Korea Selatan 2017, Day 6: Gapyeong Rail Bike – Nami Island – COEX Artium Library

Salah satu tempat wajib yang harus didatangi jika liburan ke Korea Selatan adalah Nami island. Pulau kecil yang terletak di area bendungan cheongpyeong ini terkenal karena pernah menjadi tempat syuting winter sonata yang sangat populer di tahun 2013.  Saya sendiri sih belum pernah menonton drakor ini, tapi setiap melihat keindahan foto orang-orang yang berlibur kesini bikin penasaran untuk mengunjunginya. Lokasinya berada di daerah Gapyeong, propinsi Gyeonggi-do, yang mana sebenarnya memiliki banyak banget tempat wisata menarik selain Nami island, yakni seperti Gapyeong Rail park, Jaraseom island, Petite France, & Garden of Morning Calm. Secara itinerary awal sebetulnya ada 3 tempat yang hendak kita buru dalam sehari ini, yakni Nami island, Petite France & Garden of Morning Calm. Namun karena kemarin gagal naik rail bike di Gangchon, terpaksa menebus keinginan anak-anak ini dengan naik rail bike di Gapyeong Rail Park.

Seperti biasa, aktivitas dimulai dari jam 8 pagi dengan berangkat dari st. Hongik University ke st. Yongsan. Kemudian kita membeli tiket ITX Chuncheon untuk tujuan ke st. Gapyeong jam 08.54 seharga 4.900 won (A) & 2.400 won (C). Dan seperti biasa, kita kembali gagal dapat tempat duduk, jadi ya terpaksa lesehan lagi di standing area dari gerbong ITX. Perjalanan kereta ITX dari st. Yongsan ke st. Gapyeong memakan waktu sejam, sehingga kami tiba pukul 09.50 dan keluar melalui exit 1.

Tepat di pintu keluar stasiun akan terlihat sebuah halte dengan gedung tourist information center di sebelahnya. Kita bisa tanya-tanya tempat wisata di sekitar Gapyeong dan mode pilihan transportasi untuk kesananya. Tapi berhubung kita sudah cari-cari informasi sebelumnya via internet, dengan PeDe langsung aja ke halte bis dan naik Gapyeong city tour bus yang akan berangkat pukul 10.00. Bis ini melayani rute keliling tempat wisata terkenal diseluruh area Gapyeong dan kita bisa naik ala Hop On Hop Off sepuasnya selama seharian penuh. Harga tiketnya adalah 5500 won (A) & 3500 won (C) dan bisa langsung dibeli di dalam bis dengan membayar langsung ke sopirnya. Rute bis & time table-nya bisa dilihat dibawah ini.

** Sedikit catatan perjalanan:  Naik Gapyeong city tour bus ini baru akan terasa untung jika anda traveling max 2 orang saja, atau jika anda sekalian berencana mengunjungi Garden of Morning Calm dalam seharian. Jika peserta traveling anda diatas 2 orang dan hanya berencana mengunjungi Gapyeong Rail Park +/- Nami Island +/- Petite France saja akan lebih hemat jika menggunakan taksi. Karena jarak dari ketiga tempat tersebut berdekatan, sehingga selain hemat uang, anda juga akan menghemat waktu ketimbang naik bis yang akan muter-muter. Kecuali jika ada rencana Garden of Morning Calm, lokasinya agak jauh dari Gapyeong, bahkan cenderung lebih dekat dengan stasiun Gulbongsan. Jangan khawatir mendapatkan taksi yang nakal, karena sopir taksi di Korea menurut saya jujur semua. Bahkan beberapa driver ada yang menolak diberikan uang tip…..

  • Gapyeong Rail Park

Serupa dengan Gangchon Rail park, Gapyeong Rail Park juga merupakan tempat wisata kereta sepeda dengan rute perjalanan menyusuri daerah pedesaan Gapyeong yang memakan waktu kurang lebih sama. Namun kekurangannya disini adalah tidak ada satupun terowongan yang dilewati dan juga tidak mendapatkan extra perjalanan naik kereta lokomotif seperti di Gangchon Rail Park. Jadi ya kita mendapatkan full rail bike bolak balik stasiun Gapyeong Rail Park.Tapi biar bagaimanapun juga, tempat ini lebih populer dikalangan turis karena biasanya yang datang kesini akan sekalian jalan-jalan ke Nami Island.

Gapyeong city tour bus kami tiba disini jam 10.15 dan kita langsung membeli tiket naik rail bike ini. Berhubung kita berlima (2 dewasa + 3 anak kecil), tadinya berharap bisa naik 1 rail bike aja yang muat 4 orang (1 anak dipangku aja gitu….. ). Tapi ternyata tidak diperbolehkan oleh petugasnya, jadi terpaksa kita beli tiket 1 kereta @4 penumpang seharga 35.000 won & 1 kereta @2 penumpang seharga 24.000 won. Sudah begitu kita disuruh buru-buru naik ke keretanya tanpa briefing apapun, soalnya rombongan batch kita yang jam 10 dah pada siap berangkat semua…… Jadi ya sudahlah, langsung susun formasi kereta pertama @4 penumpang diisi oleh saya + para girlies dan kereta kedua @2 penumpang diisi oleh Bunda + Bodyguard kecilnya.

Dengan semangat 45, kita gowes kereta keluar stasiun dan langsung terlihat pemandangan sungai han dari atas rel yang asli, Sumpah keren abieesss….!!! Lanjut gowes melewati pepohonan yang rindang dan indah berwarna warni, yang seakan menyapa kedatangan kereta kita dengan suara desis dedaunan yang tertiup angin. Udara juga terasa bersih, sejuk dan segar karena berada di kawasan perbukitan. Rambut juga seakan dibelai oleh angin sepoi-sepoi, bawaannya sebetulnya bikin ngantuk, tapi kita terpaksa harus gowes terus. Selepas dari area pepohonan, kereta mulai menyusuri pinggir sungai han, melewati kebun sayur dan kawasan pemukiman yang sebetulnya lebih banyak berfungsi sebagai villa untuk liburan bagi warga Korsel. Jalur rail bike ini dulunya merupakan jalur kereta pedesaan yang sudah tidak jalan lagi, karenanya dimanfaatkan sebagai kereta sepeda wisata untuk para turis yang ingin melihat sisi lain dari hiruk pikuk kota Seoul yang modern.

Sesuai judulnya, romantic rail bike, sebetulnya asyik juga jika gowes kereta sembari bergandengan tangan bersama pasangan. Jadi sang cowok akan seolah-olah akan terlihat kejantanannya dalam mengowes sepeda…..  Karena rutenya beneran jauh lho….. Untuk sekali jalan aja dari stasiun Gapyeong menuju stasiun Gyeonggang itu berjarak 4 km dan kurang lebih ditempuh dalam waktu 45 menit. Jadi kalau bolak balik akan menempuh perjalanan 8 km dalam durasi waktu tempuh kurang lebih 1.5 – 2 jam. Awal berangkat sih kita masih gowes dengan gagahnya, tapi 20 menit kemudian mulai terasa nafas megap2, paha dan betis gempor, mata berkunang-kunang……. kelihatan banget deh jarang olahraganya……  Mana kita bawa anak kecil lagi, nasib sudah kereta segede gitu cuman digowes oleh 1 orang doang…..  Yang namanya anak-anak, baru gowes sebentar dah pada ngeluh capek, jontor sudah deh bapa’e & ema’e…….   Udah begitu penderitaan tambah lengkap karena boro-boro bisa santai gowesnya…… Lha wong semua keretanya berada dalam 1 rel, jadi otomatis kalau yang depan pelan otomatis akan menghambat kereta yang belakang.  Peserta yang lain sih kebanyakan 40 menitan dah pada sampai di stasiun Gyeonggang, kalo kita ya kira-kira extra 10 menitan kemudian lah……

Begitu sampai stasiun Gyeonggang, saya langsungke minimarket dan beli 2 botol gatorade untuk menggantikan ion-ion tubuh yang rasanya mencapai titik nol…..!!  Andai ada pijat refleksi pasti laku berat tuh……  Tapi boro-boro mau pijet deh, kaki baru selonjoran sebentar aja sudah dipanggil lagi petugasnya untuk berangkat balik lagi ke stasiun Gapyeong. Disini memang kita cuman dikasih waktu istirahat 15 menit doang, Jadi kalau kereta pertama yang tiba lebih cepat ya enaknya bisa istirahat lebih lama ketimbang rombongan kereta terakhir seperti kami.  Nah disini bedanya antara Gapyeong dengan Gangchon rail park. Kalau di Gangchon RP itu setengah perjalanan lagi seperti sekarang ini akan ditempuh dengan naik kereta lokomotif Nangman. Jadi enak bisa duduk istirahat di dalam kereta sembari menikmati pemandangan.

Rute baliknya sama dengan rute berangkat, tapi kali ini kita minta ganti ke kereta paling belakang saja agar bisa lebih santai gowesnya. Mungkin petugasnya melihat muka memelas kita, akhirnya permintaan kita disetujui. Dengan sisa-sisa tenaga yang mungkin tersisa 40%, kita mulai gowes keretanya. Nasib saya dan istri sih kurang lebih sama deh….. Tapi setidaknya kita bisa istirahat kalau kaki dah mulai terasa pegal. Sebodo amat deh kereta depan dah jauh ninggalin kereta kita berdua…..  Sejam kemudian akhirnya kereta kita berdua tiba kembali dengan selamat di stasiun Gapyeong….. Para peserta rombongan depan sih dah pada bubar semua, tinggal kita aja sisa peninggalan bersejarahnya…… haha2….  Maksud hati mau liburan santai kemari, yang ada malah disuruh olahraga Tour de Gapyeong……

  • Namiseom Island

Meski kaki masih gempor, but the show must go on….. Kita tetap bertekad lanjut ke Nami island dengan Gapyeong city tour bus. Jarak dari Gapyeong Rail Park ini ke dermaga Nami island sebenarnya cukup dekat, yakni hanya 10 menit. Sementara Kita terlantar menunggu Gapyeong city tour bus yang lama banget datangnya saja sudah membuang-buang waktu 50 menit. Meski bisnya datang tiap sejam sekali, tapi rasanya kok gak efektif ya menggunakan bus ini. Kita sempat tergoda untuk memanggil taksi yang wira wiri ke tempat ini, namun karena sayang sudah beli tiket bis mahal-mahal ya terpaksa ditahan sajalah.

Setelah penantian panjang, akhirnya bisnya pun datang jam 13.15 dan kita tiba di dermaga jam 13.25. Dari halte bis masih harus sedikit berjalan kaki menyusuri area parkiran kendaraan ke loket tiket penyebrangan ferry ke Nami island. Sebenarnya ada 2 cara menuju Nami island, yakni dengan cara extrem naik flying fox menyebrangi pulau dari tower Zip Wire ke Nami island, atau naik ferry setiap 15 menit sekali. Tentu saja kita pilih yang aman-aman saja dong, naik ferry dengan membeli tiket seharga 8.000 won (khusus turis). Kalau mau coba flying fox bisa membeli tiket seharga 38.000 won di loket tower Zip Wire, tapi konon katanya sih gak worth it & wasting time, karena antrian menaikinya bisa mencapai 2 jam, sementara sensasinya hanya 5 menit.

Entah buat sekedar gimmick pariwisata atau gimana, kita dikasih tiket Visa dari kasir loket untuk menyebrang ke republik Naminara…..  Dengan tiket ini kita bisa langsung naik ferry yang berukuran cukup besar dan menyebrang ke sana kurang lebih 15 menit perjalanan. Sesuai slogannya sebagai pulau romantis, pulau kecil ini sangat indah dan keren sekali. Begitu menginjakkan kaki saja sudah terdengar senandung lagu klasik romantis. Belum lagi jajaran pohon Ginko yang sudah tampak menguning dan daunnya berguguran yang asli keren abis…!!  Tempatnya sangat adem, angin sepoi-sepoi bertiup, suara gemersik pohon dan dedaunan yang berjatuhan, bunga berwarna warni, serta lagu romantis yang diputar benar-benar bikin baper dan malas pulang. Langsung deh terbayang suasana romantis disini seandainya kita bisa berjalan santai menyusuri jalan ini sembari bergandengan tangan berdua saja dengan pasangan. Tentunya dalam kondisi sepi yah……bukan dalam kondisi hiruk pikuk seperti ini. Mungkin seandainya kita kita datang kesini dari pagi banget bisa mendapatkan sweet moment-nya, tidak seperti kami yang datang kesiangan. Karena tempat ini merupakan objek wisata wajib di Korea Selatan, sehingga pulau Nami nyaris tidak pernah sepi. Saat kami tiba disana saja sudah seperti cendol. Sangat sulit mendapatkan foto terbaik yang bisa sepi dan menunjukan keindahan pulau ini tanpa gangguan orang lain. Padahal nyaris ditiap sudut pulau ini sangat keren untuk berfoto ria.

Sibuk dengan urusan keliling pulau dan mencari spot-spot keren untuk photo session jadi sampai lupa perut keroncongan. Tadinya niat untuk makan di restoran Asian Cuisine yang memiliki sertifikat halal, tapi setelah melihat harga makanannya yang mahal jadi bikin kita sukses mundur teratur. Terus sempat terpikir untuk makan di restoran Nami-Ok yang juga halal, tapi kok muter-muter sekitar pulau tak kunjung menemukan restorannya. Kebetulan saat mengitari area restoran terlihat sepasang ahjumma & ahjussi yang memegang sebuah kotak makanan dan mengocok-ngocoknya. Penasaran dengan makanan apa yang harus dikocok-kocok seperti itu, kita masuk ke dalam restoran Yeonga Lunch Box yang berlokasi persis disebelah restoran Asian Cuisine. Melihat harganya yang murmer, tanpa pikir panjang kita langsung memesan 4 buah kimchi cheese lunch box. Setelah membayar, kita akan diberikan nomer kupon antrian dan 2 buah sarung tangan karet.

Yeonga lunch box restaurant ini menyajikan menu unik, yakni nasi + telur + kimchi + cheese yang ditaruh didalam kotak metal (semacam seng) dan dimasak dengan cara di bakar dalam panggangan. Dalam kondisi masih panas, kita diberikan kotak makanan ini yang masih tersegel. Saya perhatikan pengunjung restoran ini masih ada yang kurang mengerti cara makannya, karena saat saya hendak mengocok makanannya banyak yang terlihat keheranan…..  Soal rasa, menurut saya makanan nasi bakar ala korea ini enak. Rasa manis dan asin hasil dari campuran bumbu kimchi + telur + cheese-nya begitu terasa. Namun sayangnya agak repot ya makan nasi yang agak basah seperti itu dengan sumpit besi.

Setelah urusan perut beres, kita melipir ke musholla yang berada di sebelah restoran Asian Cuisine. Disini terlihat keseriusan pemerintah Korsel menggarap industri pariwisata yang ramah muslim, karena musholla yang terletak di lantai 2 ini sangat bagus, bersih dan disediakan pinjaman sarung & mukenahnya. Dibawah musholla terdapat perpustakaan anak-anak, lengkap dengan mainan perosotannya. Anak-anak sempat mencoba main disini sebentar sembari menunggu kita shalat.

Sebelum pulang, kita sempat berkeliling sebentar untuk mencari patung winter sonata yang kesohor itu. Pulau Nami ini sendiri berukuran tidak terlalu besar, jika fokus untuk menjelajahinya tanpa ribet urusan fotografi sih cukup 3 jam juga kelar mengelilingi seluruh area pulau ini. Secara itinerary sih sebetulnya planning disini hanya 3 jam saja, tapi karena keasyikan jalan-jalan, makan siang dan bernarsis ria jadi molor 4 jam lebih…….  Akhirnya kita baru keluar dari pulau ini jam 5 sore. Rencana awal sebetulnya ingin melanjutkan ke petite france, namun kata salah satu karyawan Nami island dan sopir taksi pada kompak mengatakan kalau petite france sudah tutup. Bener-bener nyesel dan kecewa banget deh rasanya karena sudah jauh-jauh ke Korsel tapi gagal mengunjungi tempat ini. Seandainya saja kita tidak membuang waktu sejam sia-sia menunggu shuttle bus di Gapyeong Rail Park pasti bisa kekejar deh….. Padahal ternyata jarak dari Gapyeong RP ke dermaga Nami island itu sangat dekat. Jadi pelajaran buat temen-temen pembaca blog ini yang berencana mengejar 3 tempat wisata di Gapyeong, sebaiknya memasukkan Nami island di urutan terakhir saja, karena tempat ini buka sampai malam. Sementara tempat wisata lain seperti Gapyeong RP / Garden of Morning Calm / Petite France itu ada keterbatasan jam operasionalnya.

Malas menunggu city tour bus yang jadwal berikutnya jam 18.15, kita pilih naik taksi untuk balik ke stasiun Gapyeong. Ternyata jaraknya juga dekat dan tarifnya tidak lebih dari  3000 won!! Aduh, berasa rugi banget deh membayar 21.500 won buat beli 5 tiket bis city tour Gapyeong.

  • COEXartium Mall

Berhubung hari masih sore dan kita ogah rugi trip, akhirnya kita memutuskan untuk mengunjungi salah satu underground mall terbesar di Korea Selatan, yakni COEXartium mall. Kita kesana naik kereta Gyeongi-Jungang line dari stasiun Gapyeong ke st. Wangsimni, lalu ganti kereta subway line 2 ke st. Samsoeng dan keluar melalu exit 5. Sebelum memasuki area mall-nya, kita menjumpai SM Town yang memang berada dalam bangunan COEX Atrium Mall. Bagi para fans artis Korea biasanya memasukkan tempat ini sebagai itinerary wajib, karena didalamnya berisi galeri para artis Korsel dibawah naungan SM Town. Berhubung kita gak terlalu fanatik, ya kita langsung lewati aja itu tempat…..


Jika kebanyakan orang yang datang ke COEX Artium Mall adalah untuk window shopping atau ke COEX Aquarium, maka kalau kita kesana hanya langsung menuju ke 1 tempat, yakni mengunjungi perpustakaan terbuka yang berada ditengah-tengah mall ini. Sebelum berangkat ke Korea, saya memang sempat artikel mengenai perpustakaan super kece di COEX Artium dan langsung penasarang untuk melihatnya langsung.

First impression, perpustakaannya kereeeeenn abiiieeeesss…..!!  Dekorasi interiornya yang modern dan rak buku yang menjulang tinggi dari lantai dasar hingga lantai atas membuat saya langsung jatuh hati. Dilantai atas terdapat meja untuk membaca dengan view pemandangan rak buku raksasa yang bikin siapapun betah berlama-lama disana. Koleksi buku serta majalahnya juga lumayan lengkap dan update, baik lokal maupun internasional. Karena berada ditengah mall, jadi siapapun bebas mengaksesnya secara gratis. Tinggal beli snack & minuman ringan di mall, trus duduk santai baca buku deh…..  Semoga hal bagus seperti ini bisa ditiru oleh salah satu mall di Indonesia, sehingga kalau ke mall kan gak melulu urusan shopping & makan, jadi bisa sekaligus menumbuhkan minat membaca.

Puas menjelajahi area perpustakaan ini, kita langsung balik ke apartemen dengan naik subway line 2 dari st. Samsoeng ke st. Hongik university. Namun sebelum naik ke apartemen, kita jajan odeng dan tteoboki dulu seperti biasa untuk makan malam. Memang benar-benar bikin ketagihan deh ini makanan…..  End of today’s journey

Share and Enjoy !

0Shares
0 0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *