Vietnam 2019, Day 6: Ba Na Hills

Berawal dari ketidak sengajaan saat melihat postingan IG kawan yang sedang liburan, dimana terlihat fotonya dengan background bangunan2 ala gotik abad 19 membuat saya sempat mengira dia liburan ke Eropa. Kemudian saya kaget ketika dia menjelaskan bahwa sebenarnya dia hanya liburan ke vietnam. Meski sempat tidak tidak percaya, tapi setelah melihat koleksi foto2nya dan mendengar penjelasan panjang lebarnya mengenai keindahan Ba Na Hills di Da Nang langsung membuat saya mantap mencari tiket ke Vietnam. Bukan Ho Chi Minh, bukan Hanoi, bukan juga Ha Long Bay sebagaimana destinasi wisata di vietnam pada umumnya, namun hanya kota Da Nang demi ke theme park ini.

This image has an empty alt attribute; its file name is DSCF3606-683x1024.jpg

Pagi hari dimulai menikmati secangkir teh bersama istri sembari melihat keindahan bangunan hotel yang berarsitektur gotik eropa ala abad 19 dari jendela kamar kami. Udara pagi itu begitu dingin, dan terlihat beberapa bule karyawan hotel tampak berjalan sembari ngobrol menyusuri gang, sehingga suara percakapan bahasa inggris samar2 terdengar di telinga kami. Kami yang belum pernah ke Eropa ini seakan tidak percaya bahwa saat ini kami hanya berada di Vietnam. Rasanya sudah tidak sabar untuk turun dan menyusuri tiap sudut dari theme park ini.

Pukul 8 tepat, kami keluar kamar dan berjalan menuju restoran yang terletak di sebelah lobby hotel Mercure untuk menikmati sarapan. Meski kami berlima, hotel ini tidak pelit dengan additional charge seperti halnya hotel2 di Indonesia. Menu sarapannya sangat bervariatif, mulai dari asian cuisine, western, local food, dan lain-lain. Namun karena kami muslim, terus terang agak ragu dengan ke-halal-annya. Istri saya bertanya ke salah satu karyawan bule disana, yang mana ternyata adalah manager restoran tersebut, mengenai pilihan menu non pork yang tersedia. Dengan ramahnya kami sekeluarga diajak ke ruang VIP, lalu dimohon menunggu untuk dimasakkan makanan yang non pork. Padahal tadinya sekedar nanya aja, tapi gak nyangka mereka memberikan perlakuan istimewa seperti ini mengingat saat itu memang hanya istri saya saja yang berhijab.

Setelah perut kenyang, kita mulai eksplorasi ke wilayah atas dari Sun World ini. Kami berjalan menyusuri jalan ke arah beer plaza, dimana disekitarnya terdapat toko-toko dengan aristektur klasik eropa dengan papan nama berbahasa perancis. Hampir tiap sudut theme park ini benar2 well design, fotogenik dan instagramable. Detailing bangunannya benar2 luar biasa. Rasanya pengen foto2 terus di setiap sudutnya.

Semakin jauh berjalan, kami semakin terhanyut ke dalam suasana kota Eropa. Di bagian tengah dari sun world ini terdapat bangunan yang menarik perhatian kami, yakni bangunan kastil gereja. Tempat ini merupakan spot wajib buat berfoto dan merupakan salah satu icon dari theme park ini. Sepintas saya kira gereja ini hanya sekedar bangunan untuk berfoto, tapi ternyata didalamnya terdapat aktivitas ibadah juga. Bahkan sering dibuat tempat pernikahan dan acara2 keagamaan umat kristiani.

Gak terasa hari pun semakin siang, namun enaknya udara pegunungan sama sekali tidak membuat kami berkeringat. Setelah menghabiskan setengah hari bekeliling di wilayah atas, kita mulai berjalan ke stasiun gondola morin untuk turun ke wilayah tengah dari sun world. Jika kemarin melihat french village ini saat hari sudah gelap, kali ini pemandangannya terlihat jelas keindahannya bangunan kastilnya.

Dari atas gondola ini saya baru menyadari ternyata wilayah atas itu belum semua di eksplorasi, padahal sudah menghabiskan setengah hari sendiri. Untung kita menginap 4 hari 3 malam, jadi masuk bucket list untuk esok hari.

Turun dari gondola di stasiun debay, langsung terlihat golden bridge. Jembatan besar yang seolah-olah dipegang oleh 2 tangan raksasa ini merupakan ikon tempat ini dan termasuk spot wajib untuk foto. Namun sayangnya ramai seperti cendol, jadi kita tidak akan pernah bisa dapat foto yang bagus disini. Tapi terlepas dari itu, pemandangan city view kota Da Nang dari jembatan ini sungguh menakjubkan.

Selanjutnya adalah menjelajahi kawasan taman bunga cantik di Jardin D’amor. Berbeda dengan wilayah atas yang view-nya berupa bangunan tematik dan area arcade, di wilayah tengah ini lebih ke tematik pemandangan alam, seni dan tanaman.

Dan ternyata lumayan luas juga, mulai dari wine museum, tram, taman bunga, chess park, patung budha, dll. Serupa seperti wilayah atas, hampir semua tempat menyajikan spot-spot kece untuk berfoto.

Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore, pengunjung pun mulai sepi. Meski sudah hampir seharian berkeliling sun world, tapi rasanya memang belum semuanya ter-explore. Kamipun kembali ke area atas dengan gondola dan jalan ke arah kamar hotel. Namun sebelumnya kita mampir dulu di indoor dino park.

Indoor dino park atau mereka menamakannya “Back to Jurassic”, merupakan wahana patung robot dinosaurus. Semua robot dino-nya statis, alias tidak bergerak. Paling hanya mulutnya aja yang mangap2 dan ekornya yang gerak dikit. Kalau dibandingkan dengan Dino park di Jatim Park 3 sih jelas bagusan disana. Tempatnya sendiri gak begitu luas, tapi lumayanlah menghibur anak-anak. Toh gratisan juga untuk masuknya….
Setelah kita keluar dari masa lampau, kita kembali ke kamar hotel untuk beristirahat. Oh ya, karena disini kebanyakan menu makanannya diragukan kehalalannya, kita memesan kebab ayam untuk makan siang dan malam. Lokasinya berada dekat dengan gereja. Sejauh ini memang kita baru nemu stand makanan tersebut aja… mudah2an besok adalagi yang bisa ditemukan.

Share and Enjoy !

0Shares
0 0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *