Vietnam 2019, Day 4: Da Nang – Hoi An

Kota Da Nang sebenarnya merupakan hub antara kota Hue dan Hoi An, dimana masing-masing punya tempat wisata historical yang menarik untuk dikunjungi. Seperti kota Hue memiliki istana kekaisaran seperti forbidden city di cina dan Hoi An memiliki ancient water village. Dalam sehari tidak mungkin bisa menjelajahi semuanya kalau start dari Da Nang. Karena jarak dari Da Nang ke Hue itu cukup jauh (100 km), sementara kalau ke Hoi An lebih dekat (30 km). Jadi rasanya untuk city tour 1 hari yang terbaik adalah menjelajahi kota Da Nang dan Hoi An saja.

  • Pagoda Ling Ung

Pukul 10 tepat mobil sedan carteran kami mulai berangkat dari apartemen menuju ke pagoda Ling Ung yang berada di Son Tra Peninsula, sisi utara dari pesisir pantai Da Nang. Karena lokasinya berada diatas perbukitan, jadi selama perjalanan akan terlihat keindahan pemandangan kota Da Nang dan pantainya yang sangat bersih dari atas bukit.

Pagoda ini merupakan tempat ibadah umat budha, dimana berdiri patung dewi kuan Lim atau dewi pengasih setinggi 67 meter. Jadi kalau di brazil punya patung jesus tinggi besar diatas bukit, maka di Da Nang memiliki patung dewi kuan lim sebagai yang tertinggi di Vietnam. Masyarakat sekitar percaya dengan kehadiran monument raksasa ini akan melindungi para nelayan dari bahaya.

1st impression saat tiba di lokasi adalah CUACANYA PUANAS POLLLLL!! Cek di accuweather, suhu setempat adalah 36 derajat celcius dan masih akan naik ke 37 di tengah hari. Plus sinar terik di perbukitan bikin kita ogah berlama-lama disini. Meski didalamnya terdapat kuil yang berasitektur tiongkok yang sebenarnya menarik untuk di explore. Selain itu dari sini kita bisa melihat kota Da Nang dan pesisir pantai secara utuh.

  • Restoran Simpur

Dari utara, perjalanan berikutnya adalah menyusuri pantai arah selatan. Sehingga sebelum kita menjauhi kota Da Nang, kita pilih singgah dulu untuk makan siang di restoran Simpur.

Restoran halal ini menyajikan masakan melayu khas brunei. Karena kita belum pernah makan di restoran brunei sebelumnya, jadi penasaran kesini. Tapi setelah melihat daftar menunya, ternyata masakannya itu 11-12 dengan Indonesia, seperti ayam goreng dan daging bumbu ala rendang. Jadi lumayanlah pengobat rindu masakan Indonesia.

Karena pemiliknya adalah orang brunei yang tinggal di Vietnam, karyawannya juga orang melayu semua. Mereka kerja disini dengan modal bahasa melayu aja, tapi gak lancar bahasa inggris ataupun Vietnam.

  • Marble Mountain

Salah satu highlight wisata di Da Nang adalah marble mountains, yakni kawasan perbukitan batu kapur dan marmer di distrik Ngũ Hành Sơn, bagian selatan kota DaNang. Marble mountains, atau orang Vietnam menamainya dengan Ngũ Hành Sơn (Gunung Lima Elemen), merupakan penamaan dari orang perancis yang mempelajari unsur kimia dari tanah tersebut. Oleh karena itu, ada lima gunung yang terpisah dalam gugusan dan dinamai berdasarkan lima unsur dasar kehidupan (menurut filsafat Timur): Kim Son (Gunung Logam), Moc Son (Gunung Tanaman), Thuy Son (Gunung Air), Hoa Son (Gunung Api), dan Tho Son (Gunung Tanah). Masing-masing gunung memiliki gua, patung dan tempat beribadat didalamnya.

Karena waktu yang terbatas, kita memilih Thuy Son (gunung air) aja. Selain tempat ini adalah gunung terbesar, terlengkap dan paling ramai dikunjungi, terdapat juga sebuah lift yang mengantarkan ke atas bagi yang males gerak seperti kami.

Harga tiket masuk gua-nya adalah 40.000 VND, untuk anak-anak gratis. Tapi tiket ini belum termasuk naik lift. Jadi harus bayar lagi 15.000 VND / one way / orang (gak peduli anak/dewasa). Kalau mau gratis, disebelah lift terdapat sekitar 150an anak tangga batu untuk menuju puncaknya.

Berada di puncak gunung, kita bisa melihat pemandangan desa pengrajin marmer dari atas bukit dan patung budha yang besar. Selain itu terdapat kuil Ngu Hanh Son dan pagoda Xa Loi yang terdiri dari 7 tingkat. kompleks tempat peribadatan umat budha ini konon sudah berdiri sejak abad ke 18 dan pernah menjadi markas besar umat budha di Vietnam.

  • Cam Thanh Coconut forrest

Dalam perjalanan ke kota Hoi An, kita diajak oleh driver ke Cam Thanh coconut forest. Tempat ini sebenarnya tidak ada dalam bucket list kita, tapi setelah mendengar penjelasan driver tentang tempat ini dan apa yang menarik disana, kita jadi tertarik untuk mengujunginya.

Coconut boat

Kita diantar oleh drivernya ke salah satu rumah penduduk di Cam Nhan village, lalu oleh salah satu warga diantar ke dermaga terdekat untuk naik perahu bamboo. Perahunya sendiri sangat unik, karena berbentuk seperti seperti buah kelapa yang dibelah. Kita disambut oleh 2 orang tua yang akan menjadi tukang kayuh perahu kita. Karena kita berenam, kita pesan 2 perahu.

Bamboo hand craft

Dengan perahu bamboo ini kita diajak mengarungi rawa yang dikelilingi oleh pohon-pohon kelapa berukuran pendek dan hutan mangrove. Sungguh suatu pemandangan yang indah dan pengalaman yang menyenangkan untuk anak-anak.

Sepanjang perjalanan, tukang kayuh kita berusaha membuat kelucuan untuk menghibur kita. Meski tanpa bisa Bahasa inggris sedikitpun, mereka tetap cerita ini itu tentang kawasan ini dan membuat kelucuan dengan body gesture.

Serunya lagi, ternyata ditengah rawa telah berkumpul banyak perahu bamboo berisi turis-turis asing. Sambil diatas perahu, kita disuguhi tontonan berbagai atraksi para tukang kayuh. Ada 3 atraksi yang saya lihat, yakni atraksi karaoke, atraksi coconut dance dan aksi sulap.

Yang paling menarik adalah atraksi coconut dance, dimana seorang tukang kayuh menunjukkan keahliannya berjoget-joget dengan perahu bulatnya mengikuti irama lagu. Kok dia tidak pusing ya dengan putaran kapal sekencang itu?

Mangrove forest

Sebelum kembali ke dermaga, kita diberi kesempatan untuk turun ke salah satu area mangrove untuk berfoto. Dan sebelum melanjutkan perjalanan ke Hoi An, kita minum es kelapa muda dulu di rumah warga yang kita datangi tadi. Segarrrr…..!!!

  • Hoi An City
Sunset at Hoi An City

Hoi An adalah sebuah kota kecil di provinsi Quang Nam di bagian tengah Vietnam, yang memiliki slogan “The Ancient Town“, atau kota tua. Benar saja, pusat kotanya masih didominasi bangunan tua dan jalan-jalan sederhana yang tak beraspal. Kota ini dinobatkan sebagai kota tua otentik Asia yang masih terawat. Dulunya, Hoi An adalah sebuah kota pelabuhan dan perdagangan yang strategis. Pelabuhan ini didatangi bangsa Portugis dan Jepang. Namun sayang, keberadaannya sebagai pelabuhan utama terkikis oleh letak Da Nang yang lebih strategis dan pengendapan di pelabuhan Hoi An.

All about yellow mustard

Menjelajah kota ini lebih baik dengan jalan kaki atau sepeda. Selain kecil, kluster blok dan ruas jalan yang sengaja dikonservasi untuk dipertahankan keasliannya membuat kita tak ingin cepat-cepat melalui setiap detilnya. Rasanya seperti mengunjungi sebuah kota pelabuhan dan perdagangan pada abad ke-16 dan ke-17.

Sepanjang jalan berisi dengan bangunan tua berwarna kuning mustard yang kondisinya tetap dipertahankan. Sekarang bangunan-bangunan tersebut diisi oleh pedagang cinderamata, pakaian, souvenir, lukisan kanvas dan lukisan di atas marmer sampai miniatur beragam kapal antik. Tentu saja, penjaja makanan juga ada, baik itu yang di rumah makan maupun gerobak, menjual mi Cao Lau, semangkok mi beras yang dilengkapi dengan daging, chive dan daun ketumbar, dengan air rebusan yang konon memberikan rasa khas karena berasal dari sumur setempat, hingga roti Banh Mi, baguette isi daging panggang dan sayuran.

Suasana hiruk pikuk disini sangat terasa, dimana turis pada berseliweran dimana-mana. Tidak heran karena banyak yang bilang bahwa saat terbaik mengujungi Hoi An adalah saat sore hari. Alhamdulillah kita berhasil tiba disini jam 17.30, tepat menjelang matahari terbenam.

Dan benar saja, kami terkesima dengan keindahan kota di sisi kanal yang berisi perahu kayu panjang khas Vietnam saat senja tiba. Semakin malam, tampak lampu-lampu kecil dan lampion-lampion mulai menghiasi seluruh penjuru kota membuat wajahnya tambah cantik. Bagi penggemar fotografi dan sejarah , serta yang ingin melihat Vietnam dari sisi berbeda, Kota tua Hoi An ini sangat layak dikunjungi.

Berhubung bawa anak-anak yang sudah mulai kelelahan, kita tidak bisa berlama-lama karena waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam. It’s time to go back. Andai saja punya waktu lebih, pengen rasanya explore lebih jauh….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *