Korea Selatan 2017, Day 7: Gyeonggi English Village – Heyri Art – Seokchonhosu Lake – Lotte World

Hari ini kita berencana untuk jalan santai dan pulang tidak terlalu larut malam agar besok bisa bangun pagi dan berangkat ke Everland. Karenanya saya menyusun itinerary sesantai mungkin dengan mengeksplorasi daerah Paju yang berada di provinsi Gyeonggi-do, sekitar 1 jam perjalanan bis dari Seoul. Wilayah Paju ini sangat dekat dengan Demilitary Zone (DMZ) antara Korea Utara & Korea Selatan, namun gak perlu khawatir karena tetap aman untuk wisatawan. Beberapa tempat wisata yang menarik untuk dijelajahi disekitar sini adalah DMZ, Imjingak Park, Pyeonghwanuri, Pinocchio Museum, Paju Book City, Gyeonggi English Village, Heyri Art Village, Provence Village & Paju Premium Outlet. Tapi dengan keterbatasan waktu, kita hanya memilih yang terdekat dan termudah saja, yakni Gyeonggi English Village & Heyri Art, dan jika ada waktu bisa mampir ke Provence Village.

kita sendiri baru keluar dari apartemen agak siang dan langsung turun ke stasiun subway Hongik University, lalu naik subway line 2 ke st. Hapjeong. Kemudian keluar melalui exit 2 dan menunggu bis nomer 2200 disana sebagaimana rekomendasi seorang travel blogger. Tidak berapa lama, bis yang ditunggu pun tiba, namun tidak berhenti di halte tempat kami menunggu, melainkan berhenti beberapa meter di depan pintu exit stasiun nomer 1. Alhasil kita pun tertinggal bis tersebut karena meski sudah berlari-lari kesana tetap tidak terkejar, jadi terpaksa deh nunggu bis berikutnya lagi.

Setelah diperhatikan, ternyata memang tempat pemberhentian bis #2200 ini bukanlah di halte exit 2, melainkan di dekat exit 1 dimana terdapat sebuah papan petunjuk bus stop bertuliskan nomer 2200. Setengah jam kemudian datanglah sebuah bis tingkat 2 bertuliskan nomer 2200. Sempat ragu-ragu apakah ini adalah bis yang sama dengan bis yang datang sebelumnya, karena bis sebelumnya hanya berupa bis biasa 1 tingkat. Tapi setelah bertanya kepada sopirnya akhirnya yakin kalau ini adalah bis yang sama meskipun beda bentuknya. Anak-anak pun kegirangan bukan main bisa naik bis tingkat ini dan langsung buru-buru naik ke atas, lalu pilih duduk di paling depan agar bisa melihat pemandangan yang luas sepanjang perjalanan.

  • Gyeonggi English Village

Perjalanan bis yang kami lalui dari Seoul menuju Paju cenderung membosankan, karena seluruhnya hanya menyusuri jalan tol di sisi samping sungai Hangang. Sekitar 45 menitan perjalanan, bis akan melewati Paju Premium Outlet (PPO). Bagi para shopaholic barang-barang branded disarankan untuk mampir kesini, karena konon harganya lebih miring daripada outlet di Seoul. Tapi berhubung sedari awal memang tidak ada niat untuk belanja, ya kita sengaja melewatinya.

Setelah melewati beberapa bus stop, bis pun tiba di halte English Village. Sekedar informasi, Lokasi haltenya ini bukan terletak di ujung jalur bis sebagaimana sewaktu trip ke Gwangmyeong cave, maka disarankan memanfaatkan google map untuk  melacak posisi bis terhadap rute perjalanan bis yang telah di set sebelumnya dan segera bersiap turun ketika sudah hendak tiba di titik lokasi pemberhentian yang dituju. Untuk tips cara memanfaatkan google map sebagai paduan paduan perjalanan bisa dibaca disalah satu artikel saya disini.

Untuk menuju ke English Village tinggal menyebrang halte, lalu jalan kaki menyusuri tembok arah kanan hingga ke gerbang pintu masuknya. Harga tiket masuk normalnya adalah 3000 won, namun kita membeli tiketnya seharga 2,100 won karena mendapat kupon diskon dari KTO. Dari pembelian tiket tersebut, kita akan diberikan passport dan guide map. Memasuki english village, suasananya serasa masuk ke ruangan imigrasi untuk keluar negeri, lengkap dengan petugas imigrasi dan stempelnya. Dan benar saja, selepas ruang imigrasi tersebut suasananya langsung berubah dan kita seakan mengalami teleportasi ke negara Inggris. Oh ya ada satu hal unik, saat di bagian imigrasi kami dilayani oleh petugas bule yang tentu saja fasih berbahasa inggris, namun saat membeli tiketnya kami dilayani oleh petugas orang Korea yang malah tidak bisa berbahasa inggris sama sekali. Agak kontradiktif dengan nama & visi tempat ini yang serba ada “English2an”nya…. 

Tempat ini sebenarnya merupakan sekolah yang menggunakan standar native berbahasa inggris. Sesuai dengan temanya, tentu saja semua suasana, dekorasi dan fasilitasnya didesain seperti berada di Inggris. Semuanya lengkap mulai dari minimarket, cafe, asrama, tram, air mancur, gedung kesenian, kantor, balai kota, hingga tata kotanya semuanya dibuat semirip mungkin dengan negara asalnya. Areanya cukup luas dan semuanya instagramable, sehingga hampir tiap sudut tempat ini asyik untuk dibuat berfoto ria. Kalau tidak ada tag location-nya, dijamin orang akan pangling kalau melihat foto-foto kita disini. Apalagi asyiknya tempat ini tergolong cukup sepi dari turis, sehingga kalau para murid sedang berada di dalam kelas saat jam pelajaran berlangsung, kita jadi leluasa untuk mengambil aneka foto yang bagus.

Sesuai dengan fungsi utamanya sebagai sekolahan, kita bisa melihat begitu banyak anak-anak yang sedang kursus dan belajar disini, mulai dari tingkat junior hingga senior. Jujur aja, menurut saya niat banget ya orang-orang Korea ini sampai membangun fasilitas sebesar ini demi sekedar menarik dan menumbuhkan minat warganya untuk belajar bahasa inggris. Info lebih lanjut mengenai tempat ini bisa klik disini.

  •  Heyri Art Village

Walking tour berikutnya adalah Heyri Art Village yang lokasi tidak jauh dari English Village. Untuk kesana kita kembali menyebrang ke halte tempat turun dari bis sebelumnya, lalu masuk ke dalam gang disebelahnya. Dalam perjalanannya kita akan melewati komplek perumahan dan agak berbelok-belok untuk menuju lokasinya. Memang agak tricky, jadi sebaiknya banyak bertanya aja dengan penduduk sekitar yang bisa ditemui. Kita berjalan kaki dengan rute perjalanan yang searah mulai dari English Village hingga ke halte Heyri Art, jadi tidak perlu balik lagi ke halte English Village saat hendak pulang ke Seoul.

Walking map dari English Village ke Heyri Art Village

Tempat ini sebenarnya merupakan semacam kawasan kompleks pertokoan, museum, restoran dan kafe. Tempat ini menjadi populer karena sering dibuat lokasi syuting drakor, contohnya seperti “Boys Over Flower”. Saat kami kesana pukul 2an sih terlihat sangat sepi banget, tidak mencerminkan suasana tempat nongkrong yang asyik. Tapi konon katanya tempat ini lebih ramai saat malam hari dibandingkan siang hari.

Saat melihat peta, terlihat area Heyri Art Village ini sangat luas. Karenanya jika tidak terlalu berminat dengan segala macam pameran sih sebaiknya gak usah buang-buang waktu menjelajahi semuanya. Kita sendiri tidak ada satupun toko / cafe / museum yang dimasuki, cukup melihat-lihat pemandangan aja sembari berjalan kaki santai. Sekilas pandang saya menyukai tempat ini karena setiap bangunannya memiliki arsitektur dan dekorasi yang berbeda dan kesemuanya keren-keren. Kelihatannya sih disini tempat hang out orang-orang korea berdompet tebal ya, karena kalau melihat dari harga makanan dan minumannya menurut saya cenderung mahal. Tapi saya yakin semuanya akan terbayarkan dengan suasana yang cozy dan nyaman untuk ngobrol bersama pasangan / teman / keluarga.

Setelah tiba di halte Heyri Art, sebetulnya niat awal adalah melanjutkan jalan kaki ke Provence Village karena tanggung sudah dekat, namun berhubung anak-anak sudah pada kecapekan jadi terpaksa batalin rencana deh dan kita milih menunggu bis #2200 balik ke Seoul.

Walking map dari Heyri art ke Provence Village

Dari halte Heyri Art ini sebenarnya tinggal berjalan kaki kurang lebih 10 – 15 menitan ke Provence Village.

Serupa dengan Heyri Art, Provence Village juga berupa beberapa pertokoan dan kafe didalam 1 area. Bagi pencinta drakor “my love from the star” sebaiknya sih memasukkan tempat ini dalam bucket list karena ada beberapa spot yang wajib dikunjungi jika kesini.

  • Seokchonhosu Lake

Setelah sejam menikmati enaknya tidur siang di dalam bis, Akhirnya kita kembali tiba di stasiun Hapjeong. Waktu menunjukan pukul 1/2 4-an, sehingga kita masih punya setengah hari lagi untuk jalan-jalan. Sempat terpikir untuk jalan-jalan ke Haneul Park yang berada di dekat World Cup Stadium, tapi setelah ngobrol dengan salah satu wisatawan Indonesia yang kebetulan barusan balik dari sana bilang kalau butuh jalan kaki agak jauh untuk mencapainya membuat kita tiba-tiba jadi mager alias malas gerak lagi. Browsing sana sini mencari alternatif tujuan selanjutnya, akhirnya kepicut oleh keindahan sebuah foto pemandangan danau Seokchonhosu saat musim semi.

Tanpa buang waktu, kita langsung naik subway line 2 dari st. Hapjeong ke st. Jamsil yang memakan waktu 45 menit. Lumayanlah bisa dipake bobo sore sembari mengistirahatkan kaki lagi.

Saat saya menunjukkan foto danau Seokchonhosu yang indah ini kepada anak-anak, secara spontan mereka langsung bergumam kalau tempat ini bak sebuah lukisan layaknya cerita dongeng dimana sebuah negeri kastil berada ditengah-tengah danau dan dikelilingi oleh pohon-pohon rindang berwarna pink. Tidak bisa dipungkiri memang karena memang setiap setiap musim semi, Danau ini menawarkan sebuah pemandangan indah dimana sekitar 300.000 bunga sakura dan bunga-bunga liar yang sedang bermekaran. Karenanya danau ini merupakan salah satu tempat favorit bagi wisatawan untuk melihat sakura, dan biasanya sih mereka akan sekalian bermain di Lotte world.

Meskipun kami datang bukan di musim semi, namun pemandangan yang ditawarkan tidak kalah menarik. Jika saat musim semi semua pohonnya akan berwarna merah muda, maka saat musim gugur akan berwarna warni (hijau, kuning, jingga, dan merah). Bisa berjalan santai di sore hari bersama keluarga tercinta menyusuri dan menikmati danau cakep seperti ini sungguh sebuah kebahagiaan yang sulit dilukiskan dengan kata-kata. It’s priceless!!  Sebuah suasana yang sulit untuk ditemukan di Jakarta….

Saat menyusuri danau, terlihat sebuah taman kecil yang menjorok ke danau dimana terdapat bangku yang menghadap arena outdoor dari Magic island Lotte World dikejauhan.  Langsung deh kita mampir untuk piknik disana. Sembari menyantap bekal kebab yang sempat dibeli di salah satu restoran Turki di Hongdae, kita sangat menikmati keindahan danau saat senja, mendengar suara gemerisik dedaunan yang tertiup angin dan juga melihat kastil lotte world yang berada tepat dihadapan kita.

Anak-anak juga asyik memberi makan ikan-ikan yang tampak berkumpul di pinggir danau.

  • Lotte World & Tower

Tanpa terasa hari semakin gelap, kita mulai berjalan arah balik dan mampir sebentar ke area outdoor Lotte World. Gak masuk sih, hanya sampai di pinggir jembatan magic island-nya. Saat itu kebetulan sedang ada show zombie di kastilnya, jadi lumayanlah bisa nonton gratisan disini.

Lotte World terkenal sebagai Indoor Theme Park terbesar di dunia. Wahana permainannya selain indoor juga ada outdoor, dan nyaris tidak pernah sepi pengunjung setiap harinya. Saya sempat galau memilih theme park Everland atau Lotte World saat menyusun itinerary ke Korea Selatan. Keduanya sama-sama memiliki nilai lebih…. Lotte World terkenal dengan wahana indoor terbesar, sementara Everland terkenal sebagai wahana outdoor terbesar. Dengan alasan budget ya akhirnya kita memilih Everland saja karena katanya permainan Lotte World rata-rata ada di Everland. Meski demikian kita sempat tergoda juga sih saat melihat harga tiketnya yang diberikan diskon 70% bagi pengunjung yang datang diatas jam 7 malam. Tapi mengingat besok pagi sudah niat mau ke Everland jadi sukses membuat kita berhasil menahan nafsu…. 

Dari danau, kita mulai masuk ke dalam gedung Lotte World. Selain theme park, tempat belanja dan restoran, ternyata didalamnya masih ada begitu banyak tempat bermain, contohnya seperti ice skating rink, karaoke, arcade games, Underworld Kingdom, Aquarium, laser dan lain sebagainya. Jadi boleh dibilang tempat ini sangat komplit urusan dunia hiburannya. Info lebih lanjut mengenai Lotte World bisa klik disini. Saat berkeliling mall Lotte world ini menurut saya sangat besar dan pegel juga menjelajahinya. Padahal persis disebelahnya mall ini masih ada bangunan yang lebih besar lagi, yakni Lotte World Tower, yang mana merupakan gedung tertinggi kelima di dunia.

Lotte World Tower ini memiliki ketinggian 555 meter dan 123 lantai. Saya sendiri tidak sempat memasuki ke dalamnya, namun katanya meski bukan posisi teratas di dunia, gedung ini memiliki beragam keunggulan yang serba terhebat di dunia. Contohnya adalah memiliki lantai kaca observatorium tertinggi di dunia, kolam renang tertinggi di dunia yang berada di lantai 85 dan lift tecepat di dunia, yang dapat mengocok pengunjung ke lantai atas dalam hanya waktu satu menit!  Selain itu terdapat berbagai Fasilitas lainnya seperti ruang konser spektakuler dengan kapasitas tempat duduk untuk 2.000 orang, gedung bioskop, pusat perbelanjaan, akuarium raksasa dengan beragam biota laut, ruang terbuka lantai 118 dan masih banyak lagi. Info lebih lanjut mengenai Lotte Tower bisa klik disini.

Setelah lelah berkeliling mall, kita kembali ke apartemen untuk beristirahat dengan naik subway line 2 dari st. Jamsil ke st. Hongik University. Semua tempat yang belum sempat dijelajahi sejauh ini insyaallah akan menjadi bucket list saya untuk trip ke Korea Selatan berikutnya. Tolong doain ya mudah-mudahan ada rezeki dan kesehatan untuk bisa liburan kesana lagi….. Aamiiinnnn…… 

Share and Enjoy !

0Shares
0 0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *