan foto yang bagus disini. Selain itu juga kita jadi tidak bisa jalan-jalan mengeksplorasi tempat ini lebih dalam karena banyak tempat yang ditutup khusus untuk event. Jadi ya cukuplah kita berfoto-foto di luaran DDP.

  • Doota Mall

Sebagai fashion market terbesar di Seoul, tentu saja area Dongdaemun ini dikelilingi oleh banyak shopping district, seperti Doota Mall atau Migliore, Fashion mall U:US, Lotte mart & Pyounghwa market. Namun berhubung waktu yang terbatas, kami hanya memilih mengunjungi Doota Mall & Pyounghwa market saja. Lokasi Doota mall berada persis diseberang DDP. Mall ini merupakan tempat yang tepat bagi pengunjung yang ingin membeli pakaian eceran. Doota merupakan mal fashion yang menawarkan pakaian model terkini dengan kualitas premium. Mall ini terdiri dari delapan lantai dengan sekitar 600 atau lebih toko pakaian.

Sesuai segmen produknya, tentu saja produk pakaian yang dijual cocok bagi pengunjung yang berdompet tebal. Selain itu dilantai atas terdapat food court dan toko merchandise yang unyu-unyu. Namun tujuan utama kami kesini bukan untuk belanja pakaian, melainkan mengunjungi toko souvenir Arirang dilantai 6.

Kebetulan sebelum pergi ke Korea Selatan, saya sempat membaca sebuah referensi mengenai toko souvenir bernama Arirang yang koleksinya banyak, harganya murah dan tidak pake nawar. Toko ini sangat direkomendasikan karena selain harganya yang dijamin lebih murah dari toko-toko souvenir manapun seperti Namdaemun, Insadong dan lainnya, kita yang belanja pun nyaman dan gak pake keringetan karena berada di dalam mall. Enaknya lagi adalah toko ini memiliki pegawai dari Indonesia, jadi enak buat diajak komunikasi dan diskusi mengenai dagangannya. Untuk produk yang dijual sendiri tergolong lengkap, seperti aneka merchandise Korea (gantungan kunci, magnet, tempelan kulkas, dsb), T-shirt / kaos, hanbook, aneka produk snack & minuman khas korea (kue, teh, permen, jelly gingseng, dsb), boneka-boneka, mainan anak, hingga goodies K-Popstar. Karena kita belanja banyak, kita dikasih bonus gantungan kunci sama owner-nya….

  • Pyoung Hwa Shopping Street

Setelah puas kulakan souvenir, kita jalan-jalan ke area Pyoung Hwa Fashion Market. Tempat ini adalah salah satu tradisional market di Seoul yang menjual grosiran ragam busana dan aksesori. Di sisi samping pinggiran sungai Cheonggyecheon terdapat kios-kios penjual buku-buku bekas, baik lokal maupun internasional. Daerah ini juga terbagi menjadi beberapa distrik yaitu ‘Shin Pyounghwa Fashion’, ‘Gu Pyounghwa Fashion’, ‘Dong Pyounghwa Fashion Town’, dan ‘Cheong Pyeounghwa Fashion Town’. Suasana kios disini lebih mirip pasar tanah abang, sehingga harus kuat-kuatan tawar menawar. Tapi kalau soal harga memang lebih murah disini sih dibandingkan Migliore. Kita sempat membeli syal lebar yang harganya super murah, 2000 won. Bahannya enak, tebal, dan paling penting adalah bisa menutupi area leher dan separuh badan atas di cuaca dingin.

Namsan Seoul Tower

Dari Dongdaemun, kita melanjutkan perjalanan ke myeongdong naik subway line 4 dari st. Dondaemun history & culture park ke st. Myeongdong, exit 3. Tujuan kita berikutnya adalah melihat keindahan kota Seoul dimalam hari dari Namsan Seoul Tower. Untuk menuju kesana ada beberapa pilihan transportasi dari myeongdong, yakni naik namsan sunhwan shuttle bis atau naik namsan cable car dari stasiun bottom cable car di myeongdong. Demi menghemat budget, tentu saja kami memilih naik shuttle bis #05 dong dari halte bis di stasiun myeongdong (exit 3) karena hanya perlu membayar tiket bis seharga 1.200 won/pax. Kita pun duduk manis di halte bis unik berbentuk tokoh kartun bis Taiyo. 30 menit berlalu, kita mulai galau karena bis tak kunjung datang. Khawatir jangan-jangan salah halte…. Dan akhirnya setelah lama menanti, datang juga minibus bertuliskan N Seoul Tower. Tanpa pikir panjang, kita pun langsung naik ke dalamnya. Dalam perjalanan istri mulai bertanya, perasaan di website itu bisnya berukuran besar deh…… Dan dengan entengnya saya menjawab “Mungkin kalau malam hanya running minibus berukuran sedang.”

Kurang lebih 15 menit kemudian, minibus-nya berhenti disebuah parkiran mobil. Dan benar saja kecurigaan istri, begitu keluar bis ternyata kita diturunkan di stasiun cable car….. aaarrrggghhhh….  Untung aja shuttle bis ini gratis, jadi ya lumayan mengurangi kekesalan lah…..

Info lebih lanjut mengenai pilihan transportasi menuju ke N Seoul tower bisa klik disini.

  • Namsan cable car

Setelah salah naik shuttle bus, tentu saja tidak ada pilihan lain selain naik cable car ke N Seoul Tower. Harga tiket one way-nya terbilang tidak murah, yakni 6.000 won untuk dewasa & 3.500 won untuk anak-anak. Jika membeli tiket PP bisa lebih murah, 8.500 won (A) & 5.500 won (C), namun berhubung kita tidak pulang ke myeongdong jadi terpaksa ambil one way saja. Untuk harga segitu sih sebetulnya terasa gak “worth it”, karena selain rutenya sangat pendek dan diisi berjejal2an, kita kurang bisa menikmati pemandangannya dalam kondisi gelap di malam hari. Selain itu antriannya demi naik cable car ini juga sangat mengular, butuh waktu lebih dari 45 menit. Tapi positifnya adalah kita bisa menghemat tenaga untuk menuju ke N’towernya jika dibandingkan dengan berjalan kaki menanjak dari bawah ataupun halte bis. Dan akan terasa lebih menguntungkan jika memesan tiket pulang pergi bagi yang tinggal di sekitar Myeongdong.

Info lebih lanjut mengenai Namsan Cable car bisa klik disini.

  • Lower Terrace of Namsan Park

Dari top station cable car, kita berjalan kaki ke lower terrace dari Namsan park. Di area ini hawa romantisnya sudah mulai terasa karena langsung keliatan banget pasangan muda mudi yang saling merangkul pasangannya. Ada yang sekedar duduk berdua, ada juga yang asyik melihat pemandangan city view dari kota Seoul….. Selain open terrace, di pagarnya terdapat ratusan gembok cinta. Bagi penggemar drakor pasti tau banget tempat gembok cinta di Namsan park ini. Gemboknya memiliki aneka macam bentuk dan rata-rata ditulis oleh pasangan yang sedang kasmaran….  Saya lihat sih ada yang dipasang sejak tahun 2009 lho……  Saya doakan semoga pasangan tersebut beneran awet dan happily ever after sampai sekarang ya…….

Kita sendiri lupa bawa gembok dari apartemen, padahal sudah disiapkan dari Indonesia…..  Pengen beli disini, tapi harganya mahal euy…..  Ya sudahlah, cukup menikmati pemandangan saja dan berfoto ria dengan background N Seoul Tower. Sedikit terbawa suasana romantis, tanpa terasa saya memeluk istri saat menikmati keindahan gemerlapnya cahaya kota Seoul di malam hari. Tssaaahhhhh….  Oh ya, dari sini kita bisa melihat view secara utuh dan jelas dari N Seoul Tower yang seolah2 berganti pakaian terus akibat efek tampilan visual dari sinar tembakan LED yang menyinarinya.

  • SsenToy Museum

Di lantai dasar dari N Seoul Tower terdapat restoran, cafe maupun museum. Museum yang terkenal disini sebenarnya adalah Hello Kitty island, namun berhubung kami bosan karena sudah pernah 2x mengunjungi tempat2 berbau hello kitty di Johor & Jepang, maka kami memilih melihat museum yang lain, yakni SsenToy museum. Tiket combo masuk Ssentoy museum + observatory deck-nya sudah dibeli sebelumnya lewat website Klook seharga 155rb rupiah. Di website ini tersedia bermacam paket N Seoul tower, seperti observatory deck, Hello kitty island dan Ssentoy museum. Bisa memilih satuan maupun kombinasi dengan harga yang lebih hemat dibandingkan datang langsung. untuk lebih detailnya bisa klik disini.

Museum ini memiliki aneka koleksi mainan action figure dari kartun / animasi terkenal dari seluruh dunia, khususnya tokoh-tokoh karakter dari Walt disney & Marvel, mulai dari ukuran kecil hingga besar. Karakter walt disney yang ada disini contohnya adalah Monster inc, semua princess, star wars, mickey mouse & friends, dsb. Sementara karakter Marvel yang terpampang disini seperti Iron man, Thor, Hulk, captain america, dsb. Bagi penggemar action figure, disini serasa berada di surga karena banyaknya koleksi museumnya. Termasuk anak-anak yang langsung berlarian kesana kemari melihat tokoh-tokoh kartun kesayangan mereka masing-masing. Bahkan di salah satu ruangan Marvel, terdapat diorama peperangan para jagoan the Avengers. Kerennnn…..!!!  recommended deh buat mengunjungi tempat ini.

  • Observatory deck

Lepas dari museum mainan, kita lanjut ke loket observatory deck dan diantar menuju lift yang berukuran cukup besar. Didalamnya kita diminta melihat ke atas, ada semacam film animasi di atap lift yang menunjukkan seolah2 kita terbang ke atas hingga keluar angkasa untuk mencapai puncak namsan tower. Bolehlah trik ini untuk mengatasi kebosanan pengunjung, padahal sih trip ke atas tidak lama juga karena lift bergerak sangat cepat.

N Seoul Tower ini memiliki ketinggian 236,7 m dan terletak dipuncak bukit Namsan dengan ketinggian 243 m dari permukaan tanah, sehingga saat berada di observatory deck-nya akan berasa berdiri di ketinggian 479 m dari permukaan tanah. Pada awalnya Seoul Tower (atau sekarang lebih dikenal dengan N Seoul Tower) didirikan sebagai pemancar stasiun TV untuk menjangkau seluruh kota Seoul sejak tahun 1969, namun semenjak direnovasi pada tahun 2005 mulai berkembang menjadi salah satu destinasi wisata yang menarik turis wisatawan lokal maupun mancanegara, serta menjadi simbol landmark kota Seoul.

Area deck observasinya tidaklah luas, cukup 5 menit juga sudah selesai 1 putaran. Tapi bagusnya adalah city view 360 derajat kota seoul dari puncak bukit Namsan. Tentu saja gemerlapnya cahaya dari setiap bangunan dan kendaraan di malam hari terasa menambah kesempurnaan pemandangan kota ini. Dulu saat mengunjungi tempat serupa di Jepang (Umeda sky building, baca artikel blog saya sebelumnya disini), kita melihat pemandangan kota Osaka di siang hari, sehingga menurut kami city view di malam hari itu lebih keren daripada siang hari. Jika ingin melihat pemandangan lebih jauh bisa menggunakan teropong yang tersebar diseluruh area observatory deck ini dengan membayar 500 won dengan durasi selama +/- 3 menit.

 

Di area observasi ini setiap jendela nya terdapat pengetahuan seputar jarak antara Seoul ke kota lain, sebagai contoh jarak Seoul ke Jakarta berjarak 5.218,98 km, nah yang paling dekat adalah Pyongyang ( Korea Utara ) 246,9 km dan yang paling jauh adalah Buenos Aires ( Argentina ) dengan jarak 19.426,46 km. Selain itu juga terdapat toko souvenir ( seperti kartu pos, gantungan kunci ) dan ada toko coklat “Weeny Beeny” di sini. Sebetulnya disini ada sebuah restoran fine dining The Place yang selalu berputar 360 derajat, sangat cocok untuk pasangan yang hendak melamar seperti di serial drakor “My love from the star”. Tapi kalau melihat harganya, ya sekedar nice to know ajalah…..

Untuk kembali ke apartemen, kali ini kita memutuskan untuk berjalan kaki turun ke halte bis dan mencoba kembali naik Namsan Sunhwan shuttle bis. Namun berhubung rute pulang kita adalah menuju Hongik university, maka bis yang kita naiki adalah shuttle bis #03 dan turun di halte Seoul station. Tarifnya sama 1.200 won dengan cash atau 1.100 won jika menggunakan kartu T-Money. Dari halte Seoul station tempat turun bis, kita sedikit berjalan kaki menuju ke pintu masuk stasiun subway, kemudian naik subway kereta bandara Arex all stop train dan turun langsung di stasiun Hongik university. Setibanya di apartemen, anak2 dan istri langsung pada mandi dan istirahat, sementara saya jalan ke hongdae untuk mencari makan malam Tteobokki dan odeng. Makanan ini memang bener-bener bikin ketagihan….. haha2….  End of today and prepare for the next adventure day.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *