Korea Selatan 2017, Day 9: Unhyeongung, Insandong, Gyeongbokgung, Gwanghwamun, Cheonggyecheon, Myeongdong

Gak terasa tinggal 2 hari lagi lagi liburan singkat kami di Korea Selatan. Selama beberapa hari ini kebanyakan semuanya menjelajahi tempat wisata di luar kota Seoul, sementara di dalam kotanya sendiri sebetulnya ada begitu banyak tempat menarik yang belum kami jamah. Karenanya hari ini rencananya kita akan habiskan dengan full 1 day city tour kota Seoul.

Unhyeongung Palace

Trip pagi ini dimulai dari mengunjungi Unhyeongung Palace. Dari st. Hongik University, kita naik kereta subway line 2 ke st. Euljiro 3(sam)ga, lalu ganti subway line 3 ke st. Anguk (exit 4). Dari pintu keluar stasiun ini tinggal menyusuri jalan hingga tiba di lokasi. Rencana awal sih sebetulnya mau ke Bukchon Hanok village dulu yang dekat dengan stasiun Anguk ini, tapi batal karena kami start hari ini kesiangan setelah kecapekan semalam dari Everland.

Unhyeongung Palace merupakan salah satu istana kecil di Seoul yang mana dulu merupakan kediaman pribadi ayah Kaisar Gojong, pangeran Bupati Heungseon Daewongun. Sebenarnya dulu istana ini sama megahnya dengan istana lainnya. Namun seiring berjalannya waktu, banyak bangunan istana yang rusak berat dan hancur. Karenanya sisa tempat ini sekarang termasuk salah satu tempat konservasi budaya nasional yang dipelihara oleh istana dan gratis untuk dikunjungi oleh siapapun.

Tujuan utama kami kemari sebetulnya bukan untuk melihat bangunan bersejarah ini, melainkan untuk menyewa hanbook super murah. Dari beberapa rekomendasi travel blogger, salah satu alternatif tempat menyewa hanbook yang termurah adalah disini, karena harga sewanya hanya 3,300 won selama 30 menit. Koleksi pakaiannya lumayan kompit, baik itu untuk laki-laki maupun perempuan, dewasa maupun anak kecil, serta variasinya cukup banyak. Namun sayangnya tempat ini hanya sebatas menyewakan pakaiannya saja, tidak ada juru make up artist dan aksesoris pemanisnya (khususnya wanita). Tapi ya buat kami sudah cukuplah,…. Toh ada harga ya ada rupa.

Karena dulunya tempat ini merupakan tempat kediaman ayah sang raja, tentunya di dalamnya terdapat bangunan perumahan Korea zaman old. Jadinya di seluruh area bisa digunakan sebagai background natural foto-foto kita ala dinasti Josoen. Plus asyiknya adalah tempat ini tergolong sepi banget, jadi kita serasa yang punya istana kecil ini……

Insandong market

Setelah puas bernarsis ria, kita melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki ke Insandong market yang berlokasi tidak begitu jauh dari Unhyeongung Palace.

Kawasan ini merupakan salah satu tempat belanja favorit turis karena tempatnya tertata rapih dan bersih di sepanjang jalan Insandong.

Produk-produk yang dijual disini kebanyakan adalah souvenir, kerajinan tangan dan aneka barang antik.

Karena segmen pasarnya adalah wisatawan asing, jadi rata-rata harga barang dagangannya tergolong mahal.

 

Kita gak terlalu explore area ini karena rasanya kok semua tempat belanja di korea itu mirip-mirip aja. Namun kita sempatin untuk mampir ke salah satu spot yang happening disini, yakni Ssamziegil.

Tempat ini juga merupakan tempat belanja dengan bangunan yang bertingkat. Arsitekturnya menarik dan ada mural painting di dinding setiap lantainya. Disini terdapat terdapat toko dimana kita bisa menggunakan Hanbok (baju tradisional korea) dan berfoto disana. Dan di lantai paling atas kita bisa menemui hanging love note semacam gembok cinta di Namsan Tower.

Sebelum meninggalkan Ssamziegil, kita beli snack kue di salah satu kios jajanan dilantai dasar yang sebetulnya bentuknya bikin ilfeel, tapi tetap bikin penasaran karena rame banget dikunjungi. Kuenya berbentuk “Pup”, isiannya ada pilihan kacang hitam atau cokelat. Untung rasanya emang beneran enak saat dimakan hangat-hangat.

Gyeongbokgung Palace & National Museum

Dari Insandong, kita belok ke kiri dan berjalan kaki memasuki gwanghwamun gate (gerbang masuk Gyeongbokgung Palace). Tempat ini merupakan salah satu destinasi wajib jika liburan ke Korea Selatan, karena merupakan istana terbesar yang dibangun pada jaman dinasti Joseon. Istana yang memiliki 330 buah komplek bangunan dengan 5.792 kamar ini aslinya didirikan tahun 1394, namun sempat sempat hancur saat terjadi invasi Jepang ke Korea tahun 1592-1598, dan kemudian dibangun lagi pada tahun 1860-an.

Dikenal sebagai icon landmark dari kota Seoul, tidak heran pengunjungnya super padat. Mayoritas yang datang adalah turis asing, dan banyak yang mengenakan pakaian Hanbook. Di sekitar istana ini memang ada banyak tempat penyewaan Hanbook yang lengkap dengan hiasan dan make up-nya. Bagi pengunjung yang memakai Hanbook bisa masuk ke dalam istana secara gratis lho…..

Sebetulnya memang keren sih jika bisa berfoto ala pangeran & putri Josoen di istana ini, tapi melihat padatnya pengunjung dijamin susah deh mendapatkan foto yang backgroundnya bersih dari tamu-tamu tak diundang. Untunglah kita sudah puas berfoto ria sebelumnya di Unhyeongung Palace.

Nuansa kerajaan yang megah sangat terasa oleh pengunjung karena selain melihat bangunan istana yang luas, ada juga penjaga istana lengkap dengan pakaian khas masa dinasti Joseon yang berdiri di beberapa sudut istana sambil membawa tombak dan pedang.

 

Kebetulan saat membeli tiket seharga 3000 won per orang dewasa & 1500 won untuk anak-anak, tiba-tiba terdengar dentuman gendang pertanda akan terjadi pergantian penjaga (Royal Guard Changing Ceremonies). Tanpa buang waktu kita langsung nonton upacara ini selama kurang lebih 15 menitan.

Secara umum sih Gyeongbokung Palace ini besar banget, tapi kita hanya menjelajahi 3 bangunan utama saja, yakni Paviliun Gyeonghoeru, Geunjeongjeon dan National Folk Museum.

Paviliun Gyeonghoeru merupakan sebuah paviliun megah diatas kolam air bunga teratai. Geunjeongjeon merupakan merupakan ruang tahta raja, letaknya berada dibalik gerbang Gwanghwamun. Sementara National Folk Museum merupakan museum sejarah dan kebudayaan Korea Selatan yang berisi aneka macam artefak dan alat-alat yang digunakan oleh masyarakat Korea pada masa lalu sampai sekarang.

Tosokchon Restaurant

Tanpa terasa waktu sudah menunjukan pukul 2 siang dan para cacing diperut sudah mulai meronta-ronta kelaparan. Kita langsung keluar dari gerbang Gwanghwamun, lalu belok ke kanan. Tujuan utama berikutnya adalah wisata kuliner di restoran yang sangat kesohor di Seoul, yakni Tosokchon.

Lokasinya sih tidak begitu jauh dari Gyeongbokgung Palace, sekitar 10 menitan jalan kaki.

Tiba di sana, tampak sebuah restoran dengan tampilan tradisional. Bentuknya mirip hanok atau rumah tradisional Korea. Bangunan memakai sentuhan kayu berwarna cokelat muda seperti umumnya hanok. Begitu cantik dan terlihat menarik. Di bagian depan, bisa terlihat juga dari balik kaca kecil ada sederet ayam utuh yang sedang diputar dalam alat pemanggang.

Makanan khas di restoran legendaris ini ialah Samgyetang (sup ayam ginseng) yang dibuat dengan beras ketan, kacang gingko, ginseng, bawang putih dan jujube, serta 30 jenis tanaman obat dan biji-bijian. Pilihan menunya seluruhnya merupakan olahan ayam, yaitu Tosokchon Samgyetang, Tosokchon Otgyetang (Chicken Soup with Korean Lacquer Tree), Jeongigui Tongdak (Rotisserie Chicken), Dakbaeksuk (Whole Chicken Soup), dan Dakdoritang (Spicy Chicken Stew). Meski belum ada sertifikat halal, tapi terlihat label “no pork, no lard” di buku menunya. Menu Samgyetang-nya sendiri ada 2 pilihan, yakni ayam putih seharga 16,000 won dan ayam hitam seharga 23,000 won. Sebetulnya penasaran juga sih sama ayam hitam, tapi sayang saat kami datang sudah kehabisan jenis ayam ini….

Sebelum makanan utama datang, pramusaji menghidangkan 1 set kimchi, ssamjang (sambal kedelai Korea), irisan bawang putih, salad dan insamju (arak ginseng) dalam gelas kecil. Disisi pojok meja terdapat panduan cara memakan Ssamgyetang yang benar.

Tak berapa lama datanglah pesanan kami, 2 porsi Samgyetang berisi seekor ayam rebus utuh dalam mangkuk tanah liat dengan kuah warna putih keruh dan asap yang mengepul. Tercium aroma gurih khas sup ayam berpadu dengan ginseng. Kalau soal rasa memang cenderung agak ringan dan hambar untuk ukuran lidah orang Indonesia, tapi menurut saya tetap enak kok. Lebih enak daripada Samgyetang yang kami makan sebelumnya di restoran Eid, Itaewon. Kita bisa memodifikasi rasa dengan menambahkan garam / lada atau Baekchu kimchi dan kkadugi juga bisa jadi pilihan jika ingin sedikit menambah rasa pedas di lidah. Overall, Samgyetang disini memang juara!

Gwanghwamun Square

Setelah memanjakan perut, kita kembali ke gerbang Gwanghwamun didepan Gyeongbokgung palace, lalu berjalan menyusuri pedestrian walk didepannya.

Area yang berlokasi di tengah-tengah Sejong-ro yang menghubungkan antara Gerbang Gwanghwamun dan Cheonggye Square ini lebih dikenal sebagai Gwanghwamun Square. Dulunya tempat ini merupakan jalan utama yang besar, namun pada tahun 2009 disulap oleh pemerintah Korsel dengan cara memotong 6 ruas jalannya menjadi ruang terbuka publik.

Sepanjang jalan dari Gyeongbokgung palace ke Cheonggyecheon, kita menjumpai 3 patung besar. Pertama adalah patung “King Sejong”, dimana dibawahnya terdapat museum kecil tentang kisah raja Sejong dan sejarah Hangeul.

Lalu patung “Laksamana Yu Sun-Shin”, dimana di depannya terdapat air mancur kecil.

Dan yang terakhir adalah patung keong ungu besar.

Tidak jauh dari patung “King Sejong” terdapat booth stand KTO, dimana kita bisa menyewa hanbook secara gratis. Alisya yang ketagihan memakai hanbook saat di Unhyengung Palace minta untuk menyewa lagi, soalnya pilihan kostumnya lebih bagus katanya. Jadi ya tanpa basa basi, para girlies langsung deh sewa dan berfoto ala Queen dan her princess.

Cheonggyecheon Stream

Saat tiba di Cheonggye Plaza, dimana ditandai oleh patung keong besar berwarna ungu, kita menuruni anak tangga menuju sungai Cheonggyecheon. Bagi pecinta K-Pop atau K-drama tentu tidak asing dengan sungai kecil yang terletak ditengah kota Seoul ini, karena tempat ini sering dibuat syuting film / video klip.

Cheonggyecheon stream merupakan salah satu objek wisata yang menarik karena bentuknya yang cantik dan bebas diakses siapa saja.

Dulunya sungai sepanjang 8.41 km ini berperan sangat penting dalam aktivitas sehari-hari penduduk sekitar. Pemukiman di sepanjang aliran sungai ini cenderung kumuh, sehingga sungainya menjadi kotor dan sering mengakibatkan banjir. Namun pada Tahun 2003, pemerintah setempat memulai Cheonggyecheon Restoration Project, suatu proyek yang bertujuan mengembalikan Cheonggyecheon sebagai bagian dari sejarah kehidupan dan budaya Seoul. Proyek ini juga bertujuan untuk mewujudkan Seoul sebagai kota ramah lingkungan dengan menselaraskan alam dan manusia, menciptakan keseimbangan pembangunan di wilayah utara dan selatan Hangang River dan pada akhirnya akan meningkatkan kualitas budaya dan ekonomi kehidupan masyarakat Seoul.

Sungai yang tadinya keruh dan kotor pun telah berubah menjadi cantik dan indah, serta ramah bagi pejalan kaki. Tempat ini kini menjadi salah satu tempat favorit warga Seoul untuk bersantai dan menyenangkan untuk melepas stress ditengah hiruk pikuknya kota Seoul. Terlihat banyaknya orang-orang yang berjalan santai menyusuri sungai bersama kerabat atau keluarga tercinta, atau bahkan sekedar duduk-duduk santai menikmati aliran sungai yang tenang. Sungguh menyenangkan bisa berada disini lama-lama hingga tanpa terasa hari sudah semakin senja…..

Namdaemun Market

Namdaemun Market merupakan pasar tradisional tertua dan terbesar di Korea Selatan dengan toko-toko yang menjual berbagai aneka barang dagangan seperti pakaian, makanan, kebutuhan sehari-hari, aksesoris, kerajinan tangan, souvenir, buah-buahan dan sayur mayur, dan lain sebagainya. Jadi boleh dibilang pasar serba ada di Seoul yang semua produk dijual dengan harga terjangkau dan juga berfungsi sebagai pasar grosir. Meski kita tidak berniat membeli souvenir apapun lagi dan langit sudah sangat senja, tapi tetap penasaran untuk mengunjungi pasar ini.

Dari sungai Cheonggyecheon, kita berjalan kaki 10 menit menuju stasiun Jongak, lalu naik subway line 1 ke st. Seoul. Saat kita berangkat sih langit masih sedikit bercahaya, namun setibanya di Namdaemun sudah gelap. Dan benar saja keraguan kita sedari awal, saat kita tiba disana sebagian besar tokonya sudah pada tutup. Salah saya juga sih gak cek dulu jam operasional pasar ini. Kirain layaknya dongdaemun market yang buka hampir 24 jam, kalau Namdaemun market itu ternyata jam operasionalnya hanya sampai jam 17.00. Info lebih lanjut mengenai pasar ini bisa dilihat disini.

Myeongdong

Gagal mengunjungi Namdaemun market, kita lanjut ke myeongdong yang berlokasi tidak jauh dari pasar ini dengan naik subway line 4 dari st. Hoehyoen ke st. Myeongdong (exit 7).

Tempat ini merupakan salah satu tempat happening para kawula muda selain Hongik University. Kawasannya sih serupa dengan hongdae, ada banyak toko, butik pakaian dan restoran/cafe dimana-mana. Selain itu kebanyakan para backpackers memilih menginap di myeong dong karena tempat ini hampir 24 jam selalu ramai dan tersebar banyak penginapan disekitar sini.

Baru aja menginjakkan kaki keluar dari stasiun myeongdong aja sudah terlihat begitu ramainya orang-orang yang berseliweran disini, padahal kita kesana pada hari kamis lho….. Hari kerja saja sudah begini padatnya, gimana hari weekend yah?  Kalau bawa anak kecil ke daerah ini sebaiknya pegang erat2 deh….. Soalnya ribet dan susah untuk menembus kerumunan orang-orang di jalan myeongdong yang kecil ini.

Jika anda penggemar kosmetik korea atau ingin mencoba kosmetik produksi korea, disini adalah surganya. Hampir tiap 30 meter ada toko kosmetik kali……  Bagi para fashionista, kita bisa melihat aneka pakaian & sepatu model terbaru disini. Karena segmen pasarnya memang kebanyakan untuk turis, beberapa toko memberikan diskon khusus bagi yang menunjukan pasportnya. Beberapa toko bahkan memiliki pegawai yang bisa berbahasa Indonesia.

Untuk urusan perut juga gak perlu ditanya, jumlah restoran disini lebih banyak dibandingkan dengan hongdae, apalagi kuliner jajanannya. Segala jenis makanan tradisional & khas Korea Selatan ada disini….. Tinggal siapin duitnya aja, soalnya harga makanan & jajanannya menurut saya lebih mahal daripada di hongdae. Tapi enaknya variasinya lebih banyak dan semuanya dijamin sukses menggoda iman kita……

Karena kurang nyaman berjalan-jalan di myeongdong yang super crowded, kita milih keluar dan window shopping di toko Daiso saja……  Setelah itu jam 10 malam kita balik ke apartemen dengan naik subway line 4 dari st. Myeongdong ke st. Dongdaemun history & culture park, lalu ganti subway line 2 ke st. hongik university. Seperti biasa, kaki pada gempor semua….. haha2…..  Kalau anak-anak sih langsung pada KO begitu nyentuh kasur, sementara saya & istri masih melanjutkan aktivitas packing karena besok sudah harus pulang. Hiks….. sedih rasanya harus siap-siap pulang, padahal kita masih betah berlama-lama di Korea.

 

Share and Enjoy !

0Shares
0 0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *