Malaysia 2019, Day 2: KL – Putrajaya

Jika melihat paspor kami, cap terbanyak adalah negara Malaysia. Entah sudah berapa kali bolak balik kesana, khususnya Kuala Lumpur. Jadi boleh dibilang hampir semua tempat wisata di KL sudah dijelajahi. Tapi ada 1 wahana baru yang penasaran untuk dikunjungi, yakni 20th century fox di genting highland. Trip kali ini sebenarnya adalah ingin kesana, mengingat info pembangunannya sudah dari tahun 2016 lalu. Tapi setelah tanya mbah google, rupanya progress pembangunannya terhambat masalah perizinan, sehingga sampai saat blog ini dibuat masih belum jadi juga.

Karena trip ke genting dicoret, jadi kita langsung pilih wisata yang agak sedikit menjauh dari kota KL, yakni Putrajaya. Lokasinya bisa ditempuh 1 jam perjalanan naik grab/taksi. Tapi sebelum jalan kesana, kita nyari sarapan nasi kandar dulu ke restoran TG’s nasi kandar. Banyak traveler yang merekomendasikan restoran ini, jadi penasaran juga untuk mencicipi masakannya.

Dari hotel ke restorannya gak jauh, tinggal jalan kaki 5 menit aja sudah sampai. Karyawan restoran ini adalah semuanya etnis india / pakistan, jadi otomatis masakannya khas sana yang serba serbi kari berbumbu rempah-rempah yang sangat berasa.

Nasi kandar adalah nasi rames versi malaysia. Nasinya diberi kuah kari, dengan lauknya ada ayam/daging bumbu kari dan sayuran. Harganya lumayan mahal untuk di kantong, jadi gak heran mayoritas pengunjungnya adalah turis asing. Cuman anak-anak pada kurang suka karena rata-rata masakannya agak pedas lada. Soal rasa menurut saya sih lumayan. Roti nan dan Ayam tandoori-nya masih lebih enak di resto ayam tandoori pak putera di Melaka dan menu kari-karian masih lebih enak restoran di terminal bus bawah kantor imigrasi Johor.

  • Astaka Morocco – Putrajaya
Berasa lagi di Maroko

Terpesona oleh salah satu temen traveler yang cerita ada spot foto bagus ala negara maroko yang instagramable di Malaysia, yakni Astaka Morocco, membuat kita semangat naik grab 45 menit kesana. Lokasinya berada di dalam kompleks Putrajaya Botanical Garden. Bangunan pavilion seluas 1.672 meter persegi ini dibangun atas inisiatif Pemerintah Malaysia dengan bantuan pemerintah dan masyarakat Maroko sebagai simbol ikatan diplomatik kedua negara.

Tak heran jika arsitekturnya bergaya Moor yang menjadi ciri khas Maroko dan menyerupai Istana Alhambra di Granada, Spanyol.

Bagian dalam Astaka Morocco terbagi menjadi tiga halaman besar, yaitu halaman depan, King’s Court, dan Granada Court yang masing-masing dibatasi pintu gerbang berornamen dengan nama City Gate, Palace Gate, dan Splendour Gate. Hampir semua dinding dan tiang bangunannya dihiasi oleh ayat-ayat Alquran.

We are the reds

Kalau ingin memasuki paviliunnya dikenakan biaya 3 RM, dan gak boleh ambil berfoto sembarangan, hanya boleh menggunakan kamera HP. Kalau baca-baca trip advisor, ada beberapa sentiment negative mengenai tempat ini, tapi selama kami disana sih terbukti gak ada masalah sama sekali. Hampir tiap sudutnya instagramable, jadi puas deh berfoto ria disana.

  • Mesjid Putra & Kantor Perdana Menteri – Putrajaya

Dari Astaka Morocco ke masjid Putrajaya sebenarnya bisa ditempuh dengan berjalan kaki sekitar 15 – 20 menitan. Tapi berhubung cuaca panas 32 derajat dan kita malas gerak, lebih memilih panggil grab aja kesana.

Mesjid megah nan cantik berwarna pink ini terletak di kompleks perkantoran Perdana Menteri Putrajaya. Arsitektur bangunan ini dipengaruhi oleh beberapa kebudayaan Islam, seperti pintu masuk utama terinspirasi dari pagar bangunan wilayah Persia, menara setinggi 116 meter yang terinspirasi dari menara Syaikh Omar di Baghdad, dinding basement yang terinspirasi dari Masjid Sultan Hassan di Maroko, dan hampir seluruh bangunan serta kubahnya terbuat dari susunan batu granit berwarna pink rose. Jadi kalua di turki terkenal mesjidnya yang berwarna biru, kalau di Putrajaya terkenal dengan mesjidnya yang berwarna pink.

Meski fungsi Utama masjid ini adalah untuk ibadah, namun digunakan juga untuk pariwisata dan merupakan salah ikon di Putrajaya. Banyak turis asing yang datang untuk melihat langsung masjid ini berikut dengan melihat umat islam beribadah di dalamnya. Untuk dapat memasukinya diharuskan berpakaian sopan dan menutup aurat. Karenanya semua turis non muslim yang datang diharuskan memakai jubah berwarna merah maroon yang bisa dipinjam di samping gerbang utama masjid.

Tidak lupa kita menunaikan ibadah shalat dzuhur dan jamak dengan shalat ashar disini.

Selesai shalat, sebetulnya pengen jalan-jalan ke kantor Perdana Menteri Putrajaya yang lokasinya dekat dengan masjid. Namun seperti biasa, karena cuaca panas terik kembali bikin malas berjalan kaki kesana. Cukuplah kita puas melihatnya dikejauhan….. Gak pake lama, langsung deh pesen grab lagi ke KLCC Aquaria.

  • KLCC Aquaria – Kuala Lumpur

Berhubung bawa bayi, tentu wajib dong mengunjungi tempat yang bisa dinikmatinya…. Pilihan kita pun jatuh ke Aquaria KLCC yang berada di gedung KLCC. Aquarium terbesar dan tertua di Kuala Lumpur ini berisi aneka macam ikan laut dari perairan sekitar Malaysia.

Niat mengunjungi tempat ini sebenarnya sudah sejak trip pertama ke Kuala Lumpur 9 tahun yang lalu, saat Alisya dan Rasya masih berusia 2 tahun & 1 tahun. Namun justru malah baru kesampaian sekarang.

touch pool

Karena tergolong tua, otomatis interior dalamnya pun terasa usang dan agak kurang perawatan. Koleksi ikannya juga masih lebih lengkap Jakarta Aquarium dan Sea World Indonesia. Tapi overall tetap menyenangkan sebagai tempat liburan santai dengan anak kecil.

mommy shark…

Si Rasya sampai terkesima melihat terowongan kaca bawah kolam sepanjang 90 meter yang berisi aneka ikan besar besar. Alisya, Raffa dan Aira juga keasyikan main sama teripang dan hiu kecil di touch pool.

I want to touch it, mommy….

Sepintas tempat ini terlihat kecil, tapi saat menjelajahinya ternyata lumayan besar juga.

  • KLCC Park & Petronas Twin Tower – Kuala Lumpur

Keluar Aquaria, kami naik tangga lalu ketemu dengan KLCC Park yang adeeeem banget. KLCC Park ini merupakan taman yang luas ditengah area komplek perkantoran KLCC yang favorit bagi warga sekitar dan turis. Tidak hanya sekedar taman dengan banyak pepohonan dan rumput, terdapat juga playground untuk anak-anak 2-12 tahun.

The Twin Tower

Di sore hari terlihat banyak warga yang asyik berjoging ria, ada yang berjalan santai Bersama keluarga/teman dan ada juga yang asyik berfoto ria, karena Twin Tower Petronas terlihat jelas sekali dari sini.

Di dekat Suria Mall terdapat kolam air mancur menari yang tampak indah di malam hari. Rasanya betah kita berlama-lama di taman ini.

  • Kulineran di Jalan Alor – Bukit Bintang, Kuala Lumpur
street for food lovers

Setelah puas menikmati KLCC Park, kita cari taksi meteran untuk balik ke hotel. Karena Twin Tower ini merupakan tempat favorit turis, sungguh sulit sekali memesan grab disini. 30 menit terbuang percuma saat mencari grab yang tidak kunjung dapat. Akhirnya saat ada taksi yang tiba-tiba berhenti didepan kita untuk menurunkan penumpang, kita langsung bajak secepatnya.

Setibanya di hotel, anak-anak memilih untuk istirahat karena kecapean. Sementara kita berdua (bertiga dengan rasya tepatnya… ) memilih untuk jalan-jalan menyusuri gang alor. Seluruh gang ini isinya jajanan kuliner semua yang sukses membuat perut yang tadinya kenyang, tiba-tiba menjadi ikutan lapar.

Nasgor pattaya yang nyummy….

Sayangnya sih rata-rata makanan yang ada disini non halal. Tapi untungnya ada 1 buah restoran seafood khas Thailand halal yang terlihat, langsung deh melipir kesana. Kita memesan nasi goreng seafood dan kerang rebus, serta bungkus makanan untuk anak-anak.

The famous culinary street in KL

Melihat gang Alor ini terasa agak berbeda dengan kunjungan pertama kami ke Kuala Lumpur. Sekarang gang ini lebih rapih, tapi lebih padat pedagangnya dan pengunjung terasa jauh lebih ramai dibandingkan dulu. Area bukit bintang juga bukan main ramainya kayak cendol.

Iseng-iseng kita bolak balik mencari hotel Apple yang dulu kita tinggali, tapi ternyata sudah tidak ada. Akses jalan didepannya sudah tertutup oleh pedagang. Hilang sudah masa nostalgia 9 tahun lalu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *