Malaysia 2018, Day 2: Malaka (Planetarium, Masjid Selat Malaka, Pahlawan Walk, River Cruise & Menara Taming Sari)

Setelah melalui berbagi rintangan, akhirnya kami tiba juga di Malaka. Perjalanan 2,5 jam pun dilalui tanpa terasa karena kita benar-benar tertidur pulas saking enak dan nyamannya bis yang kami naiki. Bis kami tiba di terminal bis Melacca Sentral kurang lebih pukul 10. Dari sini sebetulnya ada pilihan melanjutkan naik bis kota (Panorama no. 17) ke bangunan merah, tapi kita memilih naik grab taksi aja karena ribet dengan urusan koper dan anak-anak yang rewel karena masih ngantuk.

Kita pesan Grab – XL untuk mendapatkan MPV 7 seater dengan tarif sebesar 20 RM ke hotel Quayside tempat kami menginap.

  • Quayside Hotel

Saat kami tiba di hotel Quayside, sebetulnya belum bisa check in karena kami tiba jam 10.20, tapi untungnya petugas hotelnya berbaik hati memberi compliment early check in setelah melihat anak-anak yang mukanya tampak kucel. Alhamdulillah kita jadi bisa taruh koper dan cuci muka dulu di kamar.

Hotel Quayside ini sangat recommended karena lokasinya sangat strategis di tengah-tengah objek wisata Malaka, jadi enak kemana-mana terasa dekat dan mudah terjangkau dengan jalan kaki. Kalau capek berkeliling ya tinggal balik ke hotel aja.

Bentuk hotelnya sendiri menyerupai gudang dan sangat minimalis. Di dalamnya kita bisa melihat pipa exhaust tampak exposed, box kayu bekas packaging dimanfaatkan sebagai meja, tangga putar ala ruangan sempit, interior cat serba hitam dan abu-abu gelap, dan lain sebagainya. Baru kali ini sih nemu hotel yang bertemakan gudang…. Jangan-jangan dulu tempat ini memang bekas gudang.

Kelemahannya hotel ini adalah harganya yang cukup mahal dibandingkan hotel sekitarnya dan tidak dapat free breakfast.

  • Planetarium Malaka

Trip hari ini dimulai dengan rute terjauh, yakni Planetarium Malaka. Lokasinya berada di Ayer Keroh, Central Melaka District Melaka. Kita bisa naik bis Panorama yang ke arah Ayer Keroh, tapi berhubung kita bertujuh akan lebih hemat jika naik taksi aja. Karenanya kita memesan Grab – XL kesana dan menempuh kurang lebih 20 menit perjalanan.

Oh ya sekedar informasi, jika di Indonesia itu pesan Grab biasa maka yang datang kebanyakan adalah MPV 7 seater seperti Avanza / Xenia / Ertiga. Tapi kalau di Malaysia jika memesan grab biasa maka yang datang adalah mobil sedan / hatchback 5 seater. Kalau mau pesan yang 7 seater maka harus pilih Grab – XL dengan tarif yang lebih mahal.

Planetarium Malaka ternyata sangat sepi sekali. Boleh dibilang hanya kami satu-satunya pengunjung saat itu. Tiket masuknya sebesar 20 RM untuk dewasa & 10 RM untuk anak-anak. Di dalamnya ada banyak display dan pelajaran mengenai sistem tata surya kita. Sebagai contohnya adalah patung model 9 planet di tata surya kita dalam skala kecil, sehingga anak-anak bisa terbayang seberapa besar perbandingan ukuran planet bumi dengan planet lainnya.

Selain itu ada juga beberapa mainan interaktifnya, seperti pembelokan cahaya atau penjelasan apa itu gerhana. Sebetulnya sih menarik, namun sayangnya serba tak terawat kondisinya… Baik itu bangunan, peralatan sampai theaternya.

Tujuan utama kita kesini memang ingin melihat dome theater-nya, soalnya di planetarium jakarta gak pernah kebagian tiket karena tidak pernah sepi pengunjung. Tapi ternyata film yang diputar tentang asal usul bumi, jadi kurang berhubungan dengan antariksa. Overall ya tempat ini gak recommend deh buat dikunjungi. Daripada buang waktu disini lebih baik main ke A’Famosa resort kalau punya waktu lebih.

  • Mesjid Selat Malaka

Dari Planetarium Malaka, kita lanjut ke mesjid Selat Malaka naik Grab XL selama kurang lebih 30 menit perjalanan.

Masjid Selat Melaka terletak di Bandar Hilir yang menghadap langsung ke Selat Malaka, selat tersibuk dan terpanjang di dunia. Masjid yang juga dijuluki sebagai mesjid terapung ini memiliki arsitektur yang sangat kece karena dibangun diatas air. Saat kondisi air laut pasang, mesjid ini akan terlihat seolah-olah mengambang diatas air. Mesjid ini dibangun terinspirasi dari mesjid terapung Fatimah yang berada di Arab Saudi. Jadi yang pernah kesana pasti akan merasa bangunan mesjid selat malaka ini terasa mirip.

Masjid Melaka katanya akan kian mempesona saat malam tiba karena efek penerangan lampu yang indah. Tak heran banyak fotografer dunia menjadikan masjid ini sebagai objek foto mereka. Di sisi lain lampu dari menara setinggi 30 meter dari masjid ini juga digunakan sebagai pedoman kapal yang berlayar di Selat Malaka layaknya lampu suar. Kita kesini untuk menjalanan ibadah shalat zuhur & ashar, jadi kondisinya tidak terlalu ramai. Setelah selesai shalat, langsung dong ambil kamera mirrorless dan jepret sana sini.

  • Dataran Pahlawan Walk

Dari mesjid selat Malaka, kita lanjut lagi naik Grab XL dan minta diturunkan di mega mall Pahlawan Walk.

Dataran Pahlawan Walk ini sebenarnya merupakan sebuah kawasan business district di tengah Malaka dimana terdapat mall besar, pertokoan, hotel, museum dan tempat rekreasi.

Kita jalan menyusuri jalan merdeka, mulai dari mall hingga kembali ke hotel. Tidak ada yang istimewa dari tempat ini karena buat saya sih yang namanya mall ya begitu-gitu saja. Istri sempat mampir ke Padini concept store buat sekedar cuci mata. Soal harga barang yang dijual memang lebih murah daripada Indonesia, tapi kita tetap gak tergoda untuk belanja apapun tuh….

  • Uptown Pahlawan Walk & Resto Asam Pedas Jr.

Sebelum kembali ke hotel, kita mampir dulu ke Uptown Pahlawan Walk.

DIsini menjual aneka cinderamata khas Malaka. Produk dagangan yang dijual mulai dari pakaian, pernak-pernik, tas, snack, dodol duren dan lain sebagainya dengan harga yang bisa ditawar. Tapi ya sekali lagi, souvenirnya gak ada yang menarik sih…..

Di sisi samping pertokoan terdapat food court makanan khas Malaka. Mata kita langsung tertuju kepada kios makanan asam pedas Jr. Makanan gulai asam pedas ini merupakan salah satu kuliner melayu, jadi wajib dicoba tentunya saat liburan kesini. Tadinya sih niat mau makan di restoran asam pedas claypot, tapi berhubung perut sudah lapar jadi sulit menahan godaannya.

Ada beberapa pilihan lauk untuk asam pedas ini, seperti ikan tenggiri, ayam, telur ikan, kerang, dan lain sebagainya. Semuanya tampak menggiurkan dan bikin penasaran…..  Mama akhirnya milih asam pedas kepala ikan, saya pesan asam pedas telur ikan dan anak-anak pesan kerang tahu. Tak berapa lama, menu pesanan kami diantar dan disajikan dalam wajan seng diatas hotpot. Warna kuah orange dan aromanya sungguh menggoda. Kuah santannya kental, paduan antara rasa pedas dan gurih nya memang lezat, ditambah sedikit rasa asam di lidah membuatnya terasa menyegarkan. Seperti makan gulai padang, makan asam pedas ini bawaannya pengen nambah nasi terus…..

Setelah perut kenyang, kita kembali ke hotel dulu untuk istirahat sore dan mandi demi menyegarkan badan. Gerah juga ternyata negeri Malaysia ini euy…..   Selain itu kita juga janjian bertemu dengan keluarga adik kedua (Luki & Nadia) dan keluarga adik ketiga (Sari & Fajar). Rombongan kita jadi semakin besar deh dengan kedatangan mereka.

  • Malaka River Cruise

Selat Malaka terkenal sebagai selat terpanjang didunia. Tentunya tak lengkap city tour kesini jika tidak mencoba menyusuri sungainya. Karenanya selepas shalat maghrib, kita berjalan kaki menuju ke dermaga Malaka river cruise yang lokasinya berada di belakang Quayside hotel.

Sebenarnya ada beberapa titik dermaga river cruise ini, tapi kita memilih yang di sebelah museum samudera yang terdekat dengan hotel aja.

Harga tiketnya pada hari biasa adalah sebesar 13 RM untuk dewasa 6,5 RM untuk anak-anak (khusus turis asing). Setelah memegang tiket, kita dipersilakan masuk ke area boarding-nya. Sembari menunggu kapal datang, kita diberikan safety briefing mengenai peraturan keselamatan selama river tour.

Malaka river cruise ini merupakan tour menyusuri sungai malaka sejauh kurang lebih 9 kilometer yang akan ditempuh selama 45 menit perjalanan dengan menggunakan perahu motor berkapasitas 40 orang. Meski air sungai ini cenderung keruh, tapi bersih dari sampah, jadi lumayan enak buat dilihat lah….  River cruise ini beroperasi mulai dari jam 9 pagi hingga 11.30 malam. Sengaja kita memilih cruise di malam hari ketimbang siang hari, karena berdasarkan pengalaman river cruise di Guangzhou & Tianjin, biasanya pemandangan sekitar sungai akan terlihat lebih keren akibat efek cahaya lampu yang bergemerlapan. Info lebih lanjut mengenai Malaka river cruise bisa klik disini.

Karena kita masuk antrian pertama, jadi kita langsung ambil duduk di kursi paling depan agar mendapatkan pemandangan yang luas. Sepanjang perjalanan akan dipandu oleh suara tour guide dari speaker. Tentu saja kita tidak akan bisa bertanya apapun, lha wong gak ada orang pemandu aslinya.

Sepanjang perjalanan menyusuri sungai malaka yang permukaan airnya sangat tenang, kita akan melewati beberapa tempat menarik dan bersejarah di sekitar sungai malaka. Contohnya adalah kampung melayu tradisional, hutan mangrove, jembatan-jembatan bersejarah, bangunan-bangunan tua, kincir air kesultanan malaka, dan lain sebagainya. Semuanya tampak cantik karena gemerlapnya cahaya lampu yang menghiasi tempat-tempat tersebut. Paling enak kalau pergi bersama pasangan lho, karena suasananya akan terasa romantis.

  • Menara Taming Sari

Setelah kapal kembali ke dermaga museum samudera, kita melanjutkan jalan santai di malam hari ke menara taming sari. Mudah untuk menemukan tempat ini, karena ditandai oleh sebuah tower tinggi dimana terdapat wahana observatory ride yang bergerak naik turun. Dengan tiang ketinggian 110 meter tentu saja pasti terlihat dari sisi manapun kita berada.

Saat kami tiba disana langsung dikerumuni oleh tukang becak gaul. Separuh dari tempat parkiran kendaraan menara taming sari dipenuhi oleh becak gaul yang didekorasi unyu-unyu, cahaya super silau bergemerlapan dan suara lagu yang diputar keras-keras ala konser di lapangan bola. Becak ini memang menjadi salah satu kendaraan unik yang bisa dijumpai di Malaka dan wajib dicoba. Rencananya memang kita akan mencoba semuanya malam ini.

Yang pertama adalah naik wahana observatory ride yang berputar 360 derajat diketinggian 80 meter. Harga tiketnya sendiri cukup mahal, yakni 23 RM untuk dewasa & 15 RM untuk anak-anak (khusus turis asing). Info lebih lanjut mengenai menara taming sari bisa dilihat disini.

Malam itu ada begitu banyak wisatawan lokal maupun interlokal yang berada disekitar tempat ini, tapi tidak begitu banyak yang naik wahana observatory ride ini. Kita sendiri terpaksa menunggu cukup lama didalamnya karena nunggu penumpang penuh. Mungkin karena harga tiketnya yang mahal jadi sepi peminat, sehingga ada kali 30 menit kita lumutan nungguin wahana ini bergerak. Untunglah semuanya terbayar saat kita berada diatas selama kurang lebih 5 menitan. Dari sini kita bisa melihat pemandangan city view, sungai dan selat Malaka. Semua bangunan bersejarah seperti St. Paul’s Hill, Gedung memorial kemerdekaan, Dataran Pahlawan, Museum Samudra dan kapal Flor De La Mar tampak jelas terlihat. Apalagi ditambah kerlap kerlip cahaya lampu yang menerangi kota membuatnya lebih keren. Selain itu sembari melihat pemandangan, saya jadi bisa lihat ancer-ancer rute perjalanan untuk esok hari.

  • Es Duren D’King

Salah satu kuliner wajib jika ke Malaka adalah es durian cendol. Tentu saja hunting es ini sudah menjadi agenda utama kita, dan kebetulan tanpa pake repot langsung ditemukan dengan kios es durian cendol D’King yang lokasinya masih didalam area wisata menara taming sari. Tanpa basa basi, langsung deh seluruh kursi duduk di kios kecil tersebut kita bajak semua. Maklum, kan kita liburan bawa 1 batalyon berisi 11 orang.

Kios minuman ini menyajikan berbagai variasi es durian mulai dari yang murah sampai yang termahal (45 RM). Selain variasi isian esnya, yang membedakan harganya adalah jenis durian yang dipilih. Makin mahal katanya kualitas super. Kalo yang murah itu durian yang import dari sumatera katanya. Warna duriannya juga beda sih, mulai dari kuning muda sampai warna orange.

Soal rasa, gak usah diragukan deh…… “Emang enak buanget!”, kata istri. Soalnya hanya saya sendiri disana yang bukan pencinta duren. Tapi sih buat para maniak durian direkomendasikan nyobain es durian disini. It’s worth to try!!

  • Becak gaul Malaka

Tanpa terasa jam sudah menunjukkan pukul 1/2 11 malam, padahal perasaan belum lama deh gelapnya. Mungkin karena disini maghrib itu jam 7 malam, jadi kalau jalan-jalan di malam hari selepas maghrib, baru sebentar aja udah langsung nyentuh jam 9 malam.

Karena malas jalan kaki balik ke hotel, kita pilih naik becak ajalah. Penampakan becak wisata di Malaka ini unik banget deh…. Penampakannya berupa sepeda yang di samping kirinya dipasang semacam gerobak sebagai tempat duduk penumpangnya dan dihiasi berbagai macam karangan bunga yang meriah, dekorasi lampu kerlap kerlip ala las vegas, serta memutar lagu-lagu upbeat gaul masa kini seperti lagunya Lady Gaga dan Katy Perry atau boy band korea (kebetulan saat itu lagi banyak turis korea berdatangan).

Para sopir becak ini akan menawarkan city tour keliling tempat-tempat wisata favorit sekitar malaka. Biasanya mereka meminta harga 40 – 50 RM untuk sekali trip becak berkapasitas 2 penumpang. Selama perjalanan nanti dia juga akan berperan sebagai tour guide yang menceritakan sejarah maupun informasi seputar kota malaka. Sopir becak yang saya naiki ini memang bercerita panjang lebar dengan semangat 45, tapi kita sendiri kurang bisa mendengarnya dengan jelas karena budeg dengan suara speaker musik gaulnya. Untuk rutenya, kita diajak berkeliling mengunjungi bukit st. paul, aneka museum islam, kapal flor de la mar,  pinggiran sungai malaka hingga kembali ke hotel.

Dan akhirnya kita semua tiba kembali di hotel pukul 11 malam dan beristirahat di kamar masing-masing.

Share and Enjoy !

0Shares
0 0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *