Korea Selatan 2017, Day 4: Chuncheon – Jade Garden – Edelweiss Swiss Themepark

Salah satu kegiatan seru dan unik untuk dilakukan di Korea Selatan adalah mencoba romantic rail bike, yakni sebuah kereta yang dikayuh oleh 2 atau 4 orang seperti sepeda dan bergerak di dalam jalur relnya menyusuri tempat wisata yang pemandangannya indah. Karena kereta wisata semacam ini hanya ditemukan di Korea Selatan, maka acara ini masuk ke dalam “must do list” kami untuk liburan kali ini. Apalagi semenjak anak-anak nonton film running man yang episode naik rail bike ini, hampir tiap malam di apartemen mereka selalu menanyakan kapan kesananya….. 

Di sekitar Seoul ada 2 tempat naik romantic rail bike yang asyik, yakni Gapyeong Rail Park & Gangchon Rail Park. Di kalangan wisatawan, Gapyeong Rail Park lebih populer karena lokasinya yang dekat dengan nami island. Namun mencoba anti-mainstream, kami memilih untuk pergi ke Gangchon Rail Park yang berada di luar kota Seoul, yakni terletak di st. Namchuncheon yang berada di provinsi Gangwon-do. Sehingga ada 2 alternatif transportasi kesana, yakni naik kereta reguler Gyeongchun line yang lebih lama karena berhenti di setiap stasiun yang dilewati, atau naik kereta ITX yang lebih cepat dari st. Yongsan atau st. Cheongnyangni. Selisih waktu kedua kereta ini cukup jauh, hampir 50 menit. Karenanya demi mengejar efisiensi waktu, tentu saja kami memilih naik kereta ITX. Itung2 sekalian mencoba kereta cepatnya Korsel…..

Gangwon-do Province 

  • ITX Chuncheon

Karena kembali gagal bangun pagi, trip hari ini dimulai dari jam 8 pagi keluar dari apartemen dan langsung naik kereta subway Gyeongui-Jungang line dari st. Hongik university ke st. Yongsan. Di stasiun Yongsan ini merupakan stasiun integrasi antara kereta Seoul metro dengan kereta ITX jarak jauh.

Saya sempat membaca artikel mengenai cara mudah naik kereta ITX dengan menggunakan T-Money yang katanya tinggal tap 2x masing-masing di  mesin card reader kereta Seoul metro & card reader kereta ITX. Namun selama kami di Korsel, bolak balik dari ujung ke ujung peron dan keliling setiap stasiun yang dilewati jalur ITX, tak kunjung berhasil menemukan kedua mesin card reader ini.

Sabtu pagi itu peron jalur kereta menuju st Chuncheon ini sangat padat oleh penumpang yang hendak berlibur weekend keluar kota. Trus ditambah dengan kepanikan karena waktu kereta ITX yang sudah mau datang tapi belum juga berhasil menemukan mesinnya, akhirnya kita memutuskan buru-buru keluar gate dan hendak membeli tiket di loket. Namun apesnya ternyata antrian loketnya panjang beneerrr…….  Alhasil jadwal kereta ITX Chuncheon jam 08.50 yang diincar terpaksa direlakan dan kami harus bersabar menunggu kereta ITX berikutnya yang jam 09.22. Sudah gitu dapatnya adalah tiket yang standing seharga 7000 won (A) & 3500 won (C), karena reserved chair sudah pada ludes semua. Seharusnya memang sebaiknya memesan tiketnya secara online disini untuk mencegah hal-hal semacam ini. Namun karena khawatir tiket hangus kalau gagal tiba di stasiun ini tepat waktu, sehingga kita memilih untuk membeli tiket on the spot saja.

Pukul 09.22 tepat kereta ITX Chuncheon tiba di peron, kita langsung masuk sesuai dengan nomer gerbong yang tertera di tiket. Berhubung tiket kita adalah standing, jadi kita berdiri di standing area dalam gerbong kereta. Tadinya kita berpikir akan berdiri diantara kursi penumpang seperti kereta-kereta lain pada umumnya, namun ternyata kereta ITX disini menyediakan ruangan khusus untuk standing area di setiap gerbongnya. Jadi ruangan reserved seat-nya terasa nyaman & steril dari para penumpang berdiri. Kita berdiri bersama sebagian besar ahjumma dan ahjussi yang memakai pakaian, sepatu & tas untuk naik gunung. Mungkin memang tradisi orang Korea Selatan / Jepang yang terbiasa menikmati liburan weekend dengan hiking / sepeda / memancing / piknik di area pegunungan / danau. Pada awalnya sih kita berdiri dengan rapih, namun setelah kereta melewati stasiun Cheongnyangni & stasiun Sangbong, mereka semua pada duduk di lantai, jadi kita ikut-ikutan lesehan deh…..

Tadinya kita sempat kecewa karena memikirkan harus berdiri sejam selama perjalanan, tapi setelah menjalaninya ternyata malah bersyukur bisa merasakan serunya “traveling like locals” bersama penumpang lainnya dan melihat kebiasaan mereka bersenda gurau bersama keluarga & teman-temannya. Sempat saya mendengar isu mengenai orang Korea yang konon katanya banyak yang ketus…. Kami boleh bilang itu salah besar, karena mereka ramah-ramah semua kok & sangat helpful membantu kita saat kita tersesat layaknya orang Jepang. Bahkan saat di kereta ada anak kecil yang mengajak Raffa & Alisya ikutan bermain bersama. Oh ya, selama perjalanan kita dimanjakan oleh view pemandangan alam perbukitan & danau yang indah. Seakan membuat mata menjadi rugi untuk berkedip karena kita bisa melihat pohon berwarna warni yang menghiasi daerah pedesaan provinsi Gyeonggi-do, serta betapa bersihnya alam negeri ini.

** Sedikit cerita mengenai pengalaman naik kereta di Korea Selatan. Menurut saya, kereta di Korea Selatan adalah kereta ternyaman yang pernah saya naiki. Ada beberapa poin yang memberinya nilai plus seperti:

  1. Interval jarak antar kereta sangat rapat, serupa dengan Jepang. Bahkan beberapa jalur ramai seperti line 2 atau line 3 itu ada hanya berjarak 50 detik pada jam padat…!
  2. Ukuran gerbong kereta Korsel ini sangat panjang dan lebar. Mungkin boleh dibilang inilah gerbong terbesar di Asia dibandingkan kereta Jepang / Singapore / Hongkong. Hanya negara China yang memiliki spesifikasi ukuran gerbong yang serupa. Saya sempat mencari informasi mengenai ukuran gerbong kereta Korsel:  23 m x 3,15 m x 3,82 m dan track gauge: 1,435 m. Bandingkan dengan kereta KRL Jepang / Indonesia yang berukuran: 20,9 m x 2,605 m x 2,639  dan track gauge: 1,067 m. Efek dari ukuran gerbong ini tentu adalah rasa lega bagi para penumpangnya serta perjalanan kecepatan kereta yang lebih kencang dan stabil.
  3. Karena ukuran gerbong yang panjang, 1 gerbong kereta ITX tersekat menjadi 2 ruangan, yakni ruangan berisi kursi penumpang dan ruangan untuk penumpang yang berdiri.
  4. Mayoritas stasiun kereta Seoul metro dibangun di dalam tanah yang kedalamannya bahkan melebihi stasiun kereta Jepang. Tidak heran hampir di semua stasiun memiliki tangga eskalator yang super panjang-panjang untuk menuju ke peronnya.
  5. Jalur kereta Korea Selatan lebih simple dan mudah dimengerti dibandingkan dengan jalur kereta Jepang.

Terdapat suara “ringtone” terompet yang unik di setiap kedatangan kereta.

  • Gangchon Rail bike

Setelah kurang lebih 1 jam 15 menit perjalanan, kereta ITX-nya akhirnya tiba di stasiun Namchuncheon (1 stasiun sebelum stasiun Chuncheon) pukul 10.35. Dari sini kita harus nyambung lagi kereta lokal Gyeongchun line ke st. Gimyujeong. Tidak seperti kereta subway Seoul, kereta jalur lokal ini jarak antar keretanya lumayan jauh, rata-rata 15- 30 menit. Alhasil kita baru tiba di stasiun Gimyujeong jam 11 siang. Saat keluar stasiun, baru nyadar kalau bentuk bangunan stasiun ini seperti rumah tradisional Korea, tidak berbentuk bangunan stasiun yang mengotak seperti pada umumnya. Tidak heran rata-rata para penumpang yang datang / keluar stasiun ini pada menyempatkan diri untuk berfoto di depan stasiun ini.

Dari stasiun Gimyujeong tinggal berjalan kaki 5 menit menuju ke Gangchon Rail Park, namun berhubung anak-anak pada lapar jadi kita makan siang dulu sebentar di gazebo stasiun. Saat kita berjalan kaki melewati parkiran kendaraan sudah terlihat bis-bis besar pada berdatangan dan parkir disini. Melihat bis-bis tersebut jadi bikin hati deg-degan….. Khawatir kehabisan tiket karena banyaknya pengunjung. Apalagi saat itu kebetulan sedang ada darmawisata sekolah, sehingga ada banyak murid berseragam kaos olahraga berseliweran. Selain wisata kereta sepeda, rupanya di dalam Gangchon Rail Park ini terdapat berbagai macam permainan outdoor, seperti flying fox, paint ball, trampolin, dsb. Di sisi sebelah kanan terdapat bangunan unik yang tampak mukanya berbentuk buku yang tersusun berjajar. Secara arsitektur, sebetulnya tempat ini sudah sangat “instagramable” sih…… Namun sayangnya warna cat dindingnya sudah pada terlihat pudar dan kusam semua, sehingga kalau di foto jadi gak kelihatan bagusnya.

Salah satu alasan kenapa memilih Gangchon Rail Bike ini adalah selain karena faktor lokasi yang terintegrasi dengan stasiun kereta Gimyujeong, disini rute rail bike lebih jauh dan lengkap, karena terdiri dari rail bike dan Nangman train. Jadi rute perjalanan dimulai dengan mengendarai rail bike  dari Gimyujeong Rail Bike station sampai ke rest stop, lalu dilanjutkan dengan naik romantic Nangman train ke Gangchon Rail Bike station. Selain itu selama perjalanan rail bike akan beberapa kali melewati terowongan yang didalamnya dihiasi oleh lampu berwarna warni. Tempat ini sempat dipopulerkan oleh tayangan “Running Man“, sehingga tak heran setiap hari hampir jarang sepi. Karenanya tempat wisata ini lebih populer di kalangan turis lokal dibandingkan dengan Gapyeong rail park yang lebih populer di kalangan turis asing.

Saat hendak membeli tiket rail bike-nya rupanya sudah sold out semua hingga pukul 5 sore, sehingga tersisa yang available itu pukul 6 sore…. Hiks….. Apes bener hari ini……  Andai bisa datang lebih pagi tentu beda cerita. Sebenarnya bisa sih memesan tiketnya jauh-jauh hari secara online disini, tapi karena khawatir tidak bisa tiba tepat waktu makanya gak berani membeli dulu. Soalnya kan tidak mudah membawa rombongan krucils untuk bisa bangun pagi dan berangkat sesuai schedule….  Tapi ya sudahlah, kita balik ke stasiun dan lanjut ke itinerary berikutnya saja.

  • Jade garden

Dari st. Gimyujeong, kita naik kereta lokal Gyeonchun line ke st. Gulbongsan. Karena kereta tiba pukul 12.35, kita langsung buru-buru lari keluar stasiun karena hendak mengejar free shuttle bus ke Jade Garden.

Lokasi halte shuttle bis ini berada persis disebelah pintu keluar stasiun dan saat itu minibus berwarna hijau ini sudah stand by disana tanpa ada sopirnya. Celingak celinguk sana sini kok gak ngeliat ya sopirnya kemana….. Sempat khawatir jangan2 salah bis atau salah halte, tapi semakin lama semakin banyak calon penumpang yang berbaris antri disini. Secara jadwal sih seharusnya minibus ini berangkat pukul 12.45, tapi sampai waktu yang ditentukan tersebut kok sopirnya belum keliatan juga. Para calon penumpang juga tampak kebingungan…. Tapi rupanya tidak lama kemudian sopirnya tersebut nongol juga sembari minta maaf habis keluar dari toilet. Akhirnya minibus berangkat agak telat dan tiba di Jade garden pukul 13.00.

Jade garden ini sebenarnya merupakan kebun luas dimana terdapat budidaya aneka tanaman, bunga dan pohon yang di setting seperti di eropa. Dari gerbang depannya saja sudah terlihat bangunan berdinding bata merah dan berasitektur ala rumah di eropa yang cantik. Bagi penggemar drakor pasti tempat ini tidak asing lagi, karena disini tempat syuting “That Winter, The Wind Blows” yang mengambil gambar area depan, Taman tengah untuk “Full House Take 2“, dan rumah kecil di belakang Jade Garden untuk “Love Rain“. Kalau di drama TWTWB tersebut bangunan depan dari Jade Garden ini digambarkan sebagai sebuah rumah, tapi aslinya sih jauh dari kesan rumah. Trus juga rumah kaca tempat si Song Hye Kyo berkebun itu terlihat besar ruangan dalamnya dan bahkan ada ruangan rahasianya, tapi aktualnya sih sebaliknya. Memang film itu bisa menipu mata…. haha2… 

Tiket untuk masuk ke dalam Jade Garden adalah 8.500 won (A) & 5.500 won (C). Selain kebun alam, di dalamnya terdapat cafe dengan kopi dan aneka makanan ringan, serta toko pernak pernik. Bagi yang belum nonton drakor juga tidak masalah, karena di area belakangnya terdapat kebun cantik yang tertata rapi dan dibentuk dari aneka tanaman serta pohon rindang yang daunnya berwarna warni merah kuning & hijau. Untuk menuju kesana ada jalan setapak yang kanan kirinya ditanami pohon cemara. Trus ada juga sungai kecil disepanjang kebun yang bersih, asri dan asyik untuk dinikmati dengan berjalan santai di sore hari. Memang waktu terbaik untuk mengunjungi tempat ini adalah musim gugur, sehingga hampir di semua sisi kebun ini sangat kece dan keren untuk difoto. 

Area Jade Garden ini sebenarnya sangat luas dan menyenangkan untuk dinikmati setiap jengkal kebunnya secara perlahan, namun sayangnya kami harus mengejar shuttle bis dari Jade Garden yang akan balik ke stasiun Gimyujeong jam 14.10 karena hendak mengejar shuttle bis-nya Edelweiss Swiss Themepark jam 15.00. Jadi memang sejam itu kurang puas rasanya jalan-jalan disini. Belum lagi separuh waktu sudah dihabiskan untuk berfoto ria, jadi kita hanya berhasil 70% menjelajahinya. Info lebih lanjut mengenai Jade Garden bisa klik website resminya disini.

Gyeonggi-do Province

  • Edelweiss Swiss Themepark

Jam 14.20 kita tiba di stasiun Gimyujeong, lalu buru-buru naik ke atas peron karena ngejar kereta lokal Gyeonchun line ke st. Cheongpyeong, dan keluar juga dengan terburu-buru melalui exit 2. Disana sudah tersedia shuttle bis Edelweiss Swiss Themepark yang stand by di halte bis.

Trip kita selanjutnya di sore ini adalah mengunjungi Edelweiss Swiss Themepark. Tempat wisata ini mungkin masih banyak yang belum mengetahuinya karena kalah pamor dengan Petite France yang lebih beken karena dekat dengan Nami island dan kemudahan transportasinya. Hal ini terlihat saat masuk ke dalam shuttle bis ternyata hanya kami satu-satunya penumpang. Padahal secara jadwal, bis tersebut harusnya berangkat pukul 15.00. Namun meski kita datang terlambat 7 menit, bis tersebut ternyata tetap masih setia menunggu penumpang disana….. Alhamdulillah belum ketinggalan bis. Soalnya kalau sampai gagal naik shuttle bis gratis ini bisa membuat ongkos membengkak, karena tidak ada alternatif transportasi lain menuju kesana selain shuttle bis & taksi. Apalagi mengingat jarak menuju lokasinya yang cukup jauh dari stasiun Cheongpyeong. Naik taksi aja memakan waktu 30 menitan.

Edelweiss Swiss themepark ini merupakan sebuah tempat wisata tematik yang memiliki konsep  perumahan ala Swiss. Saya sendiri baru mengetahui themepark ini dari buku kupon diskon dari KTO Indonesia. Butuh waktu sekitar 40 menit perjalanan dari stasiun Cheongpyeong, sehingga lumayan kita jadi bisa tidur dulu….  Rasanya seperti naik ke puncak, karena jalannya berkelok-kelok dan terus menanjak. Tapi asyiknya adalah pemandangan alam perbukitan selama perjalanan sangatlah keren…..  Berdasarkan website resminya, fasilitas shuttle bis gratis ini hanya tersedia pada weekend sabtu / minggu dan hari libur saja, jadi selain hari itu ya terpaksa naik taksi. Karenanya saya menyusun itinerary mengunjungi tempat ini pada hari sabtu.

Tiket masuknya harga normal adalah 10.000 (A) & 5.000(C), namun dengan buku kupon diskon dari KTO menjadi 7.000(A) & 3.500 (C). Dari area parkiran saja sudah terlihat bangunan jam besar di gerbang masuknya yang kental banget nuansa eropanya. Di dalam themepark ini merupakan semacam suatu tempat pemukiman yang bernuansa Swiss, sehingga kita bisa menikmati arsitektur, museum, galeri, pengalaman dan nuasana alam perbukitan yang semuanya bertemakan Swiss. Berada ditempat ini seakan membuat kita lupa fakta bahwa tempat ini masih di Korea.

Areanya sendiri sih tidak begitu luas, namun dijamin cukup pegal saat menjelahinya karena lokasinya yang terus menanjak ke atas. Sepanjang kanan kirinya adalah bangunan perumahan khas swiss yang rata-rata terdiri dari 3 lantai, dan berwarna warni baik itu dinding, jendela maupun atapnya. Setiap rumahnya terpisah antar bangunannya, dan memiliki area pekarangan rumput yang luas. Melihat suasana perumahan ini jadi berkhayal seandainya kita tinggal disini rasanya enak juga kali ya….. udara sejuk, rumah nyaman, keluar rumah melihat pemandangan perbukitan yang hijau dan asri, punya pekarangan yang luas untuk anak-anak santai bermain dan pesta barbeque…… hadeeehhhhh….. bikin baper banget deh…..   “Someday we should visit the real Swiss“, kata istri.

Selain rumah, terdapat juga beberapa museum & galeri, seperti Chocolate factory, bear museum, Love clay museum, trick art, dan cheese museum. Di area samping themepark ini terdapat taman, kolam ikan dan padang rumput besar berikut patung domba yang seolah-olah tampak nyata kalau dari kejauhan. Di area belakang terdapat papan perosotan yang panjang dan juga kandang domba dan sapi untuk memanjakan anak-anak.

Untuk menjelajahi tempat ini dibutuhkan waktu berjalan kaki santai 2-3 jam sudah cukup. Jika capek, terdapat coffee shop untuk beristirahat sembari makan snack. Bagi pencinta narsis, dijamin bakalan betah berlama-lama disini karena hampir di seluruh tempat ini sangat instagramable. Oh ya sekedar informasi, tempat ini merupakan tempat syuting drakor “Remember” yang dibintangi oleh Yoo Seung-Ho & si cantik Park Min-Young, mengkisahkan tentang pengacara muda yang memiliki kemampuan ingatan luar biasa. Info lebih lanjut mengenai Edelweiss Swiss Themepark bisa klik website resminya disini.

Jam 17.30, kami kembali ke shuttle bis yang akan mengantar para penumpang balik ke stasiun Cheongpyeong. Tidak seperti berangkatnya yang hanya kami sendirian, bis pulangnya sangat rame penumpangnya, jadi kursinya gak bisa milih sesuka hati lagi deh…..  Dan seperti biasa, perjalanan pulang diisi dengan tidur karena kecapekan…… 

Dari stasiun Cheongpyeong sebetulnya ingin naik kereta ITX, tapi karena kereta ITX berikutnya berjarak hampir sejam dan kita malas menunggu, akhirnya kita memilih naik kereta lokal Gyeongchun line sajalah. Dan ternyata kereta ini super padat sekali di sore hari. Mayoritas isi penumpang kereta adalah para ahjumma dan ahjussi yang baru pada pulang hiking & piknik. Selain itu ada juga penumpang yang membawa sepedanya di gerbong belakang.

** Oh ya, sedikit cerita mengenai beberapa stasiun di provinsi Gangwon-do & Gyeonggi-do yang kami datangi hari ini. Di setiap stasiun disediakan semacam jalur tunnel cekung berbentuk talang air & seukuran ban sepeda) di pinggir tangga stasiun. Jalur ini dibuat khusus untuk pengendara sepeda. Usut punya usut, ternyata sepeda full size diperbolehkan naik ke dalam kereta. Ini juga salah satu kelebihan dari gerbong kereta besar, sehingga bisa mengakomodir kebutuhan para bikers. Salut untuk pemerintah Korea Selatan yang mendukung pola hidup sehat dan go green bagi warganya.

Selama perjalanan 45 menit kereta dari stasiun Cheongpyeong menuju stasiun Cheongnyangni terpaksa dijalani dengan berdiri. Tambah lagi berdiri di kereta berikutnya (Gyeongui-Jungang line) yang kita naiki dari st. Cheongnyangni ke st. Hongik University, lengkap sudah penderitaan kita. Pukul 21.00 akhirnya kita tiba kembali di apartemen dengan selamat sentosa, meski betis dan paha terasa mau meletus……  Karena sudah tidak punya energi lagi untuk keluar apartemen mencari makan, terpaksalah istri memasak mie rebus hangat untuk makan malam hari ini. Ternyata memang indomie itu tetap juara sedunia lah pokoke……  Hari ini memang melelahkan, tapi anak-anak masih semangat buat jalan-jalan ke dalam gua besok…… Stay tuned ya guys…… 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *