Malaysia 2018, Day 3: Malaka (Samudera Museum, Stadthuys, St. Paul’s hills, A’Famosa, Jonker Street)

Hari yang indah untuk memulai petualangan dipagi hari, dimana langit tampak begitu cerah dan udara belum terlalu panas. Namun sayangnya hanya saya yang berpikir demikan, soalnya anak-anak dan para saudara saudari masih pada tertidur pulas. Ogah rugi waktu, akhirnya saya memilih berkelana berdua dengan adik perempuan saya sembari mencari sarapan pagi.

  • Jonker Walk

   

Kita berdua melangkahkan kaki menuju Jonker Walk. Tempat ini merupakan kawasan heritage  khas pecinan dan selalu ramai oleh turis mancanegara. Karena kesana di pagi hari, suasana masih tampak sepi dan hanya satu dua toko yang buka. Sepanjang perjalanan kami mulai dari jalan hang jebat, jalan tokong hingga jalan tukang besi terlihat bangunan pecinan kuno yang didominasi warna putih dan seluruhnya memakai ornamen dari kayu. Karena kawasan ini masuk dalam kota warisan budaya dunia, tentu seluruh keaslian bangunan sangat dijaga oleh pemerintah setempat.

Terlihat jelas kalau aktivitas utama warga di daerah ini adalah berdagang, karena bisa dilihat dari mayoritas rumah dan toko disini memiliki papan nama dagang diatas atau didepannya. Meski pagi itu belum ada satupun toko yang buka, namun saya sedikit bisa membayangkan interaksi dan aktivitas perniagaan warga cina dan melayu disini saat siang hari. Di ujung hang jebat terdapat dekorasi lampion merah sebagai persiapan perayaan imlek.

Selain tempat tinggal dan berdagang, didalam kawasan ini terdapat banyak tempat ibadah. Karena kota Malaka ini dulunya merupakan pusat perdagangan terbesar dimana menjadi titik pertemuan antara bangsa eropa dan asia, jadi tidak heran berbagai ras berkumpul disini. Efeknya tentu saja pembauran berbagai agama dan budaya.

Semuanya sangat terlihat jelas dari bangunan kuno khas melayu, cina, portugis dan belanda yang kami nikmati selama selama di Malaka. Termasuk juga di Jonker walk ini, karena baru kali ini saya melihat berbagai macam tempat ibadah yang tersebar dalam jarak berdekatan satu sama lain di sepanjang jalanan dalam +/- radius 1 km. Beberapa tempat ibadah yang saya lihat adalah Vihara Chong De Tang, kuil Xiang Lin Si, Klenteng Cheng Hong Teng, Mesjid Kampung Kling, Pura Sri Poyyatha Vinayagar Moorthi dan gereja St. Francis Xavier.

Saya sangat mengagumi keaneka ragaman agama, ras dan budaya yang membaur disini dan semuanya tampak akur…. Suatu hal yang patut dicontoh di Indonesia.

Sebenarnya agak diluar prediksi juga kalau sudah jalan sejauh ini tapi tak kunjung menemukan pedagang yang menjual sarapan pagi disini. Dalam benak kami, masak segini banyaknya turis gak ada satupun toko yang jual sarapan pagi, minimal penjaja nasi lemak lah harapan kami……  Ternyata memang nyaris tidak ada satupun pedagang sarapan yang muslim disini. Memang ada sih beberapa kopitiam yang buka, tapi menunya tampak gak halal.

Ditengah keputus asaan kami akhirnya menemukan sebuah restoran muslim “Sayyid Antique & Cafe” yang buka di pagi hari. Langsung dong kita masuk dan memesan nasi lemak untuk dibungkus bawa ke hotel.

Sebenarnya ada menu lainnya seperti Nyonya Laksa, lontong sayur dan soto ayam. Tapi  berhubung saat itu saya apes karena mendadak dapat “panggilan alam darurat” di pagi hari, jadi pesan yang cepat ajalah agar bisa buru-buru balik ke hotel. Tomorrow we’ll be back for sure!!

  • Museum Samudera & kapal Flor De La Mar

Museum Samudera terletak persis disebelah hotel Quayside. Sebetulnya sih dari kemarin sudah mondar mandir melewati museum ini, tapi selalu sengaja kita skip terus karena memang sengaja hari pertama adalah mengambil objek wisata yang lokasinya jauh-jauh dulu. Museum ini dari jauh gampang untuk dilihat dan ditemukan, karena ditandai dengan sebuah tiruan kapal laut kayu ala “pirates of the caribeans” yang cukup besar di pinggir sungai malaka. 

Dengan membeli tiket masuk sebesar 10 RM, kita bisa menjelajahi museum kapal Flor De La Mar, museum Samudera dan museum Tentara Laut Diraja Malaysia. Area pertama adalah tentu saja tiruan kapal Flor De La Mar. Menurut sejarahnya, kapal Flor de La Mar ini merpakan sebuah kapal milik Portugal pada jaman Kesultanan Melayu Melaka dahulu kala, dengan ukuran panjang kapal 36 meter, lebar 8 meter dan tinggi 34 meter. Kapal ini dulunya tenggelam di selat Malaka saat akan berlabuh pulang ke negara asalnya di Portugis dengan membawa barang-barang bersejarah dari Kesultanan Melaka. Konon didalam kapal karam ini terdapat harta karun, jadi tentu saja banyak para treasure hunter yang mencari keberadaan lokasi tenggelamnya kapal ini yang masih misterius sampai sekarang.

Di dalam replika kapal yang telah dibangun pada tahun 1994 ini, kita dapat menemukan dan mempelajari sejarah kelautan Melaka termasuk sejalah Kesultanan Melaka serta sejarah perkembangan perdagangan dari jaman Kesultanan Melayu Melaka hingga ke jaman kolonial Portugis, Belanda, Inggris dan Jepang di Tanah Melayu. Dari luar sekilas terlihat tidak begitu besar, tapi ternyata dalamnya lumayan luas hingga ke bawah tanah. Barang yang dipamerkan mulai dari pajangan foto-foto dan tulisan-tulisan tentang sejarah kelautan serta Kesultanan Melaka, berbagai replika jenis-jenis kapal di Melaka, patung-patung pahlawan Melaka, uang-uang kuno, hingga replika kisah dan suasana kehidupan pada masa itu juga dipamerkan di kapal ini.

Di lantai atas terdapat replika peta dunia versi jaman baheula, dimana masih berkembang teori bumi itu datar. Salut juga sih dengan para pelaut yang bisa memetakan seluruh pulau di dunia hanya berdasarkan pengalaman berlayarnya saja selama berpuluh puluh tahun. Tidak heran kalau dulu ada begitu banyak versi peta dunia yang berkembang. Kalau jaman sekarang kan sudah serba canggih, tinggal foto dari satelit aja.

Dari kapal, kita lanjut ke museum samudera 2 yang berada disebelahnya. Didalamnya kurang lebih sama isiannya, aneka pajangan foto-foto, tulisan dan patung replika. Bedanya lebih kepada cerita kehidupan manusia di daerah pantai dan alam maritimnya. Agak membosankan sih didalamnya, jadi kita gak terlalu lama disini dan langsung menuju ke museum ketiga diseberangnya. Dengan menunjukan tiket yang telah dibeli sebelumnya, kita masuk ke museum Tentara Laut Diraja Malaysia (TLDM).

kepentingan dan keindahan alam samudera yang penting bagi  Didalam museum ini terdapat sejarah, cerita pekerjaan dan prestasi TLDM. Kurang lebih isiannya mirip dengan museum satria mandala sakti di Jakarta deh….. Tapi bagi anak cowok pasti senang deh seperti anak saya, karena dia bisa lihat langsung macam-macam peralatan tempur angkatan lautnya.

Mulai dari kapal perang, helikopter, machine gun, rudal, bom bawah laut, meriam dan lain sebagainya. Kalau saya sih enggak terlalu, mungkin masih sentimen pribadi karena kapal TLDM ini sering konflik dengan TNI AL kita.

  • Medan Samudera

 

Di sebelah persis museum TLDM terdapat sebuah gedung bernama Medan Samudera. Disini merupakan pusat tempat pembelanjaan oleh-oleh dengan harga yang paling murah dibandingkan tempat lain.

Produk yang dijual pun lebih lengkap, mulai dari aneka gantungan kunci, kaos, tas, mainan, magnet, kerajinan tangan, snack, dan lain sebagainya. Kalau beli banyak bisa dapat extra diskon juga. Tanpa komando, ibu-ibu langsung deh sibuk berbelanja disini, sementara yang laki-laki pergi ke mesjid kampung kling di daerah jonker street untuk menunaikan ibadah shalat jum’at. Kita rencana kembali berkumpul di hotel jam 1 siang.

  • EE Ji Ban Hainan Chicken Ball Rice.

Setelah semuanya kembali berkumpul di hotel, kita pesan grab XL untuk mencari makan siang. Kuliner kita berikutnya adalah nyobain Hainan Chicken Ball Rice yang kesohor di Malaka. Sebenarnya sih ada banyak kedai makan di daerah Jonker Street yang menyajikan masakan ini, tapi jujur aja kita sedikit ragu akan kehalalannya. Karenanya kita memilih pergi agak jauh ke restoran Ee Ji Ban ini, yang lokasinya dekat dengan megamall Dataran Pahlawan, jadi butuh waktu sekitar 5 menit lah kalau naik taksi.

Ketimbang  disebut restoran, sebenarnya tempat ini lebih cocok disebut sebagai kedai makan yang menjual chicken rice ball halal. Meskipun tempatnya tak begitu luas, tapi kedai ini selalu ramai oleh pengunjung. Jadi siapapun yang mau ke sini harus sedikit bersabar dan rela antri untuk mendapatkan tempat duduk. Sepintas saat melihat interiornya akan tampak berbagai dekorasi khas tionghoa dan bermacam-macam tulisan aksara Cina, namun meski demikian seluruh menu makanannya ini dijamin Halal kok.

Kalau dilihat-lihat, makanan ini sepintas sama dengan nasi Hainan yang banyak dimana-mana, dimana menunya terdiri dari nasi gurih dan potongan dada ayam rebus atau panggang. Hanya saja yang membedakan adalah bentuk nasinya. Nasinya sengaja dibentuk bulat menyerupai bola bekel. Tak heran kalau makanan ini kemudian dinamai chicken rice ball. Saat memesan makanan, waitress akan bertanya berapa banyak rice ball yang diinginkan dalam kelipatan 5 buah (boleh 5 / 10 / 15). Kalau soal lauk sih ada banyak pilihannya, ada ayam rebus atau panggang, udang, aneka tumisan, dan lain-lain. Kita sendiri memesan 40 buah rice ball, mix ayam rebus & panggang, cumi saos pedas dan tumis kangkung. Soal rasa ya menurut saya sih mirip dengan makan nasi hainan aja, cuman roasted chicken-nya emang beneran enak.

  • Stadthuys

Setelah memuaskan nafsu perut, kita pesan lagi grab XL dan langsung menuju ke Stadthuys yang lokasinya dekat dengan hotel Quayside tempat kita menginap. Sama seperti museum Samudera, sebenarnya tempat ini juga kita sudah bolak balik melewatinya dari kemarin, cuman baru sekarang aja kita seriusin mengunjunginya.

Stadthuys (atau terjemahan dari bahasa belanda yang artinya balai kota) merupakan komplek bangunan bersejarah ditengah kota Malaka. Area ini juga dikenal sebagai Red Square, karena semua bangunannya dicat warna merah seperti aslinya. Dulunya kawasan ini merupakah pusat pemerintahan Belanda, dimana para pejabat VOC berkantor. Jadi kita bisa melihat gereja tua, bangunan gedung dan rumah bergaya arsitektur Belanda. Kawasan seperti ini sebetulnya mirip dengan kawasan kota tua di Surabaya, tapi bedanya adalah warna cat merahnya yang sangat khas.

Kalau mau mendapatkan foto yang bagus sih disarankan datang kesini pagi-pagi, karena kalau siang dan malam hari suasananya dah kayak pasar. Lebih banyak berisi becak dan pedagang daripada turisnya kalau boleh saya bilang….  Oh ya, didekat tangga ada seorang wanita keturunan india yang menawarkan seni lukis henna. Mama dan anak-anak langsung pada minta dilukis deh tangannya.

  • St. Paul’s Hill

Dari Stadthuys, kita sedikit hiking menuju ke bukit st. Paul. Dinamakan demikian karena di puncak bukit ini terdapat reruntuhan gereja santo Paulus. Sejatinya tempat ini sebenarnya adalah sebuah kapel sederhana yang dibangun pada tahun 1521 oleh bangsawan Portugis, Duarte Coelho, sebagai ungkapan syukur setelah pelariannya dari badai di Laut China Selatan. Jadi Jika gereja Kristus Malaka di red square dibangun oleh Belanda, maka gereja santo Paulus ini aslinya dibangun oleh bangsa Portugis dan merupakan bangunan gereja tertua di Malaysia dan Asia Tenggara.

Bersamaan dengan penaklukan Melaka oleh Belanda pada tahun 1641, gereja ini sempat ditata ulang untuk penggunaan sebagai Gereja Reformasi Belanda sampai selesainya pembangunan Gereja utama yang baru di red square, atau lebih dikenal sebagai  Gereja Kristus Melaka yang selesai pada tahun 1753.

Gereja tua ini kemudian dialihkan untuk penggunaan sekuler dan bangunannya dimodifikasi dan diperkuat sebagai bagian dari benteng Melaka. Di tahun 1824 ketika Britania (Inggris) menduduki Melaka, gereja tersebut berubah fungsi lagi sebagai gudang mesiu dan dibiarkan memburuk lebih lanjut.

Sekarang ini gereja ini berdiri hanya tinggal tembok bagian luarnya saja. Didalamnya kita bisa melihat beberapa batu nisan kuno yang tulisannya dipahat dalam bahasa portugis. Sayang memang kondisi bangunan ini tampak tidak terawat, entah sengaja dibiarkan orisinil atau gimana.

  • Benteng A’Famosa

Dari puncak bukit, kita turun ke sisa benteng A’Famosa. Dulu benteng yang dibangun portugis di bawah perintah alfonso de abuquerque bertujuan untuk melindungi kota a’famosa (saat ini bernama melaka) dari serangan Belanda. Semula bentuknya berupa bangunan 5 lantai yang digunakan sebagai pertahanan portugis untuk kota yang didudukinya.

Selain faktor ketinggian bangunan, benteng ini juga dilengkapi dengan parit dan meriam-meriam besar sebagai kekuatan pertahanannya. Benteng ini menunjukkan keberhasilannya sebagai perlindungan portugis di melaka selama 130 tahun sebelum kejatuhannya. Konon kekalahan portugis sendiri bukan diakibatkan karena kemunduran kekuatan benteng, melainkan penyakit malaria dan kelaparan yang menjangkit saat itu.

Sama seperti gereja santo Paulus, sekarang ini benteng yang dulu sedemikian megahnya hanya tersisa reruntuhannya saja, dimana hanya hanya menyisakan sebuah gerbang dan meriam di depannya sisa 7 tahun menerima gempuran dari Belanda. Sisa gerbang kecil ini dinamakan dengan port de santiago. Nah port de santiago inilah yang sering dikenal oleh orang-orang sebagai benteng A’Famosa.

  • Taman Merdeka

Dalam perjalanan balik ke hotel, kita mampir sebentar ke taman Merdeka. Lokasinya berada persis didepan megamal Dataran Pahlawan. Ciri khas dari taman ini adalah replika pesawat terbang baling-baling dan kereta api yang tampak jelas terlihat dari luar.

Saat sore hari, banyak keluarga muda dari Malaysia yang main kesini. Karena selain taman yang cukup luas, disini juga terdapat children playground dan sarana outdoor sport yang gratis diakses siapa saja.

  • AyamTandoori pak Putra

Ada sebuah kedai makan yang populer di Malaka dan buka hanya di malam hari, yakni Ayam Tandoori Pak Putra di jalan Kota Laksamana, Malaka. Tentu saja sebagai pecinta kuliner wajib hukumnya untuk didatangi. Dari hotel, kita berjalan kaki yang cukup jauh kesana kurang lebih hampir 30 menit jalan santai menyusuri sungai Malaka. Tempat kedai makannya berupa 2 buah ruko gandeng, dimana sebagian besar meja makan berada dipinggir jalan raya.

Kita memesan nasi briyani, kari ayam, roti nan original & cheese dan ayam tandoori. Dibandingkan di Indonesia, soal rasa masakan khas india – Pakistan di Malaysia itu jauh lebih terasa bumbu rempah-rempahnya. Sama halnya disini, Kuah karinya ada yang berwarna kuning muda, kuning tua dan cokelat, yang semuanya bumbunya kerasa banget.

Ayam tandoori yang kami pesan 3 porsi untuk 11 orang, yang mana seporsinya itu gede banget potongannya. Ayam tandoori adalah ayam panggang olahan bumbu khas India. Cara masaknya adalah dimasukkan kedalam sejenis gentong tanah liat, dimana saya intip didalamnya terdapat semacam panggangan. Karena tukang masaknya semuanya berwajah India, mungkin mereka import bumbu-bumbunya langsung dari negaranya, sehingga tidak heran rasa rempah-rempahnya kerasa banget dilidah. Recommended deh….. 

  • Night Market Jonker Street

End of our the day ditutup dengan window shopping di night market sepanjang Jonker walk. Setiap malam Jumat dan malam Sabtu memang ditempat ini diadakan pasar malam di sepanjang jalan Hang jebat dan menjadi salah satu daya tarik utama kota Bandar Malaka.

Suasana sepi Jonker walk yang saya lihat di pegi hari mendadak berubah menjadi super ramai. Jalanan yang sebenarnya berukuran kecil ini menjadi penuh sesak oleh lapak para pedagang dan lautan manusia yang mendatanginya. Untunglah saya sempat kesini di pagi hari, jadi bisa santai dan tenang menikmati heritage tour sebelum menjadi hiruk pikuk dan riuh seperti ini.

Penjual – penjual di sini rata-rata peranakan. Ada yang lapaknya ramai, dan ada juga yang sepi. Barang dagangan yang dijual disini pernak-pernik, aksesoris pakaian, gantungan kunci / magnet, alat-alat elektronik sampai kaos-kaos khas Melaka untuk souvenir. Bagi yang doyan jajan juga disini surganya, meski menurut saya tidak ada menu kuliner spesial atau yang unik. Palingan disini saya hanya jajan manggo snow ice aja.

Sebetulnya kondisi pasar malam disini serupa dengan pasar malam di negara lain. Tapi Yang membuat pasar ini terasa unik menurut saya adalah keaneka ragaman bahasanya. Karena kota Malaka ini terdapat multi etnis yang tinggal disini (mulai dari bangsa Melayu, Cina, India, Indonesia, bule portugis, belanda, inggris, dan lain sebagainya), ditambah dengan turis mancanegara yang mendatangi pasar ini…. Alhasil aneka bahasa terdengar bersahut-sahutan disini. I feel like standing in a place with various world languanges! Haha2…. 

Share and Enjoy !

0Shares
0 0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *