Korea Selatan 2017, Day 5: Gwangmyeong Cave – Korean Folk Village – Banpo Bridge

Wisata dan jalan-jalan di atas permukaan tanah? Itu mah sudah biasa bangetttt…..
Tapi kalau wisata di bawah permukaan tanah? Nah itu baru liburan Zaman Now……!! 

Selama ini kebanyakan wisata dibawah permukaan tanah di seluruh dunia, alias masuk ke dalam gua, itu identik dengan suasana gelap, suram, horor, berbahaya, banyak kelelawar, pengap, sumpek, dan lain sebagainya. Nah lupakan itu semua…….. Karena ada sebuah underground themepark menarik di Korea Selatan  yang bernama Gwangmyeong Cave. Lokasinya sendiri berada di dalam kota Seoul, lebih tepatnya dekat dengan daerah Incheon, sehingga mudah dijangkau dari tengah kota.

Berawal dari buku kupon diskon dari KTO yang salah satunya berisi informasi mengenai themepark Gwangmyeong Cave, saya mencoba menggali informasi mengenainya. Tidak banyak blogger Indonesia yang menceritakan pengalaman kesana, karenanya butuh extra effort untuk mencari data, khususnya masalah akses transportasi menuju lokasinya. Akhirnya setelah mendapatkan informasi yang cukup, saya pun mantap untuk mengunjungi tempat wisata ini dan memasukkannya ke itinerary wajib.

  • Gwangmyeong Cave

Untuk menuju ke lokasi ternyata tidak bisa terjangkau 100% oleh kereta, melainkan harus disambung dengan bis / taksi. Dan stasiun yang terdekat dengan Gwangmyeong Cave adalah stasiun Gwangmyeong, dimana stasiun ini juga merupakan tempat pusat keberangkatan kereta KTX (kereta peluru) Seoul. Kereta metro line 1 yang direct menuju ke stasiun Gwangmyeong tidak banyak frekuensinya, alias jarang-jarang, karena jalurnya harus berbelok di stasiun Geumcheon Office. Sehingga jika hendak ke gwangmyeong kebanyakan penumpangnya akan turun di stasiun ini dan nyambung dengan taksi.

Trip pagi ini dimulai dengan naik subway metro line 2 dari st. Hongik University ke st. Sindorim. Kemudian dari stasiun ini sebenarnya kita tinggal menunggu kereta metro line 1 yang direct ke Gwangmyeong. Namun melihat timetable, kereta yang kesana baru datang sejam lagi. Saya pun mencoba mencari alternatif transportasi lain yang lebih efisien dan lebih cepat ketimbang harus buang-buang waktu menunggu sejam disini. Dari google map diberikan petunjuk agar kita naik kereta metro ke st. Gaebong atau ke st. Cheolsan. Yang paling efisien & murah sih tentu saja adalah naik kereta metro line 1 ke st. Gaebong, namun karena karena masih agak menunggu 15 menit dan kebetulan saat itu yang ready adalah kereta metro line 1 ke stasiun Gangsan Digital Complex, jadi ya tanpa pikir panjang langsung deh kita naik kereta tersebut. Dari st. Gangsan Digital Complex, kita ganti kereta metro line 7 ke st. Cheolsan dan keluar melalu exit 2. Lalu sedikit berjalan kaki 5 menit menyebrang jalan menuju halte bis yang berada didepan minimarket daiso dan duduk manis deh menunggu bis no. 17 yang datang juga tidak begitu lama kemudian.

Pengalaman setiap pertama kali naik bis umum di luar negeri itu rasanya selalu sangat mendebarkan, apalagi di negara tanpa bahasa latin seperti China / Jepang / Thailand / Korea. Karena benar-benar tidak ada papan petunjuk digital satupun didalam bis-nya, hanya berupa papan petunjuk cetakan bertuliskan bahasa Hangeul. Kalau soal nomer bis yang dinaiki sih saya yakin sudah benar, namun apakah jalurnya benar yang ke arah sana atau sebaliknya, nah itu yang meragukan….. Nanya sopir susah karena gak bisa bahasa inggris, tanya penumpang lain juga sama aja nasibnya…..  Karenanya Saya pun berusaha mencocokkan tulisan Gwangmyeong Cave dalam bahasa Hangeul ke peta jalur bisnya. Dan kemudian terbukti kalau ujung dari jalur bis ini ternyata memang ke Gwangmyeong cave, jadi hati sedikit lebih tenang. Setelah yakin ini bis yang benar, lalu kita duduk manis dan membuka aplikasi google map untuk melihat titik perjalanan bis ini menyusuri rute perjalanan dari stasiun Cheolsan ke Gwangmyeong Cave yang terbukti 100% akurat. Thanks to Google. Oh ya, bis umum no. 17 ini sebenarnya juga bisa dinaiki dari stasiun Gaebong, jadi buat para traveler pembaca blog ini yang hendak ke Gwangmyeong cave bisa memilih naik kereta metro kesana, karena lebih efisien. Cukup sekali naik kereta dari st. Sindorim ke arah Incheon, tidak perlu 2x naik kereta seperti saya.

45 menit kemudian, bis kami tiba di Gwangmyeong cave. Sejak turun dari bis sudah terlihat bangunan pabrik berwarna pink bercorakkan awan putih. Gua Gwangmyeong ini dulunya bernama tambang Siheung, yakni  merupakan kawasan pertambangan emas, perak, perunggu, biji besi, dll. Pada jaman dahulu para pekerja tambang merupakan penduduk Korea yang kerja paksa dibawah penjajahan bangsa Jepang. Sejak pertambangan ini berhenti total pada tahun 1972, kawasan ini menjadi tidak terurus dan dibiarkan terbengkalai begitu saja, hingga kemudian pada tahun 2011 pemerintah daerah Gwangmyeong berinisiatif membeli kawasan ini dan disulap menjadi sebuah theme park taman & gua terbesar di Korea. Bangunan ex-pabrik pengolahan material tambang kini disulap menjadi tempat pameran karya seni dari limbah tambang dan juga sebagai tempat sarana promosi sumber daya ramah lingkungan kepada masyarakat. Themepark ini dianggap sebagai taman gua terbaik di Korea karena berhasil mengkombinasikan warisan industri, sejarah dan nilai budaya, serta berhasil mewujudkan keajaiban dari tambang yang ditinggalkan. Sehingga selain sebagai sarana edukasi, tempat ini berhasil menarik ratusan turis lokal maupun mancanegara untuk mengunjungi tempat wisata ini setiap harinya.

Pintu masuk menuju gua berada di atas bukit. Ada 2 pilihan jalan menuju kesana, yakni tangga lurus yang direct dan lebih cepat ke atas, atau bisa juga melalui jalan santai yang lebih landai melewati taman Gwangmyeong tapi sedikit memutar lebih jauh. Harga tiket masuk kalau normalnya adalah 6.000 won (A) & 2.000 won (C), tapi dengan kupon diskon dari KTO menjadi 3.000 won (A) & 1.000 won (C). First impression saat memasuki gua adalah kagum!! Benar kalau segala stigma negatif mengenai gua seakan sirna. Gua yang biasanya gelap menjadi terang dan dibeberapa tempat terdapat lampu kerlap kerlip yang tampak keren karena efek gelap. Disisi samping jalan masuk gua dibuat parit untuk aliran air pegunungan yang jernih. Di atap gua terdapat jaring besi untuk mengamankan dan mencegah bebatuan atap gua runtuh. Trus juga tidak ada perasaan pengap dan sumpek karena didalamnya dialiri hembusan AC, jadi selalu sejuk setiap saat. Didalamnya dijamin tidak membosankan, karena ada banyak hal menarik seperti:

Wormhole plaza

Space of light

Cave Aqua World

Art Center

Golden Falls

Gold Story

Cave Underworld World

Wine Room

Berada di dalam gua ini jadi lupa waktu karena gak bisa liat siang / malam….  Anak-anak juga terlalu excited karena baru pertama kali melihat suasana gua, apalagi jalur perjalanannya lumayan jauh juga menjelah ke dalamnya. Selain itu butuh ilmu tinggi untuk memakai kamera foto di dalam ruangan gelap, soalnya sulit banget untuk mendapatkan hasil foto yang bagus.

Sebelum check out dari sini, kita sempat makan siang dulu dengan bekal yang sudah kita bawa dari rumah. Sebetulnya disini juga ada area food court, tapi kita sih gak berani karena ragu akan kehalalan makanannya. Info lebih lanjut mengenai Gwangmyeong Cave bisa klik website resminya disini.

  • Korean Folk & Culture Village

Dari Gwangmyeong cave, kita naik bis no 17 lagi dan turun di stasiun Gwangmyeong. Kebetulan saat tiba disana itu 10 menit lagi berangkat kereta metro-nya. Stasiun ini sangat besar, ada begitu banyak jalur kereta KTX dan jalur peron kereta Seoul Metro berada disisi paling ujung.

Meski sama-sama kereta metro line 1, tapi dari stasiun Gwangmyeong kita harus transit dulu di st. Geumcheon-Gu Office dan ganti kereta line 1 yang kearah stasiun suwon, lalu turun disana dan keluar melalui exit 4.

Kita keluar stasiun dengan terburu-buru karena hendak mengejar free shuttle bis Korean Folk Village. Namun apesnya kita ketinggalan bis terakhir jam 14.30, padahal sudah didepan mata. Jadi ya terpaksalah kita naik taksi kesana. Berbekal tulisan hangeul dari google translate atas Korean Folk & Culture village, saya menunjukkan kepada sopir taksi dan untunglah dia langsung mengerti. Saya perhatikan sopirnya jujur kok, karena saya membandingkan dengan rute perjalanan di google map, sedikitpun tidak melenceng dari rute. Kami akhirnya tiba disana dengan total biaya taksi sekitar 8.000 won.

Setelah melihat drakor kolosal berjudul Sunkyuwan Scandal yang dimainkan oleh aktor ganteng kesayangan istri, Song Jong Ki dan aktris cantik kesukaan saya, Park Min Young  Istri langsung pesan kepada saya untuk memasukkan Korean Folk & Culture Village ke dalam itinerary. Tempat ini merupakan themepark bertemakan tentang perkampungan tradisional dan kebudayaan Korea jaman kerajaan dulu, alias era dinasti Joesoen. Harga tiket masuk normalnya adalah 18.000 (A) & 13.000 (C), tapi dengan kupon diskon dari KTO menjadi 11.000 (A). Sama seperti Gwangmyeong Cave, tempat ini tidak bisa dijangkau 100% dengan kereta, namun harus sambung dengan bis. Ada beberapa alternatif transportasi menuju kesana dengan bis umum, tapi jika ingin yang gratisan hanya tersedia shuttle bis dari stasiun Suwon. Detail pilihan transportasinya bisa dilihat dibawah ini.

Datang kesini memang membuat kita serasa terlempar ke masa lalu. Suasana jadulnya Korea sangat terasa, apalagi terlihat beberapa pengunjung ada yang memakai baju hanbook dan ada juga yang naik kuda. Bahkan untuk menegaskan suasana Josoen, karyawan disini pada berpakaian tradisional, seperti ada yang menyamar menjadi pengemis, penjaga gerbang, petugas keamanan, penduduk desa, dan lain sebagainya. Selain tempat wisata, disini merupakan sarana edukasi kebudayaan Korea, contohnya seperti kita bisa melihat pertunjukan tarian dan musik tradisional, prosesi pernikahan, atraksi berkuda, atraksi eksekusi hukuman dan bahkan suasana pasar Korea jaman dahulu. Karenanya tidak heran lokasi ini sering dijadikan lokasi syuting drama historikal Korea atau yang sering disebut “Saeguk“.

Disisi samping Korean Village ini terdapat mini amusement park yang kelihatannya sasarannya untuk menghibur pengunjung anak-anak agar tidak bosan jika kesini. Menurut saya sih dengan adanya wahana permainan ini jadi agak merusak suasana kotemporer dan tradisionalnya. Berhubung sudah kesorean, kita tidak bisa puas menjelajahinya, karena area themepark ini sangat luas. Selain itu juga kita melewatkan sebagian besar atraksi disini. Memang idealnya adalah datang kesini dari jam 10 pagi kalau mau maksimal. Kita berada disini hingga pukul 18.30, dimana suasana gelap dari tempat ini sangat terasa, karena kebanyakan penerangan itu dari obor. Kerenlah pokoke……  Info lebih lanjut mengenai Korean Folk & Culture Village bisa klik website resminya disini.

Dari pintu keluar Korean Folk Village, kita berjalan kaki ke halte bis yang berada di depan minimarket 7-11. Sembari menunggu bis, kita beli kimbab tuna & salmon disini untuk mengganjal perut.

  • Banpoo Rainbow bridge

Malam ini entah kenapa udara terasa lebih dingin dari biasanya. Namun demikian semangat ngeceng masih menggebu-gebu. Karenanya kita naik bis umum no. 37 dari halte Korean Folk Village ke stasiun Sanggal, lalu naik kereta metro Bundang line ke st. Gangnam-gu office dan ganti kereta metro line 7 ke st. Express bus terminal.

Tujuan terakhir hari ini adalah melihat pertunjukan air mancur di Banpo bridge. Lokasinya ini agak jauh dari keluar pintu keluar stasiun, masih butuh extra berjalan kaki sekitar 25 – 30 menit.  Sedikit guidance jika mau kesana:

– Keluar melalui stasiun Express bus terminal, exit 8-1.
– Jalan lurus terus hingga mentok persimpangan jalan besar & jembatan fly over
– Belok kanan (jangan nyebrang)
– Jalan lurus lagi sekitar hingga terlihat tangga masuk kedalam tunnel / underpass, lalu masuk ke dalam.
– Jalan terus didalam underpass hingga terlihat taman berpasir dan pinggir sungai Han

Karena kami tiba disana sudah hampir pukul 1/2 9 malam tentu tamannya sudah sepi. Semua pengunjung tampak berkumpul di sekitar jembatan sevit island (semacam pulau buatan dipinggir sungai). Sekilas melihat Banpo Hangang park ini kelihatannya cukup luas dan memanjang sepanjang sungai, katanya kalau sore digunakan oleh warga sekitar untuk bersantai ataupun berolah raga. Semakin malam disana suhu udaranya turun hingga 8 derajat dan lagi angin malam terasa berhembus dengan cukup kencang. Mungkin karena taman tersebut merupakan area terbuka, sehingga udara enak saja mengalir kesana kesini. Sebenarnya sih jika hanya temperatur udara yang dingin gak masalah, tapi yang bikin gak kuat adalah angin malam yang terasa menusuk hingga ke tulang….. Apalagi kita kesana tidak pakai jaket. Tapi demi melihat pertunjukan air mancur pelanginya terpaksa kita tahan.

Tepat pukul 20.30 akhirnya pertunjukan air mancurnya dimulai. Kita semua nonton dari sevit island demi mendapatkan view terbaik. Pertunjukkan air mancur di Banpo Bridge diiringi dengan back song K-Pop yang ganti-ganti. Dari air mancur yang menari keluar dari pancurannya ini ditembak dengan cahaya lampu sorot berwarna warni, sehingga terlihat efek kerlap kerlip seperti pelangi. Sebuah ide yang sederhana tapi cukup keren menurut saya. Bolehlah ini dicontoh daerah yang punya jembatan besar di Indonesia, seperti sungai Musi / bengawan solo.

Pertunjukannya air mancur ini diadakan setiap hari dari jam 19.00 hingga 21.00, setiap rentang 30 menit, dan berlangsung kurang lebih selama 15 menit. Info lebih lanjut mengenai Banpo bridge ini bisa klik disini.

Karena anak-anak sudah pada menggigil kedinginan, kita sudah tidak tahan berlama-lama disana. Akhirnya menyerah dan pilih langsung balik ke stasiun, kemudian naik kereta metro line line 9 ke st. dangsan dan ganti subway line 2 ke st. Hongik University. Kita kembali tiba di apartemen kurang lebih jam 10 malam. Seperti biasa, energi sudah habis buat keliling cari makanan. Jadi ya makan malam hari ini kembali disediakan oleh master chef bunda…..  It’s time to take a rest tonight and recharge our energy for tomorrow.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *